Poster Film Esok Tanpa Ibu, dok/internet

Judul Film : Esok Tanpa Ibu (Mothernet)

Sutradara :   Ho Wi-ding

Penulis Naskah : Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief

Produser :  Dian Sastrowardoyo, Shanty Harmayn, Tanya Yuson, Winnie Lau, Aoura Lovenson Chandra

Pemeran :  Dian Sastrowardoyo (sebagai Ibu), Ali Fikry (sebagai Rama/Cimot), Ringgo Agus Rahman (sebagai Ayah), Aisha Nurra Datau (sebagai Zila), Bima Sena (sebagai Robert)

 Tahun Rilis : 22 Januari 2026

 Durasi : 1 jam 47 menit

 Produksi : BASE Entertainment, Beacon Film, ReBinery Media

 Genre : Family sci-fi

Sinopsis

Film ini bercerita tentang Rama atau Cimot, seorang remaja yang bersama sang Bapak harus menghadapi duka mendalam setelah kehilangan sosok Ibu. Alih-alih menerima kepergian tersebut, Cimot justru memilih jalan yang tidak biasa dengan berusaha “menghadirkan kembali” peran Ibu melalui sebuah AI yang dipersonalisasi bernama i-Bu. Kehadiran i-Bu menjadi cerminan penyangkalan sekaligus kerinduan Cimot terhadap sosok yang hilang, sekaligus membuka konflik emosional antara dirinya, sang Bapak, dan realitas yang tak bisa dihindari. Premis ini terasa segar karena menggabungkan drama keluarga dengan sentuhan sci-fi, sebuah pendekatan yang masih jarang diangkat dalam film lokal.

 

Ulasan

1. Kelebihan

Film ini memiliki sejumlah kelebihan yang terasa saling menguatkan satu sama lain. Secara visual sinematografinya tampil menggugah dengan dominasi warm tone yang konsisten, menciptakan suasana duka yang sendu, kehangatan keluarga, serta nuansa nostalgia yang membuat film terasa nyaman untuk ditonton. Dari sisi tema, keberanian mengangkat isu kehilangan, duka, dan relasi orang tua–anak melalui perspektif AI menjadikan film ini relevan dengan konteks zaman sekaligus menawarkan sudut pandang baru dalam genre drama keluarga Indonesia. Kekuatan lain juga hadir lewat akting para pemainnya. Ali Fikry berhasil memerankan Cimot sebagai remaja yang terlihat dingin dan cuek, tetapi sebenarnya menyimpan perasaan yang tidak semua orang mampu memahaminya. Ringgo Agus tampil meyakinkan sebagai sosok ayah yang tegas, canggung, dan kesulitan membangun komunikasi dengan anak laki-lakinya, sementara Dian Sastrowardoyo menjalani peran ganda sebagai Ibu dan versi AI dengan solid, terutama melalui intonasi yang seragam, datar, dan bernada tanya, sehingga menghadirkan kesan futuristik tanpa kehilangan sisi naturalnya. Nuansa emosional film juga diperkuat oleh deretan soundtrack seperti Sorai, Mencintaimu, Jernih, Raih Tanahmu, Hara, dan beberapa lagu lainnya yang mengalir hangat dan reflektif mengikuti perjalanan cerita. Di tengah atmosfer yang cenderung sunyi dan melankolis, kehadiran Robert sebagai sahabat Cimot berperan penting sebagai penyeimbang lewat unsur komedi yang ia bawa. Tanpa karakter Robert, suasana bioskop kemungkinan akan terasa senyap hampir sepanjang durasi film.

2. Kekurangan

Meski memiliki banyak potensi, film ini masih menyisakan beberapa catatan penting. Secara emosional, pembangunan konflik dan rasa kehilangan belum sepenuhnya matang. Kenangan antara Cimot dan Ibunya masih terasa di permukaan sehingga empati penonton belum benar-benar mengikat; ada perasaan seperti air mata sudah berada di ujung mata, namun kembali tertahan karena fondasi emosinya belum cukup dalam. Selain itu, kemunculan i-Bu terasa terlalu cepat dan instan. Perjalanan Cimot yang tiba-tiba ke rumah Zyla lalu mendadak sudah memiliki konsep serta nama “i-Bu” membuat proses dan filosofi di balik kehadiran AI ini kurang tergali, padahal ruang dialog atau diskusi lebih awal antara Cimot dan Zyla bisa memperkuat motivasi serta konflik batin Cimot. Dari sisi promosi visual, poster utama memang menampilkan nuansa kisah keluarga yang kuat, namun belum sepenuhnya menyentuh sisi futuristik yang menjadi ide besar dan daya tarik utama dalam film ini.

 

Simpulan

Sebagai film yang tayang di momen liburan, karya ini menawarkan pengalaman menonton yang reflektif dengan tema kehilangan, hubungan orang tua dan anak, serta cara manusia berdamai dengan masa lalu melalui teknologi. Meski memiliki catatan pada pembangunan emosi dan alur pengenalan konflik utama, film ini tetap layak diapresiasi karena keberaniannya mengangkat tema family sci-fi dalam konteks lokal, didukung visual yang hangat, akting yang kuat, dan musik yang menyentuh. film ini direkomendasikan untuk penonton usia remaja ke atas dan cocok ditonton bersama keluarga, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang introspeksi tentang duka, komunikasi, dan penerimaan.