(Pertunjukan Wayang Golek Menak di Car Free Night Kebumen/Dok.VISI/Zaza)
Lpmvisi, Kebumen — Pertunjukan Wayang Golek Menak bertajuk Sayembara di Rumburdangin memukau pengunjung Car Free Night Kebumen yang digelar di Alun-Alun Kebumen, Sabtu (4/7). Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut dibawakan oleh Sanggar Tari Langen Beksa dengan mengangkat kisah Wayang Golek Menak, salah satu warisan budaya khas Kabupaten Kebumen.
Sebelum memasuki pertunjukan inti, penonton terlebih dahulu disuguhkan sejumlah tari pembuka, salah satunya Tari Lawet. Tarian yang menjadi ikon budaya Kebumen tersebut merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat atas kekayaan alam daerahnya. Melalui gerakan yang lincah dan ceria, para penari menggambarkan karakter burung lawet yang selama ini menjadi salah satu identitas Kabupaten Kebumen.
Setelah penampilan tari pembuka, pertunjukan berlanjut dengan sendratari Sayembara di Rumurdangin. Pementasan tersebut mengisahkan cerita yang berasal dari tradisi Wayang Golek Menak dan dikemas melalui perpaduan seni tari, drama, serta iringan musik gamelan yang menarik perhatian para pengunjung yang hadir.
Salah satu pemeran dalam pertunjukan tersebut, Fijar yang berperan sebagai Raden Jayengrono, menjelaskan bahwa pementasan malam itu mengangkat kisah Sayembara di Rumurdangin yang berasal dari tradisi Wayang Golek Menak, kesenian khas Kabupaten Kebumen. Menurutnya, pertunjukan tersebut bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Kebumen memiliki tradisi wayang tersendiri yang menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.
Fijar menjelaskan bahwa kisah yang diangkat merupakan akulturasi antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Selain mengandung unsur dakwah, cerita tersebut juga memuat berbagai pesan moral, seperti pentingnya menggunakan ilmu dan kedudukan secara bijaksana serta tidak bersikap sewenang-wenang terhadap orang lain. Melalui pementasan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Salah satu keunikan dari pementasan ini terletak pada konsep pertunjukannya. Jika Wayang Golek Menak pada umumnya dimainkan menggunakan wayang berbahan kayu, kisah Sayembara di Rumurdangin kali ini ditampilkan melalui sendratari yang diperankan langsung oleh manusia. Fijar menjelaskan bahwa transformasi tersebut merupakan inovasi baru dalam pengembangan Wayang Golek Menak Kebumen. Keunikan konsep itu kemudian memperoleh pengakuan berupa Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen.
Dalam proses persiapannya, para pemain menjalani latihan selama kurang lebih dua bulan. Fijar mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi para pemeran adalah menyesuaikan gerak tubuh manusia dengan karakter wayang golek yang cenderung kaku. Para pemain dituntut tetap menampilkan gerakan yang menarik dan dinamis, namun tetap mempertahankan ciri khas gerak wayang yang menjadi identitas pertunjukan.
Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan tersebut juga terlihat dari banyaknya pengunjung yang menyaksikan hingga akhir acara. Salah satu pengunjung, Qonita, warga asli Kebumen, mengaku terkesan dengan seluruh rangkaian penampilan yang disajikan. Menurutnya, kolaborasi antara penari, sinden, dan pengiring gamelan mampu menghadirkan pertunjukan yang harmonis dan memukau sehingga mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Qonita menilai penampilan Wayang Wong berbasis cerita Wayang Golek Menak menjadi salah satu sajian yang paling menarik perhatian. Ia mengaku baru mengetahui adanya transformasi pementasan Wayang Golek Menak yang biasanya menggunakan wayang berbahan kayu menjadi pertunjukan yang diperankan langsung oleh manusia. Baginya, inovasi tersebut menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menambah wawasannya mengenai kekayaan budaya daerah.
“Aku jadi ngerasa lebih bangga sama budaya sendiri, terutama karena aku asli Kebumen. Dengan adanya acara ini, masyarakat bisa semakin sadar akan budaya yang ada di Kebumen dan bersama-sama melestarikannya agar tidak hilang di tengah arus globalisasi,” ujar Qonita.
Ia juga menyambut baik penyelenggaraan pertunjukan budaya yang rutin digelar dalam rangkaian Car Free Night Kebumen. Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memiliki peran penting sebagai sarana memperkenalkan sekaligus melestarikan kesenian daerah, khususnya kepada generasi muda.
Di akhir wawancara, Fijar berharap masyarakat dapat terus menjaga, mengenal, dan melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Kebumen. Ia menekankan bahwa tradisi yang diwariskan oleh para leluhur tidak seharusnya ditinggalkan, melainkan dapat hidup berdampingan dengan budaya modern sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam mengenalkan dan mempromosikan kesenian daerah menjadi langkah penting agar Wayang Golek Menak dan berbagai tradisi lokal lainnya tetap lestari serta mampu berkembang di tengah arus globalisasi. (Rizka dan Zaza)

0 Komentar