Sabtu, 30 Maret 2019

Kembangkan Softskill Anak melalui Festival Dalang Cilik

Salah satu sudut penampilan wayang cilik di Pendhapi Gedhe (Dok. VISI/Gede)
Lpmvisi.com, Solo – Bunyi gamelan ditabuh bersama suara nyanyian berbahasa Jawa memenuhi Pendhapi Gedhe, Balaikota Surakarta. Di sanalah Festival Dalang Cilik diadakan, tepatnya pada hari Rabu dan Kamis (27-28/3/2019) jenis wayang yang ditampilkan adalah Wayang Kulit Purwa (Gaya Surakarta).

Festival Dalang Cilik diadakan selama dua hari dan dibuka untuk umum sejak pukul delapan pagi. Festival yang juga dilombakan ini diikuti oleh siswa laki-laki kelas satu hingga enam dengan total 20 anak, semuanya adalah siswa yang bersekolah di Solo.

“Ada dua kategori, hari pertama kategori A, hari kedua kategori B. Setiap kategori kita ambil juara satu sampai tiga sama dalang favorit menggunakan voting penonton.” ujar Naim Rizal salah satu panitia pelaksana dari event tersebut saat ditemui VISI pada Kamis sore (28/3). Ia juga membeberkan indikator yang dinilai yakni lakon, saben, iringan gendhing dan cara berbicara dalang. "Kita menyebutnya bukan juara tapi dalang cilik terbaik karena ini festival bukan lomba" ujar Naim menambahkan. 

Gelaran itu cukup menarik minat masyarakat untuk mengunjungi Pendhapi Gedhe, tak ayal sekitar 600 orang memadati tempat itu untuk melihat kepiawaian tiap siswa dalam memainkan wayang. Beberapa dari mereka merupakan siswa yang diundang untuk menonton sekalian membuat tugas laporan mengenai gelaran tersebut.

Ratini Setiawati, ibu dari salah satu dalang turut menceritakan mengenai motivasi anaknya ikut dalam festival ini. Menurutnya, anaknya tertarik seni pedalangan sejak kecil saat ayahnya memberikannya tontonan wayang. Ia kemudian dibelikan wayang kertas dan mulai diajari wayang oleh gurunya sejak umurnya tiga setengah tahun.

Ibu (kanan) dari seorang dalang cilik bernama Karestu Pitutur Mapajaesi (Dok. VISI/Gede)

“Kalau kami sebagai orang tua, saya berlatar bahasa inggris, bapaknya matematika, jadi tidak ada unsur seninya, jadi anaknya suka yasudah kita ikuti saja." ujar Ratini. Ia juga mengungkapkan sebagai orang tua lebih mengutamakan soft skill daripada hard skill"Jika anaknya berani tampil udah buat kami juara mas, kemarin juga dia maju lomba macapat tingkat provinsi.” tambahnya.

Ibu dari pedalang cilik itu juga mengungkapkan harapannya kepada pemerintah kota Surakarta untuk terus mengadakan event budaya seperti itu karena menurutnya banyak anak-anak yang tertarik budaya namun belum terekspos kemampuannya.

“Anak-anak itu ada yang mateng di hard skill, ada yang juga menguasai soft skillnya. Mohon terus untuk pemkot surakarta, event-event budaya seperti ini perlu diadakan" ujar Ratini. Ia juga menambahkan  pengadaan jenis lomba lain tidak masalah, yang penting memacu anak-anak untuk berbudaya. (Banyu, Gede)


SHARE THIS

0 komentar: