Sabtu, 29 Juni 2019

PKM Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Daerah

Salah satu peserta program mencoba alat pembuat mie dengan didampingi tim PKM. (Dok, Pribadi)

Jika kita terjun ke dunia kampus, kita tidak akan asing lagi dengan kegiatan PKM. PKM adalah singkatan dari Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dikti guna memberi ruang untuk para Mahasiswa menunjukkan kreativitasnya. PKM merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Ditjen Dikti dalam meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni. Ada enam jenis PKM yang biasa dilaksanakan setiap tahun yaitu: PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Penerapan Teknologi (PKMT), PKM Gagasan Tertulis (PKM GT), dan PKM Artikel ilmiah (PKM AI).

Alma, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional  UNS beserta ketiga temannya yakni Herlina, Atika dan Krisna memilih untuk membuat PKMM dengan mengembangkan ide Mie Labu Kuning guna memberdayakan masyarakat Desa Majasem, Kec. Kendal, Kab. Ngawi, Jawa Timur. Alma memilih Mie Labu Kuning karena labu adalah produk yang paling banyak dihasilkan oleh desa tersebut. Setiap pekarangan rumah di sana pasti ditumbuhi tanaman labu. Oleh sebab itu, labu menjadi sumber penghasilan dari sebagian besar masyarakat Desa Majasem. Namun, karena hampir seluruh masyarakatnya menjual buah labu secara utuh, hal tersebut terkesan biasa saja. Itu lah yang kemudian membuat Alma memiliki ide agar masyarakat Desa Majasem tidak hanya menjual buah labu utuh tetapi menjual sebuah produk yang berbahan labu yang dapat menarik para pendatang. Dan tercetuslah ide membuat Mie Labu Kuning yang dapat dijadikan  salah satu oleh-oleh khas Desa Majasem selain buah labu utuh.
Tim PKM FISIP, dari kiri, Alfaradi Krisna Ocsyta (Sosiologi 2018), Atika Susilo Putri (Ilmu dan Teknologi Pangan 2016), Austiva Alma Rahmawati Hasyim (Hubungan Internasional 2017), dan Herlina (Hubungan Internasional 2017)

Awal mulanya, Alma sempat bimbang ingin mengikuti program PKM ini atau tidak. Disamping bingung ingin mengajak siapa yang mau ikut bergabung dengan PKM-Nya, ia juga bingung ingin membuat PKM mengenai apa. Hingga kemudian Alma mengikuti banyak seminar-seminar di kampus yang membahas seputar PKM yang dapat menambah pengetahuannya. Dan juga mendapat saran dari dosennya, akhirnya ia memutuskan untuk membuat PKM ini. Ia memilih Desa Majasem sebagai objek PKM kali ini karena itu adalah desa tempat asalnya sehingga ia mengetahui seluk beluk hingga watak masyarakatnya.  Alma dan tim PKM-nya datang kesana untuk melakukan sosialisasi dan mengajari masyarakat step by step produksi Mie Labu Kuning. Bahkan mereka juga menyediakan alat-alat guna membantuk proses produksi.
Ketua Tim menyampaikan materi kepada masyarakat tentang manfaat labu kuning dan kandungannya
Foto Bersama dengan bapak kepala desa dan perwakilan dinas koperasi dan UMKM Ngawi

Saat pertama kali ingin mengembangkan PKM ini, Alma sempat merasa kesulitan. Kesulitan yang dialaminya diantaranya adalah mengumpulkan orang-orang yang benar-benar memiliki niat untuk bergabung di kelompoknya, hingga pada masalah jarak tempuh dari Kota Solo ke Kota Ngawi sendiri yang menyulitkan mereka untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat. Namun, berbagai rintangan itu pun dapat di lewati Alma beserta kawan-kawannya dengan lancar. Kini masyarakat Desa Majasem sudah dapat membuat Mie Labu Kuning sendiri. Tapi untuk saat ini, Mie Labu Kuning baru bisa dikonsumsi masyarakatnya sendiri karena tim PKM masih menunggu surat ijin dari BPOM untuk dapat menjual produk Mie Labu Kuning. (Fitri, Naila)


SHARE THIS

0 komentar: