Monday, December 26, 2016

Uang Baru dan Keinginan Mencari Tahu

(Dok. Internet)

Oleh: Iim Fathimah Timorria

Saya merasa bahagia dan tertampar di saat bersamaan meyambut kehadiran uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2016. Kebahagiaan saya cukup spesial. Pasalnya, beragam wajah pahlawan dari Tanah Rencong hingga ke Bumi Cendrawasih kini mewarnai lembaran Rupiah kita. Pemerintah seolah tengah mengakomodir keberagaman pahlawan nasional yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia. Sementara itu, perasaan nyelekit menyapa saya sedetik kemudian mendapati diri yang tidak benar-benar mengenal sebagian besar pahlawan-pahlawan itu. “Ealah... Begini kamu ngaku sebagai bangsa yang besar, Im? Belajar lagi sana!” titah kalbu saya menohok hingga ke ulu hati.

Saya akan cepat menghapali figur Soekarno dan Hatta yang tidak pernah alfa menghiasi uang pecahan seratus ribuan meskipun jarang menyentuhnya. Alasannya sederhana, seumur hidup saya, uang seratus ribu selalu dua tokoh proklamator itu gambarnya. Selama belasan tahun mengenyam pendidikan, nama kedua sosok tersebut juga abadi dalam buku teks pelajaran yang saya baca. Hal sebaliknya terjadi ketika saya mendapati nama Frans Kaisiepo, Dr. K. H. Idham Chalid, Mr. I Gusti Ketut Pudja, Letjen TNI T. B. Simatupang dan Prof. Dr. Ir. Herman Johannes. Nama-nama tersebut begitu asing di telinga saya, begitu baru sampai-sampai saya bersusah payah berselancar di dunia maya untuk sekedar tahu secuil latar belakang mereka.

Tidak semua orang merespon munculnya sosok-sosok — yang terasa asing — di uang Rupiah emisi baru dengan cara mencari tahu. Sebagian mungkin menganggapnya biasa saja, sebagian mungkin menunggu penjelasan dari yang lain tanpa diminta, dan sebagian lain memilih untuk memperbarui status di media sosial mereka, berargumen asal, membuat keributan, hingga menghina tokoh-tokoh tersebut seenak perutnya.

Mulai dari analisis kosong soal desain uang Rupiah emisi baru yang katanya mirip Yuan, ciutan perihal foto Tjut Meutia yang tanpa jilbab, hingga wajah Frans Kaisiepo yang menurut komentar manusia dungu di luar sana, maaf, mirip manusia prasejarah. Yang terakhir ini saya hanya bisa geleng-geleng kepala sembari mengutuk dan berdoa semoga dia bisa memperoleh kesempatan berkunjung ke museum purba di Sangiran. Alasannya? Biar dia tahu bedanya Meganthropus paleojavanicus dengan manusia yang turut berkontribusi menjadikan Papua masih bersama Ibu Pertiwi.

Saya jadi teringat semasa kecil dulu diberi uang oleh ibu saya untuk berbelanja ke warung di dekat rumah. Namanya juga anak kecil yang jarang pegang uang pecahan besar, uang sepuluh ribuan pun terasa asing bagi saya. “Mah, siapa perempuan ini?” tanya saya saat itu sambil menuding ke sosok wanita anggun tidak berjilbab di uang yang saya pegang. Ibu saya lantas menjawab dengan singkat bahwa itu adalah Tjut Njak Dhien, salah satu pejuang dari Aceh. Jawaban itu saya ingat-ingat sampai saya nyaris lupa ibu saya tadi minta dibelikan apa.

Kejadian itu terjadi belasan tahun lalu ketika balada media sosial dan internet belum populer. Informasi-informasi yang diperoleh kalau bukan dari orang tua, guru, berita, ya dari sumber bacaan. Pun ketika ingin memperoleh informasi sederhana seperti siapa tokoh di uang sepuluh ribu. Jadi ketika saya mendapati netizen beramai-ramai menanyakan siapa tokoh di uang emisi baru tadi dan apa jasanya, saya membatin, “Itu kuota internet banyak-banyak untuk apa?” Saya Curiga mereka yang malas mencari tahu ini ternyata menggunakan akses internetnya untuk membombardir akun media sosial artis mancanegara dengan komentar: Om Telolet Om. Duh!

Fenomena enggan mencari tahu pun tampak dari sentimen yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sangat mudah mengeluarkan kata kafir. “Luar biasa negeri yang mayoritas Islam ini. Dari ratusan pahlawan, terpilih lima dari sebelas adalah pahlawan kafir,” kira-kira begitu bunyi sebuah akun milik kader salah satu partai yang mengaku bernapaskan semangat islami. Saya tidak tahu bagaimana perasaan teman-teman saya yang beragama lain tetapi saya sebagai muslim merasa malu dan muak membaca ciutan itu. Dari ciutan si empunya akun saya berasumsi kalau sebenarnya dia bertanya-tanya kenapa lima dari 12 (ya 12, bukan 11 seperti ciutan akun tadi) tokoh yang muncul di uang terbaru datang dari kelompok kafir? Indonesia kan negara mayoritas berpenduduk muslim? Kalau memang anda sangat penasaran dengan latar belakang pemerintah memilih tokoh-tokoh yang anda sebut kafir itu, kenapa tidak mencoba mencari tahu?

Yudi Harymukti, Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI membeberkan kepada Tempo  alasan dipilihnya wajah-wajah baru di uang Rupiah emisi 2016 (21/12/2016). Bukanlah hal yang mudah menetapkan pahlawan nasional mana yang akan menjadi wajah pecahan-pecahan uang baru. Rentetan proses panjang dan koordinasi dengan akademisi, sejarawan, tokoh masyarakat dan keluarga pahlawan terkait harus dilalui sebelum uang-uang ini diluncurkan. Yudi juga menambahkan harus ada keterwakilan daerah tanpa memperhatikan latar belakang agama dan gender. Saya ulangi: keterwakilan dan tanpa memperhatikan latar belakang agama dan gender.

Sebagaimana yang sempat saya paparkan di awal tulisan, alasan kebahagiaan saya adalah karena tokoh-tokoh pahlawan di uang baru berasal dari berbagai daerah. Hal ini seperti pengingat bagi kita bahwa yang berjuang dan berjasa bukan berasal dari kawasan tertentu, tetapi berasal dari berbagai wilayah di penjuru nusantara. Kalau sudah begini, apa masih mau beranggapan terdapat muslihat kristenisasi? Apa sesulit itu untuk tidak nyinyir? Mbok yo cari tahu dulu.

Singkat cerita begini. Saya hanya penasaran, apakah mencari tahu sekarang sangat sulit untuk dilakukan? Pramoedya dalam Bumi Manusia menulis, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Berasumsi dan berkomentar tanpa mencoba mencari kebenaran terlebih dahulu, menurut saya adalah bentuk pengkhianatan terhadap keadilan dalam berpikir. Saya tidak tahu apakah ini saran yang baik atau buruk, tetapi izinkan saya berpesan: kenali dulu baru berkomentar, iqra — baca — baru tulis. Salam hangat.

SHARE THIS

0 comments: