(Ilustrasi Kesenjangan / Dok. ArchDaily Internet) |
Lpmvisi.com, Solo — Sebelum meninjau lebih jauh bagaimana fortress city dapat terjadi, kita perlu mengetahui apa itu globalisasi dan bagaimana globalisasi dapat menciptakan jurang kesenjangan di tengah-tengah masyarakat. Globalisasi merupakan proses penyebaran ide, pengetahuan, informasi, barang, dan jasa ke seluruh dunia yang didorong oleh pembauran sistem budaya dan ekonomi. Dewasa kini, globalisasi juga mengikis batas jarak dan batas waktu bagi individu atau kelompok di setiap bidang kehidupan.
Globalisasi membentuk pola interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan politik baru, memperluas jaringan transportasi dan komunikasi, membuka kesempatan perdagangan bebas, hingga membangun struktur keuangan global baru. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri jika globalisasi juga memiliki konsekuensi negatif dalam kehidupan masyarakat global. Salah satunya adalah globalisasi mendorong arus investasi asing langsung (foreign direct investment), tetapi investasi ini cenderung terpusat di kota-kota besar atau wilayah yang sudah maju infrastruktur dan regulasi yang menguntungkan. Akibatnya, investasi tidak tersebar secara merata dan daerah terpencil sering tertinggal karena kurang menarik bagi investor.
Hal di atas semakin diperparah dengan adanya gentrifikasi. Gentrifikasi merupakan sebuah proses perubahan kawasan kota yang sebelumnya dihuni oleh masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi wilayah dengan nilai ekonomi tinggi akibat masuknya kelompok kelas menengah atas atau investor properti. Meskipun perubahan ini membawa dampak yang menguntungkan karena dilakukannya perbaikan terhadap wilayah, tetapi proses yang sama justru membawa kesenjangan dan menggeser masyarakat kelas menengah ke bawah karena adanya tata kelola yang kurang tepat hingga muncul fenomena yang dinamakan ‘fortress city’.
Fenomena ‘fortress city’ merupakan istilah yang diungkapkan oleh Zygmunt Bauman untuk menggambarkan kota-kota besar, khususnya di negara berkembang. Fortress city merujuk pada tempat dengan kesenjangan yang besar di mana kelompok masyarakat kaya “menyembunyikan diri” di dalam lingkungan eksklusif atau gated community dan kelompok masyarakat miskin tinggal di daerah kumuh atau slum area. Fenomena ini dapat menjadi bukti nyata adanya konsekuensi negatif dari globalisasi yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Layaknya sebuah benteng yang menjadi tempat untuk membatasi dan melindungi diri dari serangan eksternal, fortress city menggambarkan bagaimana masyarakat di kota-kota besar hidup dengan segregasi dan batas kesenjangan yang nampak dengan jelas, seperti kawasan elit yang berdampingan bahkan berbagi tembok yang sama dengan kawasan kumuh. Melalui fenomena ini terlihat bagaimana globalisasi tidak hanya menghapus batas interaksi antarnegara, tetapi juga batas jarak antara masyarakat sekaligus memperlebar jurang kesenjangan.
Selain menjadi representasi kesenjangan ekonomi masyarakat, fortress cities juga hadir dalam aspek lain yang tidak dapat dipisahkan dari globalisasi yakni teknologi. Hampir seluruh segmen masyarakat menggunakan dan bergantung dengan adanya teknologi, tetapi dapat kita lihat di kota-kota besar hanya segelintir masyarakat saja yang bisa merasakan kehadiran teknologi tanpa perlu mengorbankan usaha dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Sebaliknya, masyarakat kelas bawah menghadapi hambatan struktural berupa terbatasnya akses internet, kemampuan mengakses informasi, serta keterbatasan untuk melakukan mobilisasi dengan bantuan teknologi. Hal ini berarti fortress cities tidak hanya memisahkan secara fisik, tetapi juga menciptakan batasan tak terlihat yang memisahkan masyarakat dunia menjadi kelompok yang ‘terhubung’ dan ‘tidak terhubung’.
Dalam perkembangan globalisasi yang semakin cepat dan inovatif, sudah seharusnya tercipta sebuah kondisi yang dapat menjembatani kelompok masyarakat dengan berbagai latar belakangnya, bukan justru membentengi interaksi antarmasyarakat. Untuk menciptakan integrasi yang saling menguntungkan dan konstruktif, diperlukan kontribusi dari berbagai pemangku kepentingan dan penguatan masyarakat dari segi pendidikan, ekonomi, dan sosial sehingga jurang kesenjangan yang tercipta dapat terkikis tanpa memperlambat laju globalisasi. Dengan demikian, akan lebih banyak dampak baik dari adanya globalisasi yang dapat dirasakan oleh semua masyarakat tanpa terkecuali.
0 Komentar