| (Pertunjukan teater/Dok.Visi/Naswa) |
Lpmvisi.com, Solo - Seperti tajuk “Nyanyian Hati” acara dimulai dengan alunan musik yang mengalun lembut. Perpaduan iringan suara terompet, gamelan, musik jawa, gitar akustik, piano, serta suling berpadu menjadi nada yang indah nan hidup. Di atas panggung Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, berdiri seorang berkain putih yang melawan tiga elemen hitam dengan iringan lagu rohani.
Kamis (1/10/2026) Teater Lingkar Semarang mementaskan "Nyanyian Hati" Goresan Jari Bunda Dien Maston di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Pementasan ini dilaksanakan di Surakarta atas undangan TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah) sebagai bentuk memperingati hari kesaktian pancasila. Sebelum pementasan resmi dimulai, terdapat sambutan dari kepala TBJT yang berharap bahwa acara ini dapat memberikan inspirasi dan pengalaman yang berkesan untuk penonton, serta memberikan hiburan bagi masyarakat yg hadir.
Sindhunata Gesit Widiharto, Sutra Dalang serta Ketua Teater Lingkar Semarang mengatakan “Di sini kami tidak hanya membawakan performance art membaca puisi. Tapi di sini juga ada wayang, ada tari, kemudian puisi yang dilagukan, yang ditembangkan dengan berbagai macam genre.” Pementasan beragam dengan menggabungkan unsur tradisional jawa dan modern seperti ini memang dipilih Mas Sindhu sebagai ekspresi untuk menunjukkan bahwasannya gamelan itu bersifat luwes dan asik untuk dimainkan. Dalam pementasan kali ini, beliau juga ingin menunjukkan bahwa gamelan tidak selalu terikat dengan kesan “kuno” dan “bikin ngantuk”, itu semua tergantung bagaimana orang mengolahnya.
Dalam “Nyanyian Hati” Goresan Hati Bunda Dien, pihak Teater Lingkar Semarang ingin melestarikan dan meneruskan karya Ibu dari Mas Sindhu, yaitu Bunda Dien, yang merupakan istri dari mendiang Maston Lingkar (Ketua Teater Lingkar Semarang sebelumnya). Uniknya, pementasan beragam ini digarap dengan dua kali latihan saja oleh para pemeran, “Jadi kami baru bisa berlatih itu di hari Senin itu hanya para pembaca puisi saja. Kemudian Selasa itu tempuk gending dengan musik dan penari. Terus Rabu istirahat Kamis pentas seperti ini,” jelas Mas Sindhu. Meskipun hanya dapat berlatih dua kali, namun pementasan yang ditampilkan benar-benar spektakuler, penonton berhasil diajak berkelana melalui musik, tarian, dan puisi yang berkolaborasi dengan apik.
| (Pertunjukan teater/Dok.Visi/Naswa) |
Salah seorang mahasiswa S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Shepia (25) mengetahui acara ini karena Teater Lingkar Semarang merupakan teater yang sudah sangat terkenal di Semarang. Ia mengaku terkesan dengan tarian yang ditampilkan di tengah pertunjukkan, “Aku berkesan sama tariannya. Tariannya itu kan mempresentasikan tentang apa yang ingin diucapkan si puisi, si dalang, sutra dalang, dan nyanyian-nyanyian itu adalah ungkapan ekspresi ya. Jadinya tuh tariannya juga mengekspresikan apa yang ingin dikasih dari puisi-puisi tersebut.” ujarnya. Sephia juga berhasil menangkap makna dari pihak penyelenggara, bahwa naskah doa-doa yang dipentaskan adalah cara pihak Teater Lingkar untuk mengajak masyarakat merenungi sesuatu tentang alam semesta dan isinya. “Ya, mungkin banyak-banyak promosi untuk ke depannya dan terus dekat dengan relasi-relasi para seniman agar penonton lebih banyak yang datang untuk menghargai kesenian ini,” saran Shepia.
` Pada akhirnya harapan untuk melestarikan karya Bunda Dien dan menghibur masyarakat melalui pertunjukan teater “Nyanyian Hati” ini berhasil dilaksanakan. Semoga pementasan yang ditampilkan dapat memberikan inspirasi kepada anak muda untuk terus melestarikan budaya. (Naswa)
0 Komentar