(Economic Downturn / Dok.Internet) |
Lpmvisi.com, Solo – Barangkali kita sudah bosan dengan tiga kata yang hampir setiap hari didengar generasi saat ini: "in this economy.” Kalimat tersebut kerap diikuti komparasi dan persuasi untuk hidup frugal alias sederhana. Salah satu bentuknya yang paling sering lewat di linimasa adalah perbandingan semacam "Di kondisi sekarang, beli produk A lebih worth it daripada B.” Dalam ranah pemasaran, kata-kata itu kemudian dijadikan bahan untuk promosi atau affiliate. Akibatnya, banyak produsen berlomba-lomba menawarkan harga paling terjangkau meski harus mengorbankan kualitas produknya.
Namun, itu bukanlah ironi yang sebenarnya. Banyak orang tidak menyadari bagaimana sistem yang ada menjadikan krisis ekonomi sebagai beban yang harus ditanggung masyarakat biasa. Di sisi lain, ada segelintir pihak yang dibiarkan menimbun kekayaan dalam jumlah yang tidak terbayangkan. Kalimat “in this economy” mempersempit pemikiran kita terhadap sebuah permasalahan struktural, seolah keputusan untuk memilih produk A daripada B akan segera menyelesaikan krisis yang ada.
Beberapa waktu lalu, ada sebuah berita tentang pengemudi ojek online yang meninggal karena kelelahan setelah menghasilkan Rp8.000,00 dalam satu hari. Pada saat yang sama, seorang crazy rich menghabiskan 700 juta rupiah untuk pesta satu malam. Keduanya seolah-olah hidup di dua dunia yang berbeda meski berada di negara yang sama dengan sistem ekonomi yang sama pula. Jika narasi “in this economy” merefleksikan kondisi yang ada, mengapa masih terdapat gap yang membuat krisis ini tidak dirasakan secara merata?
Terdapat sejumlah persoalan yang lebih layak disuarakan daripada sekedar kalimat yang pada akhirnya menjadi retorika semata. Mengapa upah minimum tetap stagnan ketika biaya hidup naik drastis? Mengapa akumulasi kekayaan mereka yang di atas tidak dianggap sebagai bagian dari krisis itu sendiri? Pertanyaan tersebut dapat terjawab apabila “in this economy” tidak lagi dibingkai sebagai justifikasi untuk menyalahkan pilihan seseorang, melainkan sebagai desakan untuk menuntut akuntabilitas struktural dari mereka yang menciptakan ketimpangan. (Rara)
0 Komentar