Jumat, 18 Februari 2022

Rangkaian Perayaan HUT Solo Ke-277 Dibarengi Antusiasme dan Harapan Baru Dari Masyarakat

 
Potret saat Pemkot Solo mengenalkan layanan baru berupa perpustakaan keliling di Balai Kota Solo Kamis (17/02/2022). (Dok. Mita)

Lpmvisi.com, Solo - Halaman Balai Kota Solo tampak meriah dengan hadirnya peserta upacara perayaan HUT Solo ke-277 pada Kamis (17/02/2022). Kondisi cuaca yang mendung tak menyurutkan niat serta antusiasme peserta untuk tetap melaksanakan upacara sebagai salah satu rangkaian HUT Solo ke-277. Upacara berlangsung secara khidmat. Para peserta yang hadir dari pegawai, pejabat pemerintah kota, maupun perwakilan pelajar yang diundang kompak memakai pakaian adat Jawa.

Sebelum masuk dalam rangkaian utama upacara, petugas menyampaikan sejarah singkat mengenai asal-usul eksistensi Kota Solo. Bahwa tepat pada tanggal 17 Februari 1745, Kota Surakarta berdiri di sebuah desa bernama Sala. Tonggak penting dalam sejarah peringatan hari jadi Surakarta adalah beralihnya kekuasaan dari Kartasura ke Solo setelah pemberontakan RM Garendi yang berhasil menghancurkan Kerajaan Mataram saat itu. Dari sinilah, setiap tanggal 17 Februari diperingati sebagai hari lahir dan berdirinya kota Surakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Kota Solo.

Setelah sejarah singkat Kota Solo diceritakan, giliran Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa menyampaikan sambutannya. Ia mengatakan bahwa adanya pandemi ini memang menyulitkan interaksi dan kegiatan masyarakat di bidang manapun, utamanya sektor pendidikan. Minimnya kegiatan pembelajaran secara tatap muka berdampak dengan menurunnya minat belajar siswa. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Solo memiliki terobosan baru, yakni menyediakan perpustakaan keliling untuk meningkatkan minat baca dan belajar anak-anak.

“Ini adalah inovasi yang kita lakukan, mendekatkan pelayanan ke masyarakat,” jelas Teguh. Hal itu disampaikan dengan maksud memudahkan masyarakat, terutama pelajar agar tetap mendapat kemudahan literasi.

Inovasi lain dari perpustakaan keliling yang merupakan kerjasama Pemerintah Kota Solo dengan Yayasan Imeco Bhakti Nusantara adalah penggunaan energi listrik pada kendaraan yang digunakan.

“Perpustakaan keliling adalah inovasi yang dicanangkan pemerintah dengan mengacu pada peraturan internasional dalam Perjanjian Paris tentang pengurangan emisi karbon,” ungkap Ari Cahyono, Produser kendaraan listrik perpustakaan keliling.

Tak hanya inovasi dalam dunia pendidikan saja, pemerintah setempat juga melakukan inovasi pada layanan e-KTP dan Kartu Identitas Anak (KIA) dengan konsep drive thru. Kepala Dinas Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Solo, Yuhanes Pramono, mengatakan gagasan tersebut mencontek layanan gerai makanan cepat saji.

Untuk mengakses layanan tersebut, masyarakat terlebih dahulu menginstal aplikasi Dukcapil Dalam Genggaman yang telah ditambah fitur Layanan Tanpa Turun (Lantatur). Pengguna dapat langsung masuk ke aplikasi menggunakan identitas pribadi untuk kemudian melakukan pengunggahan berkas yang nantinya akan diverifikasi petugas. Layanan ini dapat diakses tepat setelah perayaan HUT Solo. Hal ini tentunya menjadi terobosan baru di tengah pandemi dan semakin memudahkan pelayanan administratif masyarakat.

Usai penyampaian sambutan dan pengenalan layanan terbaru untuk masyarakat, Teguh kembali berbicara untuk menyampaikan pesan kepada warga Solo agar senantiasa menjaga kesehatan karena pandemi belum usai. Tak lupa, beliau meminta doa untuk kesembuhan La Lembah Manah, putri Gibran yang tengah sakit. Hal itu pula yang menjadi alasan dibalik ketidakhadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo.

