![]() |
(Aksi Solidaritas September Hitam di Boulevard UNS, Rabu (30/9/2026)/Dok.Nasywa) |
Lpmvisi.com, Solo - Pakaian serba hitam dan suasana yang muram mulai menyelimuti Boulevard Universitas Sebelas Maret (UNS) sore hari itu. Rabu (30/9/2026) pukul 16.00 WIB, massa sudah berkumpul untuk melaksanakan aksi solidaritas tahunan. September dipilih karena menyimpan banyak sejarah ketidakadilan yang belum menemukan jawaban. Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984, pembunuhan Munir pada 7 September 2004, dan Semanggi II pada 24 September 1999. Itu bahkan belum sebagian dari banyaknya kasus ketidakadilan, kekerasan, penghilangan paksa, hingga pembunuhan yang belum mendapat penegakkan hukum yang jelas.
Hingga saat ini, setelah 81 tahun usia kemerdekaan Indonesia, aksi September Hitam tetap relevan dan terus dilaksanakan, karena kasus kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini bukannya mendapat jawaban tetapi semakin bertambah. Ahmad Fauzan Kamil (Ojan), Menteri Kajian Aksi dan Propaganda BEM Fakultas Hukum UNS 2026, yang turut mengikuti aksi solidaritas September Hitam juga memberikan keterangan terkait relevansi aksi tersebut “September Hitam masih relevan diperingati karena realitanya perampasan Hak Asasi Manusia (HAM) dari tahun ke tahun masih terus terjadi” ujarnya. “Yang paling baru, warga Ledoksari dekat Stasiun Jebres tanahnya terancam digusur oleh PT KAI (Kereta Api Indonesia). Selain itu, warga di Putri Cempo sampai sekarang masih dihalang-halangi untuk bekerja sebagai pemulung di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). September Hitam menjadi momentum peringatan dan menyuarakan kembali solidaritas untuk pihak-pihak yang hak asasinya masih terus ditindas dan dirampas oleh negara”. Keterangan tersebut membuktikan bahwa aksi solidaritas ini sangat dekat dengan kenyataan yang dihadapi rakyat dan patut diberi dukungan serta apresiasi penuh.
Kacaunya kinerja pemerintah beberapa tahun terakhir juga menjadi tuntutan utama dalam aksi kali ini. Banyaknya korban yang tewas, terluka, dan terdampak akibat kecerobohan dan ketidakbecusan aparat masih membekas dalam wujud kemarahan serta tuntutan rakyat. “Tuntutan paling utama dari aksi hari ini adalah menuntut Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk menghentikan cara-cara represif dalam menghadapi masyarakat sipil yang menyuarakan haknya” jawab Ojan mengenai tuntutan utama dalam aksi September Hitam kali ini. “Yang diharapkan adalah kesadaran dari masyarakat umum dan mahasiswa untuk memperkuat barisan dalam menghadapi penindasan dan pelanggaran HAM oleh negara. Semua pihak harus tetap bergerak agar negara kembali ke tujuan utamanya, yaitu mensejahterakan rakyat Indonesia”.
Selain menjadi wadah suara dan tuntutan rakyat, September Hitam berperan dalam melanggengkan usaha penegakkan hukum yang melenceng di negara ini. Aksi rutin tahunan ini menjadi bukti bahwa rakyat tidak akan berhenti “rewel” selama tuntutan belum tergubris. Rentetan penampilan orasi, puisi, dan bentuk seni lainnya yang ditampilkan sebagai bentuk resistensi menjadi medium kawan-kawan pemuda dalam mengekspresikan suara mereka. Panggung Rakyat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS yang membawakan sandiwara teater singkat berhasil mendapat respon emosional penonton. Mengajak kita untuk tidak lupa dan kembali mengenang nasib korban-korban pelanggaran HAM oleh negara.
![]() |
| (Panggung Rakyat oleh BEM FIB UNS pada Aksi September Hitam/Dok.Salsabila) |
Di tengah riuh orasi dan panggung rakyat, Boulevard UNS sore itu seolah berubah menjadi ruang ingatan bersama. Mahasiswa dari berbagai fakultas berdiri berdampingan, mengenakan warna yang sama, membawa keresahan yang sama. Aksi ini mengingatkan bahwa luka sejarah tidak pernah benar-benar sembuh selama kebenarannya belum diungkap dan keadilannya belum ditegakkan. Bahwa dari Tanjung Priok, Semanggi, hingga kasus yang menimpa warga di sekitar Solo sendiri, suara rakyat kecil kerap tenggelam ketika berhadapan dengan kekuasaan. Karena itu, September Hitam bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa kepedulian pada sesama manusia tidak boleh dibatasi oleh kalender.
Maka dari itu, isu akan terus dikawal, dibawa ke press release, konsolidasi, dan aksi-aksi lainnya. Aksi September Hitam di UNS ini juga menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk menjaga agar kasus-kasus pelanggaran HAM tetap menjadi perhatian publik, sekaligus mendorong adanya langkah lanjutan dari pihak yang berwenang. Melalui pembacaan ulang sejarah yang kelam, masyarakat bisa mengambil pelajaran dan semangat untuk terus bergerak hingga negara memastikan serta menjamin hak-hak hidup warganya. (Salsabila)


0 Komentar