Friday, September 14, 2018

Kalimantan Timur Tampilkan Tari Hudoq dalam Srawung Seni Sakral Internasional

Potret para penari dari Sanggar Bera'an Pare usai menampilkan Tari Hudoq di Srawung Seni Sakral Internasional 2018 pada Rabu (12/09/2018). (Dok. VISI/Ratna)

Lpmvisi.com, Solo  Dalam rangka memperingati Satu Suro, Pemerintah Kota Surakarta menyelenggarakan sebuah pergelaran seni sakral sedunia pada Rabu (12/09/2018). Berlokasi di Pelataran Museum Radya Pustaka, pergelaran bertajuk Srawung Seni Sakral Internasional 2018 tersebut menyuguhkan penampilan seni sakral dari para seniman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga dari lintas negara. Kalimantan Timur, sebagai salah satu penampil dalam negeri, menampilkan tarian khasnya yang berjudul “Tari Hudoq”.


Penari Mexico sedang menampilkan tariannya dalam Srawung Seni Sakral Internasional 2018. (Dok. VISI/Ratna)

Ledau Timang (60), salah satu penari Hudoq, mengaku harus berlatih rutin dari sore hingga pagi untuk mempersiapkan penampilannya di Panggung Srawung Seni Sakral Internasional 2018. Penari yang tergabung dalam Sanggar Bera’an Pare−yang memiliki arti padi yang lebat−itu pun menyampaikan bahwa sanggarnya telah berulangkali mengikuti Srawung Seni Sakral Internasional dan tampil di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali.

Di tahun ini, Sanggar Bera’an Pare menampilkan Tari Hudoq sebagai sebuah tarian yang memiliki makna tersendiri. Tarian tersebut biasa ditampilkan sebelum dan sesudah panen padi.

“Makna dari tarian ini yaitu dewa sakti dari khayangan yang turun ke bumi untuk menjaga dan melindungi manusia dari roh jahat,” jelas Ledau kepada VISI. Ia juga menyampaikan bahwa tarian tersebut biasa ditampilkan sebelum maupun sesudah masa panen padi.

Srawung Seni Sakral Internasional 2018 cukup banyak diminati oleh masyarakat Solo. Kursi untuk tamu undangan tampak penuh dan beberapa penonton pun rela berdiri untuk menyaksikan pergelaran seni sakral tersebut. 

Harsono (40), salah satu pengunjung dari Solo, mengaku bahwa dirinya hampir setiap tahun datang dalam acara Srawung Seni Sakral. Ia menyampaikan, menghadari acara tersebut membuat pengetahuan kebudayaannya menjadi bertambah.

“Acara ini merupakan warisan kebudayaan dan salah satu cara untuk promosi pariwisata, makanya saya rutin datang setiap tahun,” jelas Harsono. (Ratna, Meilly)


SHARE THIS

0 comments: