POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Nilep dan Pembelajaran Timeless tentang Perilaku Koruptif

(Poster Film Pendek Nilep/Dok.Internet)

Identitas Film

Judul : Nilep
Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo
Rumah Produksi : Ravacana Films
Tahun Rilis : 2015
Durasi : 9 menit 10 detik
Genre : Fiksi pendek, drama/komedi
Bahasa : Jawa

Di tengah maraknya pemberitaan kasus korupsi pada 2026, korupsi tidak selalu hadir dalam bentuk kerugian besar atau melibatkan pejabat. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku koruptif juga bisa muncul dalam hal-hal kecil, seperti memberi uang pelicin, memanipulasi nota, menggunakan sesuatu yang bukan haknya, atau mengambil barang orang lain dengan alasan “nilainya kecil”. Kebiasaan membenarkan tindakan tersebut dengan kalimat “cuma sedikit” atau “semua orang juga melakukan” justru dapat membuat perilaku yang salah terasa biasa. Persoalannya bukan sekadar besar kecilnya kerugian, melainkan bagaimana kesalahan perlahan dinormalisasi. Fenomena inilah yang kembali terasa relevan ketika melihat film pendek Nilep karya Ravacana Films yang dirilis pada 2015.

Nilep merupakan film pendek garapan Wahyu Agung Prasetyo yang mengangkat persoalan kejujuran melalui cerita sederhana tentang kehidupan anak-anak. Film ini juga berhasil meraih penghargaan dalam Anti Corruption Film Festival (ACFF) 2015 dan mendapat perhatian luas dari penonton di YouTube.

Cerita berpusat pada empat anak, Bayu, Pandi, Ipeh, dan Rindho. Ketika Ipeh dan Rindho sedang membeli undian berhadiah, Bayu dan Pandi mencuri barang milik seorang penjual mainan keliling. Setelah mengetahui perbuatan tersebut, Ipeh dan Rindho berusaha menyadarkan keduanya agar mengembalikan barang yang telah diambil. Mereka bahkan mengajak Bayu dan Pandi melihat langsung kondisi kehidupan penjual mainan tersebut. Bayu dan Pandi akhirnya merasa iba dan berniat mengembalikan barang itu. Namun, rasa takut dimarahi atau dipukuli membuat mereka mengurungkan niat. Hingga akhirnya, barang tersebut dikembalikan melalui Pak Pos bersama secarik kertas berisi permintaan maaf.

Konflik dalam Nilep memang sederhana. Tidak ada persoalan besar atau alur yang rumit. Hanya ada anak-anak yang melakukan kesalahan, merasa takut, kemudian belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, justru kesederhanaan inilah yang membuat ceritanya mudah diterima. Penonton tidak dibuat berjarak dengan konflik karena situasi yang dihadirkan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kebimbangan Bayu dan Pandi ketika harus memilih antara mempertahankan barang yang mereka ambil atau mengembalikannya juga menjadi bagian yang membuat cerita tetap menarik meskipun durasinya singkat.

Pesan tentang kejujuran dalam Nilep disampaikan secara sederhana tanpa terasa menggurui. Rasa bersalah, ketakutan, hingga keputusan mengembalikan barang menunjukkan bahwa mengakui kesalahan merupakan bagian dari tanggung jawab. Pesan ini membuat Nilep tetap relevan meski dirilis pada 2015, terlebih ketika perilaku tidak jujur dalam skala kecil masih mudah dianggap biasa. Dari sisi akting, Bayu dan Ipeh menjadi karakter yang paling menonjol dengan ekspresi dan gestur yang natural, sementara Pandi dan Rindho lebih berperan mendukung konflik. Visual film yang sederhana, penggunaan cahaya alami, serta latar pedesaan Yogyakarta juga memperkuat kesan dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dunia anak-anak.

Di balik kelebihannya, Nilep tetap memiliki beberapa kekurangan. Kualitas audio pada beberapa bagian terasa kurang jelas sehingga percakapan tertentu tidak selalu nyaman didengar. Selain itu, durasinya yang singkat membuat perkembangan konflik dan penyelesaian terasa cukup cepat. Beberapa bagian sebenarnya masih dapat dikembangkan agar perubahan sikap Bayu dan Pandi terasa lebih mendalam. Namun, kekurangan tersebut tidak sampai menghilangkan inti cerita maupun pesan yang ingin disampaikan.

Kekuatan Nilep bukan pada konflik besar, melainkan pada kemampuannya membuat persoalan sederhana terasa penting. Film ini mengingatkan bahwa kesalahan kecil tetaplah kesalahan, meski sering dianggap sepele. Karena itu, Nilep masih relevan pada 2026 sebagai pengingat bahwa kejujuran diuji ketika kita harus memilih antara mengambil sesuatu yang bukan hak kita atau mengembalikannya. (Gala)

Posting Komentar

0 Komentar