POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Frugal Living atau Emang Lagi Miskin? Sisi Gelap Di Balik Dompet Mahasiswa Hari Ini

(Ilustrasi menabung/Dok. Unsplash)
 
Lpmvisi.com, Solo - Belakangan ini, kita sering menemukan konten tentang frugal living atau seni hidup hemat. Konten-konten itu dikemas dengan estetika visual yang rapi: porsi makan yang diatur ketat, belanja mingguan yang super irit, sampai tips menabung ekstrem. Bagi sebagian orang yang sudah mapan, gaya hidup ini mungkin sebuah pilihan finansial yang bijak. Namun, mari kita jujur pada realitas di sekitar kampus: bagi mayoritas mahasiswa hari ini, frugal living bukanlah sebuah tren estetis, melainkan sebuah kewajiban mutlak agar tidak kelaparan di tanah perantauan. 
 
Krisis Dompet Mahasiswa Bukan Sekadar Ilusi
Sadar atau tidak, hidup sebagai mahasiswa di tengah situasi ekonomi saat ini terasa semakin mencekik. Kita sedang dihadapkan pada efek domino ekonomi makro yang dampaknya langsung terasa di dompet. Di satu sisi, harga menu warteg langganan pelan-pelan merangkak naik, tarif sewa kosan melonjak, dan biaya print tugas atau kuota internet tidak pernah kompromi. 
 
Di sisi lain, jumlah kiriman orang tua cenderung stagnan atau bahkan berkurang karena ekonomi keluarga di rumah juga sedang terengah-engah menghadapi inflasi. Akibatnya, mahasiswa dipaksa menjadi manager keuangan dadakan yang harus memutar otak dua kali lebih keras. Memilih antara membeli buku referensi kuliah atau tetap makan untuk tiga kali ke depan kini menjadi dilema nyata, bukan lagi sekadar guyonan. 
 
Ironi Romantisasi Mi Instan di Akhir Bulan
Hal yang paling miris dari fenomena ini adalah bagaimana lingkungan sosial kita sering kali meromantisasi penderitaan mahasiswa. Makan mie instan setiap menjelangi akhir bulan, mematikan lampu kos demi hemat listrik, atau berjalan kaki berkilo-kilometer demi hemat ongkos sering dianggap sebagai “bumbu penyedap” masa-masa kuliah yang wajar. Ada glorifikasi tersembunyi yang menganggap bahwa untuk menjadi sarjana yang tangguh, seorang mahasiswa harus melewati fase “menderita secara finansial” terlebih dahulu.
 
Padahal, jika kita bedah lebih dalam, ini adalah alarm keras atas krisis daya beli di kalangan anak muda. Ketika seorang mahasiswa harus memotong nutrisi makanannya demi membayar biaya kuliah, yang terancam bukan cuma fokus belajarnya, tapi juga kesehatan fisiknya. Meromantisasi kemiskinan struktural sebagai “seni hidup hemat” adalah cara kita menutup mata dari realitas bahwa fasilitas dan biaya hidup bagi penuntut ilmu sudah tidak lagi ramah kantong. 
 
Mahasiswa hari ini dituntut untuk menjadi penggerak masa depan, namun bagaimana mereka bisa berpikir kritis tentang bangsa jika isi kepala mereka setiap hari dipenuhi kecemasan tentang “besok bisa makan atau tidak?” 
 
Sudah saatnya pihak birokrasi kampus dan pemangku kebijakan memberikan perhatian lebih, entah melalui transparansi subsidi UKT, penyediaan kantin murah yang bergizi, atau akses kerja paruh waktu yang manusiawi di lingkungan kampus. Menjadi hemat karena kesadaran itu keren, tapi dipaksa hemat karena keadaan yang menjepit adalah sebuah ironi yang harus segera dihentikan. Jadi, untuk kamu yang sedang menghitung sisa uang koin di atas meja kosan malam ini: kamu tidak sedang tren frugal living, kamu hanya sedang bertahan hidup di sistem yang sedang tidak baik-baik saja. (Natya)

Posting Komentar

0 Komentar