| Dok.VISI/Zahra |
ni tentang Arjuna, remaja yang dirundung duka seumur hidupnya. Katanya, masa SMA jadi yang paling bermakna, tapi sepertinya kali ini Tuhan berdusta. Puluhan tahun telah berlalu, remaja itu kini telah beranjak menjadi seorang pria paruh baya. Ia tengah duduk di teras rumahnya, menggenggam erat sepucuk surat di tangannya, dengan tatapan sedih seperti biasanya. Usianya memang bertambah tua, namun ingatan akan cinta pertama dan terakhirnya seolah tak pernah sirna.
25 tahun lalu, dalam sebuah konser Sheila On 7, Arjuna dan teman-temannya melepas penat di pesisir Jogja. Alunan musik genre pop rock itu membakar semangat remaja SMA seperti mereka, terutama Arjuna. Remaja yang tengah bertengkar dengan pujaan hatinya itu, sengaja pergi untuk mencari ketenangan dan menghilang dari radar romansa. Ah, cerita cinta. Entah apa lagi yang membuat mereka bertengkar kali ini, apakah karena rasa cemburu? Atau lagi-lagi karena masalah agama mereka yang berbeda?
Tidak mudah memang bagi Arjuna, kisah cintanya memang sangat manis, namun restu Tuhan dan orang tua selalu menghantuinya. Sebagai pria, tentunya Arjuna telah mengusahakan segalanya untuk sang pujaan hati, Melati. Gadis cantik nan mungil itu berhasil memporak porandakan isi hati remaja bertubuh atletis itu. Sudah 2 tahun sejak mereka resmi berpacaran, dan semuanya masih manis seperti biasa. Kecuali tentang restu orang tua, mereka masih mendapat lampu merah dari kedua pihak.
Sore itu keduanya bertengkar hebat, tidak seperti biasanya, masalah kali ini jauh lebih besar. Melati mendatangi Arjuna dengan wajah datarnya, tak bisa disembunyikan bahwa gadis itu telah menangis sebelumnya, matanya sedikit bengkak. “Aku akan pindah sekolah” ucapnya. Arjuna sejenak mencerna, berusaha menebak apakah yang baru saja ia dengar hanya sebuah lelucon atau memang bencana yang datang untuk keduanya. Melati tak menunjukan wajah jahilnya, gadis itu hanya menunduk, ini bencana. Arjuna terus menanyakan apa yang terjadi, namun kali ini Melati benar-benar hanya terdiam, ia hanya mengucap sepatah kata setelahnya. “Papa sudah mempersiapkan semuanya, bahkan tentang siapa yang akan aku nikahi nanti, dan aku sudah putuskan untuk menerima”, ucap gadis itu lirih. Rasanya seperti tersambar petir di tengah lapangan, Arjuna merasakan gemuruh panas membakar dadanya, usahanya selama ini sia-sia. Remaja itu menatap dalam gadis dihadapannya, “kamu menyerah tentang kita?” tanyanya dengan wajah penuh amarah. Melati mengangkat wajahnya, memberi jawaban terakhirnya sebelum pergi meninggalkan Arjuna, “Terimakasih sudah berusaha, aku tahu kita sudah sejauh ini. Tapi dibanding kamu, aku lebih sayang orang tua dan Allah”, ucap Melati. Gadis itu dengan langkah yang mantap meninggalkannya.
Arjuna kini tengah berdebat dengan nuraninya, ia bingung harus mengikhlaskan Melati, atau kembali ditendang ayah gadis itu untuk meminta restu. Ah, sudah lah, nanti saja. Hari berikutnya Arjuna benar-benar tak melihat gadis itu di sekolah, ia telah pindah. Arjuna kesal karena gadis itu seolah tidak ingin berjuang bersama lagi, ia mulai berpikir bahwa apa yang diucapkan Melati kemarin hanya alasan untuk mencari pasangan baru, mungkin ia sudah bosan. Hari-hari berlalu, berminggu-minggu, berbulan-bulan, mereka tidak lagi saling berkabar. Akan tetapi setiap hari Minggu Arjuna mendapat kiriman surat dari gadis itu, ia tidak pernah membukanya. Ia mengira isinya hanya permintaan maaf, dan itu hanya omong kosong bagi Arjuna.
Delapan bulan berlalu sejak kekasihnya itu pergi, Arjuna perlahan melupakannya, bahkan remaja itu memaksa teman-temannya untuk tak memberi kabar apapun tentang Melati, ia sudah berdamai. Namun ada satu hal yang seolah terlewatkan, surat itu tak lagi datang satu bulan terakhir, “mungkin sudah dapat kekasih baru”, ucapnya dalam hati. Arjuna kembali menjalani hari dengan tenang dan dengan status baru, tak punya kekasih.
Suatu sore, ketukan pintu yang keras terdengar di halaman rumahnya. Salah satu teman datang dengan wajah pucat pasi, “kamu harus lihat berita” ucapnya. Dengan ragu ia membaca berita yang disodorkan temannya, jantungnya seolah meledak saat melihat judul dan foto dalam berita itu, ‘Seorang Remaja Putri Tewas di Tangan Pria Hidung Belang, Sang Ayah Menyesal Telah Menjual Putrinya’ dan foto yang terpampang di dalamnya ialah orang yang sangat ia kenal, itu Melati.
Arjuna terjatuh lemas, kakinya seolah lumpuh, “apakah ini nyata?”. Masih setengah tak percaya, ia tiba-tiba teringat sesuatu, ‘surat-surat itu’. Perlahan ia melangkah menuju kotak surat yang tak pernah ia buka lagi setelah Melati pergi, remaja itu mengambil surat-surat yang ia terima dari gadis itu. Dibantu temannya, Arjuna membuka dan membaca satu persatu isi suratnya. Isinya mencekik, mengabarkan bahwa gadis itu meminta untuk diselamatkan, ‘Papa menjual aku, Arjuna. Tolong kesini, aku di siksa’. Dunianya hancur, ia merasa seolah bersekongkol dengan orang jahat itu untuk membunuh Melati. Namun semuanya sudah terlambat, Melati sudah mati, dan jasadnya hilang ditelan bumi. Pembunuh itu menghanyutkan tubuh dingin melati ke laut, membiarkannya menyatu dengan buih-buih di lautan.
Kini di usianya yang sudah menginjak kepala empat, ia masih sendiri, mengubur dalam gairah cintanya. Pria itu menghukum dirinya sendiri, mengutuk kebodohannya yang telah merebut Melati dari hidupnya. Arjuna hanya melanjutkan hidup dengan sepucuk surat ditangannya, surat terakhir Melati. “Arjuna, aku hanya pernah mencintaimu. Jika ada kehidupan kedua, aku harap aku tetap menjadi kekasihmu, tolong hidup lebih lama ya.”, hanya kalimat itu lah yang bisa membuat Arjuna bisa melanjutkan hidupnya. (Zahra)
0 Komentar