POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

ADOLESCENCE: Ketika Media Digital Pemicu Kriminalitas

cr: eonline.com

Judul film : Adolescence
Direktur : Jack Thorne & Stephen Graham
Produser : Jo Johnson
Sutradara : Philip Barantani
Pemeran : Stephen Graham, Ashley Walters, Faye Marsay, Mark Stanley, Christine Tremarco, Owen Cooper, Amelie Pease, Hannah Walters, Jo Hartley, Fatima Bojang, Kanine Davis, Amari Bacchus, Erin Doherty
Tahun rilis : 2025
Durasi : 4 jam
 
Maraknya kasus kriminalitas remaja di dunia nyata serta dampak buruk lingkungan digital dan pola asuh dan kondisi psikologis anak menjadi keprihatinan sosial untuk diadaptasi menjadi serial Netflix. Mengangkat fenomena siber “Incel” dan Misogini, banyak remaja terjebak dalam algoritma berbahaya yang menggiring mereka ke komunitas Incel (Involuntary Celibate) dengan ideologi misoginis (kebencian terhadap perempuan) dan memunculkan kekerasan terus tumbuh sehingga memicu tindakan agresif. Serial Adolescence Menyoroti bagaimana platform digital, yaitu Instagram dapat mengubah cara remaja berkomunikasi hingga menimbulkan perundungan siber yang sering kali luput dari pengawasan orang dewasa.
 
Sinopsis
Dua detektif, Luke Bascombe dan Misha Frank, mendobrak sebuah rumah yang di dalamnya terdiri dari empat anggota keluarga. Sang pemilik rumah, Manda Miller, Eddie Miller dan anak sulungnya, Lisa Miller berteriak panik. Mereka akan menangkap orang yang dicurigai sebagai pembunuh. Kemudian masuk ke sebuah kamar anak-anak dan melihat seorang bocah laki-laki yang ketakutan setengah mati, Jamie Miller. Ternyata anak tersebutlah yang dicurigai sebagai pembunuh seorang gadis remaja teman sekolahnya.
Kelebihan dan kekurangan
Serial Adolescence memiliki keunikan tersendiri yang membuat serial tersebut memenangkan banyak penghargaan. Dengan menggunakan teknik one-shoot yang direkam setiap episodenya dalam satu pengambilan gambar terus menerus tanpa potongan. Memiliki alur yang intens dan secara bertahap menampilkan point of view yang rapi dari keluarga, polisi, hingga psikolog. Mengangkat isu sosial yang terjadi di kalangan remaja terkait pengaruh internet dan komunitas incel yang dapat menyebabkan konflik dan merenggut nyawa seseorang. Akting memukau yang ditampilkan oleh Owen Cooper sebagai Jamie Miller seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang sangat emosional yang selalu merasa dirinya benar membuat alur cerita semakin menarik dan tegang saat dihadapkan dengan seorang psikolog yang mengetahui kebohongannya. 
 
Namun, di sisi lain sebagai serial psikologis dan kriminal, serial adolescence memiliki alur cerita yang terlalu lambat dan berat yang berfokus pada perubahan karakter tokoh utama serta dampak emosional sehingga kurang pas bagi penonton yang lebih menyukai ketegangan kriminal yang lebih cepat. Hanya ditampilkan berjumlah empat episode, serial ini jadi kurang mengeksplorasi akar permasalahan secara mendalam sehingga dapat membuat penonton masih kebingungan untuk memahaminya. Memiliki ending yang cukup menggantung karena tidak ada resolusi akhir yang terjadi oleh tokoh utama membuat kurang puas dalam menyelesaikan sebuah cerita. 
 
Kesimpulan
Secara keseluruhan, serial ini sangat layak untuk ditonton di kalangan remaja hingga orang dewasa bagi yang menyukai genre kriminal psikologi. Mengangkat isu yang dapat terjadi di kalangan remaja karena pengaruh dunia digital dan adanya krisis maskulinitas menjadi pesan penting bagi peran orang tua untuk anaknya supaya bisa lebih terbuka dalam berkomunikasi dan memahami pergaulan serta kesehatan mental anak di era digital. Tidak hanya orang tua, serial ini juga memiliki pesan tersembunyi bagi anak-anak remaja agar dapat menggunakan media sosial dengan bijak agar tidak mudah terpengaruh dengan isu negatif yang dapat merusak masa depannya. Menekankan pesan yang mendalam dan teknik yang unik, serial adolescence sukses meraih penghargaan bergengsi internasional yang memborong 6 piala di Emmy Awards 2025 dan Golden Globes 2026. (Mahesa)

Posting Komentar

0 Komentar