Salah satu pemain Gita Pamong Praja, Devina (19), mengaku bahwa dirinya bangga diikutsertakan untuk turut memeriahkan upacara hari jadi kota kelahirannya.

“Aku ikut upacara sama tim lain sering, empat sampai lima kali. Tapi tetap bangga bisa berpartisipasi dan lihat tarian dari Wayang Orang Sriwedari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo. Rasanya eksklusif gaperlu nonton live streaming YouTube,” ujarnya saat dihampiri VISI setelah upacara dibubarkan.

Selain Devina, VISI juga mewawancarai Sari (40) dan bertanya mengenai harapannya untuk Kota Solo. Perempuan paruh baya itu mengatakan bahwa dirinya berharap Kota Solo bisa terus maju, dengan melestarikan kegiatan yang dibalut adat Jawa sehingga masyarakat tidak melupakan budaya leluhur yang ada.

Meski masih berada di tengah pandemi yang tak kunjung usai, harapan dan rasa rindu untuk mengikuti acara secara langsung sangat dirasakan oleh Sari. “Kangen jelas sekali. Dengan ikut acara seperti ini, rasanya hidup sebelum pandemi ada,” tuturnya.

Tak hanya berhenti sampai upacara saja, Festival Jenang dan Kirab Boyong Kedhaton turut hadir memeriahkan rangkaian acara perayaan HUT Solo meski dalam keterbatasaan keadaan. Festival Jenang dilaksanakan di Ngarsapura dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Aneka ragam jenang dibagikan kepada masyarakat.

“Sebagai simbol budaya dan lekat dengan kehidupan masyarakat, jenang harus dilestarikan,” jelas Ahyani, Sekretaris Daerah Kota Solo.

Kirab Boyong Kedhaton juga digelar dari halaman Benteng Vastenburg hingga halaman Balai Kota Solo. Kirab Boyong Kedhaton sendiri mengisahkan perpindahan Kartasura ke Solo dengan iringan yang dihiasi dengan tarian kolosan dan penghantaran yang dilakukan oleh sembilan perempuan.

“Perayaan ini kami batasi untuk 100 orang saja. Namun pembatasan tersebut tidak mengurangi esensi dari Kirab Boyong Kedhaton sendiri,” ungkap Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa.

Sebagai penutup pada rangkaian acara, diselenggarakan Opera Kolosal “Adheging Kota Solo” yang menceritakan sejarah berdirinya kota Solo. Acara yang dilaksanakan pada malam sekitar pukul 20.00 WIB itu dapat disaksikan oleh semua kalangan, baik pejabat maupun masyarakat umum Solo.

Opera ini merupakan bagian dari salah satu cerita sejarah yang bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang kisah berdirinya Kota Solo. Dengan adanya opera yang ditampilkan di Balai Umum ini, atmosfir masyarakat yang sangat antusias menyaksikan sangat terasa meskipun harus duduk secara lesehan di halaman Balai. Acara dibuka dengan narasi berbahasa Jawa diiringi gamelan yang menambah suasana dramatis.

Salah satu pengunjung yang tertarik dengan Opera Kolosal, Irsa (20), mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) mengaku tak sengaja datang karena melihat tempat tersebut ramai dari kejauhan.

“Niatnya cuma mau cari angin, tapi kok pas lewat balai kota ramai banget, jadi tertarik. Seneng deh dapat kesempatan kayak gini pas di Solo,” ungkapnya saat diwawancarai VISI setelah pertunjukan selesai pukul 21.00 WIB.

Irsa juga menyatakan bahwa dia hanya pendatang dari Jogja. Namun, ia juga berharap akan kemajuan Kota Solo sebagai kota budaya. Ia sangat senang akan toleransi dan keramahan warga Solo yang menerimanya sebagai pendatang. (Mita)


SHARE THIS

0 Comments: