Minggu, 12 Mei 2024

Laskar Adat Betawi Peragakan Seni Pencak Silat di Panggung Semarak Budaya Indonesia 2024

(Penampilan Tari Tradisional di Malam Pagelaran Seni (11/5) / Dok. Ayesa)

Lpmvisi.com - Ajang tahunan Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2024 sukses digelar di Balaikota Surakarta pada Jumat dan Sabtu (10-11/5). Acara yang bertujuan untuk membangun ruang apresiasi bagi generasi seniman sekaligus mengenalkan kesenian Indonesia kepada masyarakat ini mengusung tema “Gelar Imaji Nusantara”. Berkat dukungan dari berbagai pihak, acara ini berhasil menghadirkan ragam hiburan yang menjadi sarana untuk melestarikan budaya lokal.


Dari semua rangkaian kegiatan yang ada, Malam Pagelaran Seni menjadi puncak acara yang dinanti-nantikan masyarakat setempat. Berbagai sanggar dari kota-kota besar di Indonesia turut meriahkan panggung utama Semarak Budaya Indonesia dengan menyuguhkan berbagai tarian-tarian tradisional.


Salah satu penampilan yang berhasil memukau penonton ialah Pencak Silat dari perguruan silat Laskar Adat Betawi yang berada di bawah naungan Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi. Bamus Betawi merupakan sebuah organisasi yang mengayomi seluruh elemen masyarakat Betawi, seperti organisasi, perguruan, dan lain sebagainya. Bamus Betawi merupakan wadah bagi segenap masyarakat Betawi untuk berhimpun yang memperjuangkan hak-hak dan kepentingan serta memajukan kesejahteraan Masyarakat Betawi.


Penampilan yang satu ini menjadi cukup berkesan di mata penonton karena keunikannya yang berbeda dengan panggung lainnya. Pertunjukkan tersebut merupakan demonstrasi dari tradisi ‘Maen Pukul’ atau ‘Sambut Pukul’, yang biasanya dipakai dalam acara ‘palang pintu’ dalam pernikahan adat Betawi. Dalam budaya Betawi, ketika seorang laki-laki ingin menikahi perempuan yang disukainya, maka ia harus ‘merobohkan’ jawara atau jagoan dari perempuan tersebut. Apabila pengantin pria gagal, maka pernikahan tidak bisa dilakukan. 


Penampilan ini secara implisit memberi tahu penonton bahwa Pencak Silat bukan hanya sebuah cabang olahraga atau bela diri, tetapi juga menjadi warisan budaya dan memiliki nilai seni yang layak dijadikan tontonan. “Kalau pencak silat kan masuk ke dalam Dinas Kebudayaan, jadi masuk sebagai olahraga. Kalau bicara kesenian, kita juga bisa masuk seni budaya karena jurus-jurus di pencak silat itu berbeda-beda dan unik,” pungkas Hasbi Yallah (39), salah satu ‘jawara’ yang tampil.


Dengan dipimpin oleh para guru yang berpengalaman dan diikuti oleh pemain yang bersemangat, Laskar Adat Betawi mempersembahkan serangkaian gerakan yang memukau, meliputi teknik pukulan, tendangan, dan kelincahan dalam pergerakan tubuh yang dinamis. “Karena yang tampil saat pertunjukan tadi adalah guru-guru dari perguruan masing-masing. Jadi, kalau tentang gerakan, mereka pasti jauh lebih paham, sehingga kita tinggal menyelaraskan dan menyatukan gerakan-gerakan mereka saja dengan latihan-latihan,” ujar pria yang akrab disapa Abi itu.


(Penampilan Pencak Silat dari Laskar Adat Betawi / Dok. Alya)

Selain menjadi hiburan, penampilan ini juga menyoroti pentingnya melestarikan seni bela diri tradisional sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya sebuah bangsa. Laskar Adat Betawi bukan hanya sekadar perguruan pencak silat, melainkan juga penjaga dan pewaris sebuah warisan budaya yang berharga. “Harapan ane selaku pelestari dan penggiat budaya, ingin anak-anak muda Indonesia lebih mencintai budayanya sendiri dibandingkan budaya orang lain sebelum diambil oleh orang lain. Itu yang mau kita jaga,” pungkas Abi. (Alya, Syeikha)



SHARE THIS

0 Comments: