POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Seribu Kunang-Kunang di Jakarta: Cahaya Ingatan dalam Gelapnya Jakarta 1998

(Poster Film Seribu Kunang-Kunang di Jakarta/Dok.Internet) 

Judul: Seribu Kunang-Kunang di Jakarta

Sutradara: Anindya Erviana Madalina

Tahun rilis: 2020

Genre: Drama Puitis, dengan sedikit kritik sosial dan sejarah

Durasi: 8 menit 1 detik

 

Resensi:

Sejarah tidak selalu diceritakan dalam bentuk catatan resmi. Kadang-kadang, sebuah sejarah justru diceritakan melalui buku ataupun film yang mudah dilihat dan diingat oleh masyarakat. Sejarah tahun 1998 tidak akan pernah luput dari ingatan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat keturunan Tionghoa yang menjadi bagian dari ingatan sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari masa tersebut. Dalam konteks inilah film pendek karya anak bangsa berjudul Seribu Kunang-Kunang di Jakarta yang diadaptasi dari puisi berjudul sama karya Joko Pinurbo, film karya Anindya Erviana Madalina menarik untuk dilihat. Karya ini menceritakan masa kelam di daerah Jakarta namun dibungkus melalui durasi singkat dan tidak menampilkan kekerasan secara langsung sehingga dapat ditonton oleh semua umur. Film ini menampilkan pertemuan seorang penyair dengan seorang gadis keturunan Tionghoa dan simbol-simbol puitis berupa bulan serta kunang-kunang. 

 

Film ini bermula dari seorang penyair yang sedang mencoba menulis puisi tentang bulan ditemani suara radio yang menyiarkan berita keadaan politik Indonesia pada tahun tersebut. Saat sedang memikirkan bait puisi, seorang gadis kecil keturunan Tionghoa berpakaian warna merah membawa payung serta keranjang yang ternyata berisi bulan. Pertemuan tersebut berkembang menjadi konflik ketika penyair berusaha mengambil bulan yang dibawa sang gadis. Bulan tersebut kemudian jatuh dan pecah lalu berhamburan berubah jadi kunang-kunang yang memenuhi langit. 

 

        Cerita ini tidak menampilkan banyak karakter dan menyajikan alur yang singkat serta memiliki banyak simbol dan makna yang tersembunyi. Mulai dari latar suasana yang didukung oleh suara radio, gadis Tionghoa, payung, bulan, dan kunang-kunang. Film ini menjadikan gadis tersebut sebagai pusat dari peristiwa yang membuat penyair mampu melengkapi bait-bait puisi. Bulan yang dibawa sang gadis dapat dipahami sebagai sesuatu yang dibawa pergi dari ruang publik. Ketika bulan kemudian pecah dan berubah menjadi kunang-kunang, film ini mengubah gambaran kehilangan menjadi gambaran cahaya berupa harapan. Mengarahkan penonton kepada ingatan tentang kekerasan dan diskriminasi yang dialami masyarakat Tionghoa pada masa itu. 

 

Walaupun hanya menyajikan dua pemeran dalam film ini, yaitu Farie Judhistira membawa karakter penyair dan Vivienne Aimee Kurnia sebagai gadis Tionghoa. Pendekatan kedua karakter ini tidak perlu dibangun melalui banyak dialog sehingga mereka lebih menggunakan ekspresi, gerak, dan posisi mereka di dalam frame untuk menyampaikan cerita. Meski demikian, keterbatasan durasi membuat pendalaman karakter tidak menjadi fokus utama. Hal ini membuat penonton lebih banyak mengenal kedua tokoh melalui fungsi simbolnya dalam cerita. Penggambaran tersebut memang sangat sesuai untuk mempertahankan nuansa puitis, tetapi seperti menciptakan jarak emosional bagi penonton yang mengharapkan karakter dengan latar belakang yang lebih mendalam. 

 

Salah satu kelebihan utama film Seribu Kunang-Kunang di Jakarta adalah kemampuannya dalam mengubah puisi menjadi suatu visual yang memiliki ruang interpretasi. Film tidak bergantung pada dialog panjang untuk menjelaskan simbol dan makna. Bulan dan kunang-kunang menjadi pusat visual  yang membuat film terasa puitis dan sarat akan makna. Pemilihan latar 1998 dan tokoh juga memperluas film dari sekadar kisah nyata menjadi karya yang berhubungan dengan ingatan sejarah. 

 

Di sisi lain, film ini memiliki keterbatasan dalam menyampaikan konteks sosial yang cukup kompleks. Hubungan antar tokoh, latar tahun, dan pesan yang ingin disampaikan tidak seluruhnya dijelaskan secara eksplisit. Bagi penonton yang tidak tahu sejarah 1998 atau puisi Joko Pinurbo, akan merasa bingung dengan pesan yang ingin disampaikan. 

 

Seribu Kunang-Kunang di Jakarta menunjukkan bahwa film pendek tidak membutuhkan cerita panjang untuk menyampaikan persoalan besar. Melalui perpaduan puisi, sejarah, dan simbol visual seperti bulan dan kunang-kunang, film ini mengangkat persoalan kehilangan dan ingatan dengan cara yang sederhana tetapi penuh makna. Kekuatan film terletak pada visual dan simbolismenya yang memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkan cerita, meskipun durasinya yang singkat membuat beberapa konteks tidak dijelaskan secara mendalam. Film ini layak ditonton, terutama bagi pembaca yang tertarik pada film pendek, karya adaptasi puisi, serta cerita yang mengangkat ingatan sejarah melalui pendekatan simbolis.

 

Pada akhirnya, kekuatan film ini justru terletak pada kemampuannya membuat penonton berhenti sejenak dan bertanya tentang apa yang sedang dilihat hingga memenangkan Best Short Movie dalam Gramedia Short Film Festival 2020. Apakah kunang-kunang hanya bagian dari keindahan visual, atau ia menjadi cara untuk menyimpan ingatan tentang sesuatu yang pernah hilang? Film tidak memberikan jawaban tunggal. Namun, melalui cahaya-cahaya kecil yang memenuhi langit Jakarta, Seribu Kunang-Kunang di Jakarta mengajak penonton melihat bahwa ingatan terhadap sebuah masa dapat terus hidup, bahkan ketika peristiwa tersebut telah lama berlalu. (Reina)

Posting Komentar

0 Komentar