POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Resensi Film Soul 2020

(Poster Film Soul 2020/Dok.Internet)

 

Judul Film: Soul

Tahun Rilis: 2020

Sutradara: Pete Docter, Kemp Powers

Produser: Dana Murray

Penulis Skenario: Pete Docter, Mike Jones, Kemp Powers

Produksi: Walt Disney pictures, Pixar Animation Studios

Durasi: 100 menit

Genre: Animasi, Komedi, Fantasi, Musikal

 

“You can’t eat dreams for breakfast Joey.”

 

Kalimat yang diucapkan Libba Gardner, ibu Joe, dalam film Soul terdengar sederhana, tetapi menjadi salah satu refleksi penting dalam perjalanan Joe Gardner. Bagi Joe, musik jazz bukan sekadar mimpi. Musik adalah sesuatu yang membuatnya merasa hidup. Namun, bagi ibunya, hidup tidak bisa hanya bergantung pada mimpi.

Soul merupakan film animasi produksi Pixar yang disutradarai oleh Pete Docter dan Kemp Powers. Film ini bercerita tentang Joe Gardner, seorang guru musik yang memiliki impian menjadi pianis jazz profesional. Ketika kesempatan besar akhirnya datang, sebuah kecelakaan membuat Joe terjebak di antara kehidupan dan kematian. Ia kemudian bertemu dengan 22, jiwa yang justru tidak ingin turun ke bumi karena merasa tidak memiliki alasan untuk hidup.

Secara tersurat, Soul menceritakan perjalanan Joe untuk bisa kembali ke tubuhnya dan mendapatkan kesempatan bermain jazz lagi. Namun, secara tersirat, film ini justru mempertanyakan sesuatu yang ada kalanya pernah dipertanyakan oleh manusia: apakah tujuan hidup harus selalu berupa sesuatu yang besar?

Joe menganggap hidupnya baru akan lengkap ketika ia berhasil menjadi musisi jazz. Ia terlalu fokus pada satu tujuan sampai tidak menyadari bahwa banyak hal sederhana di sekitarnya sebenarnya sudah membuat hidupnya berarti. Hubungannya dengan ibunya, murid-muridnya, musik, bahkan kehidupan sehari-hari menjadi sesuatu yang baru ia pahami nilainya setelah hampir kehilangan semuanya.

Hal tersebut semakin terlihat melalui karakter 22. Jika Joe terlalu ingin hidup karena ingin mengejar impiannya, 22 justru tidak ingin hidup karena merasa tidak menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Namun, 22 akhirnya menemukan spark bukan melalui pencapaian besar, melainkan dari hal-hal sederhana seperti makanan, angin, musik, dan pengalaman sehari-hari.

Di sinilah Soul memberikan makna penting mengenai spark. Spark bukanlah pekerjaan impian atau tujuan hidup yang harus dicapai. Spark lebih dekat dengan rasa ingin menjalani kehidupan dan kemampuan untuk menemukan arti dalam pengalaman kecil.

Film ini seolah ingin mengatakan bahwa: passion bukanlah kehidupan itu sendiri. Passion hanyalah salah satu bagian dari kehidupan.

Joe memang akhirnya mendapatkan kesempatan bermain jazz bersama Dorothea Williams. Namun, setelah pertunjukan selesai, ia menyadari bahwa impian yang selama ini dikejarnya tidak otomatis membuat seluruh hidupnya menjadi sempurna. Ada pertanyaan yang kemudian muncul: setelah impian tercapai, lalu apa?

Pertanyaan tersebut menjadi kekuatan utama Soul. Kita sering menunda kebahagiaan dengan mengatakan, “nanti kalau sudah berhasil”, “nanti kalau sudah lulus”, atau “nanti kalau sudah mendapatkan pekerjaan impian”. Tanpa sadar, kehidupan yang sedang dijalani justru dianggap sebagai perjalanan menuju sesuatu, bukan sesuatu yang memiliki nilainya sendiri.

Melalui Joe, Soul menunjukkan bahwa manusia tidak harus memiliki pencapaian luar biasa untuk membuat hidupnya berarti. Terkadang, menikmati makanan, mendengarkan musik, berbincang dengan orang lain, atau sekadar merasakan hari yang sedang berlangsung sudah cukup menjadi bagian dari kehidupan yang berharga.

Pada akhirnya, Joe tidak mendapatkan kehidupan yang berbeda. Ia hanya mendapatkan kesempatan untuk melihat kehidupannya dengan cara yang berbeda.

Mungkin, itulah pesan paling sederhana sekaligus paling dalam dari Soul: kita tidak harus menemukan alasan besar untuk hidup. Kita hanya perlu berhenti sejenak dan menyadari bahwa kehidupan yang selama ini kita cari sebenarnya sedang kita jalani. (Khairana)

Posting Komentar

0 Komentar