Friday, May 4, 2018

Pesta Film Solo #8, Sisipkan Isu Transgender dalam Sebuah Film

Potret suasana diskusi dalam rangkaian acara Pesta Film Solo #8 di Taman Budaya Jawa Tengah pada Kamis (03/05/2018) (Dok, VISI/Ade Uli).



Lpmvisi.com, Solo - Suguhkan puluhan film dalam ajang pesta Film Solo, Kine Club tawarakan salah satu film dokumenter kritis yang bertema transgender di antara tiga film utama lainya.

Selama tiga hari, Kine Club Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) akan menggelar Pesta Film Solo di area Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. Acara tersebut berlangsung mulai hari Kamis (03/05/2018) hingga Jumat (05/05/2018). 

Pada sesi ketiga malam itu (Kamis, pukul 19:00 WIB) Kine menayangkan salah satu film utama yang berjudul “Bulu Mata” karya Toni Trimarsanto. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi film tersebut. Sedikit berbicara mengenai film ini, “Bulu Mata” adalah sebuah film dokumenter yang mengangkat kisah kehidupan sekelompok waria atau transgender di Kota Serambi Mekah, Banda Aceh. Film yang dibuatnya sendiri selama kurang lebih satu tahun itu mengupas bagaimana mereka (para transgender) menjalani kehidupan di sebuah kota dengan beberapa peraturan yang dianggap kurang memihak terhadap kaum seperti mereka. Dalam film tersebut, disajikan banyak pengalaman mereka termasuk dalam hal mencari tempat tinggal, mencari nafkah, kemudian sampai hal mendapatkan KTP. Tidak hanya dari Sisi tersebut, film berdurasi 60 menit itu juga memberikan kisah tanggapan keluarga mereka terhadap keputusan yang mereka buat. 

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Sang Empu filmnya dan pihak Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia yang diwakili oleh Zaitunah Subhan. Pemilihan isu transgender untuk mewakili salah satu sub tema acara Pesta Film Solo #8 ini agaknya begitu menarik antusias para penonton yang ikut serta berdiskusi. Terlihat banyak yang kemudian memberikan tanggapan dan pertanyaan akan film tersebut dalam sesi diskusi. Sutradara Film Bulu Mata banyak menceritakan mengenai latar belakang dan tujuan dari pembuatan film Bulu Mata ini. Diskusi tersebut juga diimbangi dengan memunculkan sisi penting dari adanya LSF Indonesia. Pada kesempatan itu, Zaitun selaku Ketua Komisi II Bidang Hukum dan Advokasi LSF membenarkan bahwa tujuan edukasi dari film gubahan Toni tersebut sangat kentara. Tujuan akhir pembuatan film tersebut berkenaan dengan bagaimana menyadarkan keluarga serta masyarakat sekeliling terhadap orang-orang atau bagian dari keluarganya yang transgender.

Pesta Film Solo #8 kali ini memilih tema “Suara Sinema”. Tema ini merepresentasikan isu-isu yang terjadi di lingkungan Si Pembuat Film sendiri ataupun idealisme-idealisme mereka sendiri. Kemudian panita membagi tema besar tersebut dalam tiga subtema, yaitu permasalahan dari diri sendiri, permasalahan kelompok, dan permasalahan suatu tempat (lingkungan).

“Malam ini membahas (sub tema -red) pemasalahan di suatu tempat. (Film “Bulu Mata” –red) adalah sebuah kisah sekelompok transgender daerah di Banda Aceh masuk di situ”, papar Ferlita selaku Ketua Panitia Pesta Film Solo #8. Kemudian ia juga menambahkan, “isu gender dipilih dengan alasan bahwa masalah tersebut adalah masalah yang sedang ramai diperbincangkan dan menjadi satu masalah yang sering dibahas akhir-akhir ini.”

Raihana, mahasiswa yang menjadi salah satu penonton dan peserta diskusi sesi tersebut mengaku banyak hal yang didapat dari mengikuti sesi ketiga rangkaian PFS ini.

“Saya mendapat sudut pandang baru mengenai transgender dan bagaimana mereka menjalani keseharianya di daerah yang kurang bisa menerima mereka sepenuhnya. Yang lain, mengetahui permasalahn mengenai film dan etika mengenai film tersebut serta bagaimana cara kerja LSF juga,” ungkapnya pada VISI. Ia juga beranggapan bahwa acara sepert PFS penting untuk diselenggarakan guna mengedukasi masyarakat.
Sejalan dengan apa yang disampaikan Toni selaku sutradara film tersebut bahwa sejatinya setiap film itu bisa dilihat sisi edukasinya.

Terlepas dari bahasan bagaimana menariknya sesi tersebut, Kine Club masih memiliki pada hari Jumat (04/05/2018) hingga Sabtu (05/05/2018) untuk segala rangkaian acara yang telah disiapkan matang sejak akhir November 2017. Kine telah menyiapkan enam pembicara sekaligus satu komunitas film untuk tiga hari penyelenggaraan PFS.

Sedangkan untuk kendala yang dialami panitia dalam mewujudkan event ini adalah berkenaan dengan jadwal para elemen pendukung, baik itu dari pembicara atau narasumber, para kurator, serta para panitia sendiri –yang masing-masing di antara mereka memiliki kesibukan yang berbeda-beda.

“Semoga tahun depan bisa mengundang pembuat film dari luar negeri,” pungkas Ketua Panitia Pesta Film Solo #8.  (Ade Uli)

SHARE THIS

0 comments: