POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Nasib Gen Z yang Mengundang Elusan Dada

(Ilustrasi Pemudi, Koran, dan Globe / Dok. Internet)


Lpmvisi.com, Solo Gen Z, generasi yang lahir dari tahun 1997 sampai 2012, merupakan 25% dari total populasi di Indonesia. Sebagai generasi yang sempat merasakan kartun di televisi nasional dan ditempeli bau matahari setelah berlarian di lapangan, Gen Z kini dihadapkan pada realita kemajuan zaman yang membawa dilema tersendiri. Pendidikan, pekerjaan, bahkan ekonomi negara kini menjadi ‘beban tanggungan’ yang harus dipikul Gen Z si subjek Generasi Emas.


Dilema-dilema ini datang dari kompetisi yang ada di kehidupan kita, sebut saja salah satunya pendaftaran calon mahasiswa baru. Di Indonesia, jumlah perguruan tinggi dapat dikatakan terbatas. Jika dibandingkan dengan jumlah lulusan SMA/SMK, baik itu yang baru lulus maupun gap year, tidak seluruh pendaftar dapat diterima. Jika dulu orang tua bisa berkata, “Saya dulu mendaftar di kampus A tapi masuk kampus B,” Gen Z merasakan, “Aku dulu daftar di kampus C tapi ketolak SNBP sama SNBT, terus akhirnya daftar lewat jalur Mandiri di kampus J setelah dua belas kali ujian Mandiri yang lain.”


Tak hanya soal masuk pendidikan, banyak publikasi yang menyebutkan bahwa pasar tenaga kerja dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini. Ingin daftar kerja? Butuh pengalaman profesional 2 tahun. Sudah ketemu part-time yang bagus? Syaratnya harus good looking.  Ingin mendaftar ke instansi tertentu? Oh, harus cari koneksi dulu. Sedih. Realita ini seakan menampar mereka yang baru keluar dari bangku pendidikan. Di satu sisi, generasi muda diminta untuk memiliki cita-cita tinggi, sementara di sisi lain, pintu kesempatan hanya dibuka sedikit untuk menyeleksi orang dengan backing-an atau yang benar-benar beruntung. 


Situasi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Mencoba, gagal, menunggu, coba lagi. Begitu seterusnya sampai mereka memutuskan untuk membuka bisnis UMKM atau menjadi freelancer, mungkin bahkan VTuber Indie (biarkan saja imajinasi penulis). Sebenarnya, kualitas mereka yang siap bekerja tidak semuanya buruk, pasarnya saja yang langka. Kita bisa mengambil contoh dari negara Tiongkok. Banyak lulusan universitas yang kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan kerah putih sehingga mereka harus banting setir menjadi tukang antar hingga waiter di warung hotpot.


(Kenyataan setelah kelulusan di Tiongkok / Dok. BBC)


Menjadi rahasia umum bahwa banyak lulusan di Tiongkok sana menerapkan budaya belajar dan kerja yang gila. Pīn mìng xué xí (拼命学习) bahkan ditranslasikan oleh Google dengan arti risking one’s life to study. Untuk masuk ke jenjang selanjutnya, seluruh murid sekolah menengah akhir diwajibkan untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi nasional (gāokǎo; 高考) dengan ratusan soal sulit dan jutaan rival. Setelah mereka lulus, mereka dituntut untuk wèi le móu shēng (为了谋生) yang berarti doing whatever it takes just to make a living. Hal ini menunjukkan situasi yang mengerikan di mana generasi muda Tiongkok mencoba untuk bertahan hidup meski dihimpit, diinjak, dan dizalimi (bercanda).


Sekarang, sedang terjadi fenomena lying flat (táng píng; 躺平) yang didasari oleh penolakan pada pola kerja 996 (berangkat jam 9, kerja 9 jam, untuk 6 hari) dan kenyataan semakin banyak bekerja tapi hasil yang didapat semakin sedikit. Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Jangan-jangan, Indonesia adalah Tiongkok versi lite dengan banyak sekali nerf yang diberikan oleh pemerintah? Ekhem.. Kembali ke bahasan. Sebenarnya, Indonesia bisa saja mengalami fenomena lying flat besar-besaran. Mulai muncul tren di kalangan Gen Z Indonesia yang menolak ‘berusaha lebih’ untuk memenuhi ekspektasi sosial, tidak peduli pada membangun rumah mewah, membeli mobil mahal, tidak mau menikah, dan ingin childfree. 


Jadi, mau disebut realistis, pasrah, atau strategi bertahan hidup ala-ala, lying flat merupakan cerminan dari generasi yang kalau ada cobaan (gak mau) dicobain. Gen Z yang dipaksa untuk terus berjuang tidak hanya butuh uang, tapi juga sistem pendidikan, pasar kerja, dan jaminan kesejahteraan yang benar-benar dapat dirasakan. Sebelum menyalahkan orang lain (dan pemerintah), mungkin ini saatnya kita, sebagai generasi muda Indonesia, bisa bertanya; sebenarnya kita berjuang untuk apa, demi siapa, dan bagaimana caranya tanpa mengorbankan kebahagiaan kita sendiri? (Ela)

Posting Komentar

0 Komentar