Kamis, 14 April 2022

Mengupas Cara Agar Tak Sembarang Berbicara, Dalam Buku “Bicara Itu Ada Seninya”

Judul  : Bicara Itu Ada Seninya | Penulis  : Oh Su Hyang | Penerjemah : Asti Ningsih |Penerbit   : Penerbit Bhuana Ilmu Populer | Halaman  : 238 halaman | Cetakan ke  : 12 (2019) | ISBN : 978-602-455-392-0

(Dok. Internet)

 Oleh: Salsabila Mahdiyyah

       Judul asli buku ini adalah 'The Secret of Mastering the Art of Speech', yang kemudian diterjemahkan pertama kalinya pada tahun 2018. Buku ini menjelaskan cara-cara agar seseorang bisa melakukan sebuah komunikasi yang baik.

Oh Su Hyang membuka buku ini dengan sebuah prolog yang berjudul “Membuka Peluang Kesempatan Dengan Kebiasaan Bicara”. Disini, dia menegaskan bahwa sebutan “Buta Nada” di bidang musik juga ditemui di dalam aktivitas berbicara, yang kemudian disebut “Buta Ucapan”. Mereka adalah orang yang merusak suasana dengan ucapan yang tidak sesuai dengan tempatnya. Kebanyakan orang tidak mengetahui bagaimana metode komunikasi yang efisien untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi. Menurutnya, siapapun bisa meningkatkan kemampuannya asalkan mau berusaha (Oh Su Hyang, 2018). Maka dari sanalah, dia kemudian menghasilkan buku ini yang berisi kumpulan metode berbicara.

Memiliki ketebalan sebanyak 238 halaman, buku ini kemudian dibagi menjadi lima bab yang berisi bahasan berbeda di setiap babnya. Oh Su Hyang membuka dan menutup setiap babnya dengan kutipan motivasi yang bisa menggerakkan hati pembacanya. Bab pertama menjelaskan bahwa ucapan akan memberikan kesan pertama terhadap orang yang baru ditemui. Kemudian, di bab kedua, penulis menjabarkan tentang rumus terapi komunikasi. Lebih lanjut, dalam bab kedua ini, dia juga menjelaskan tentang teknik membujuk yang ampuh, negosiasi, serta inti dari perdebatan adalah mendengar lawan bicara. 

Bab ketiga membahas tentang teknik ucapan yang bisa membuat lawan bicara memihak pada kita, seperti judul bab ini. Lalu pada bab keempat, Oh Su Hyang ingin membuat para pembacanya sadar bahwa setiap orang memiliki titik start yang sama dalam hal bicara komunikatif. Karena, kemampuan berbicara bukan sesuatu yang dianugerahkan kepada manusia sejak lahir. Dan bab kelima menjadi bagian terakhir dalam buku ini. Bab ini membahas tentang pengalaman Oh Su Hyang dengan teknik-teknik mengolah suara, di sini, dia turut menuliskan kisah-kisah tokoh publik Korea Selatan yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Melalui visualisasinya ini, Oh Su Hyang berharap bisa memberikan inspirasi kepada pembaca.

Contoh-contoh realistis yang diberikan Oh Su Hyang juga disertai penjelasannya yang dirangkai dengan penuh makna juga membuat para pembaca memiliki gambaran yang jelas. Selain itu, beberapa solusi yang dituliskan Oh Su Hyang juga turut bisa diimplementasikan secara langsung, sehingga pembaca bisa turut mempraktekkan apa yang ditulis oleh Oh Su Hyang. Meskipun mayoritas tokoh-tokoh inspiratif yang dituliskan adalah tokoh Korea Selatan, sehingga mungkin terasa tidak familiar bagi pembaca di luar Korea, buku karya Oh Su Hyang ini tetap memiliki daya tarik kuat untuk dibaca. Terutama bagi mereka yang ingin mempelajari dan mendalami dunia komunikasi dengan baik.

Mempraktekkan beberapa hal yang dituliskan Oh Su Hyang, secara tidak sadar mungkin bisa menambah kemampuan kita dalam berkomunikasi. Semua kalangan yang ingin mempelajari teknik berkomunikasi yang baik cocok untuk membaca buku ini.



SHARE THIS

0 Comments: