Thursday, May 24, 2018

Paradigma Gerakan Reformasi Dulu dan Masa Kini


Lpmvisi.com, Solo - Gerakan Mahasiswa pada Mei 1998 menjadi puncak dari pergolakan sosial politik pada saat itu. Tahun 1997 Soeharto kembali terpilih menjadi presiden dan memimpin Indonesia selama 32 tahun. Sementara banyak hal yang menjadi dampak dari kebijakan masa orde baru, yang tidak juga terselesaikan. Keterpurukan ekonomi Indonesia di tahun 1997, seiring dengan terpuruknya perekonomian dunia, mengakibatkan kenaikan harga besar-besaran. Sementara itu, masyarakat kesulitan mendapat uang. Namun kemudian tidak ada kebijakan pemerintah yang mengindikasikan dukungan kepada masyarakat agar memiliki ketahanan ekonomi. Ini menjadi salah satu pemantik pecahnya gerakan Reformasi tahun 1998.

20 tahun berlalu, rupanya reformasi tidak berhenti begitu saja. Lima puluhan mahasiswa berkumpul di Teater Arena Taman Cerdas Jebres pada Minggu sore (20/05/2018). Mereka berkumpul untuk mengenang reformasi dan menggelar diskusi bertajuk “Apa Kabar Reformasi?” bersama Sugeng Riyanto, seorang aktivis mahasiswa pada masa reformasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) bersama Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS).

 
Mengingat reformasi dalam diskusi "Apa Kabar, Reformasi?" yang berlangsung di Teater Arena Taman Cerdas Surakarta (Dok. VISI/Yuni)


Sugeng Riyanto menceritakan bagaimana situasi politik, sosial, dan ekonomi pada masa sebelum pecahnya reformasi. Anggota DPRD Kota Surakarta tersebut juga bercerita mengenai dominasi partai penguasa pemerintahan yang begitu luar biasa dan minimnya ruang publik untuk menyampaikan aspirasi. Sugeng kembali mengenang ketika tahun 1997, ia bersama kawan-kawannya sesama mahasiswa yang tergabung dalam aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hendak mengadakan sebuah diskusi dengan menghadirkan Slamet Suryanto yang pada saat itu menjabat Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Diskusi tersebut diselenggarakan untuk membahas seperti apa sudut pandang PDI mencermati dinamika sosial politik Indonesia secara makro.

“Diskusi yang belum berlangsung, dibubarkan oleh intel dari aparat. Padahal itu merupakan diskusi resmi dan terbuka untuk umum, tidak secara sembunyi-sembunyi,” tuturnya.
Selain mengenang reformasi tahun 1998, diskusi sore itu juga menyoroti pergerakan mahasiswa pada masa ini bersama Adin Hanifa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi FISIP UNS. Presiden BEM FISIP 2016 tersebut menegaskan tentang pentingnya pergerakan mahasiswa untuk memiliki keresahan bersama, konsisten dengan apa yang diperjuangkan, dan adanya regenerasi pergerakan. Regenerasi, bukan hanya perihal adanya adik tingkat yang meneruskan, melainkan adanya spirit pergerakan yang harus ditegakkan meskipun sudah tidak menjadi mahasiswa lagi. Adin juga mengungkapkan keprihatinannya pada gerakan mahasiswa saat ini yang menyekatkan diri dengan batas batas ideologi tertentu.

Muhammad Shidiq, Mahasiswa Prodi Sosiologi FISIP UNS, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri BEM FISIP UNS menjelaskan, momentum reformasi bukan satu-satunya alasan diskusi ini dilakukan. Menurutnya, yang menjadi hal penting dalam agenda ini adalah analisis mengenai pergerakan mahasiswa pada masa ini. 
“Harapannya agar peserta yang hadir juga ikut terpantik, mengetahui seperti apa sih analisa gerakan mahasiswa dulu dan saat ini.” Uangkapnya
.
Selain diskusi, acara tersebut juga menampilkan live mural oleh mahasiswa FSRD. Ditemui usai acara, Amanda selaku Wakil Ketua KMSR mengungkapkan agenda ini sekaligus menjadi kesempatan besar bagi KMSR untuk menjalin hubungan baik dengan fakultas lain. Ia juga menambahkan, melalui seni dapat menjadi salah satu cara untuk  menyalurkan aspirasi.

Amanda juga mengaku senang dengan adanya diskusi “Apa Kabar, Reformasi?”. “Aspirasi dari mahasiswa manapun dapat secara langsung tersalurkan. Dan aspirasi tidak hanya dari omongan, kita mahasiswa seni menyalurakan aspirasi dengan gambar,” sambungnya.

Dari bangku peserta, Fera Wati−mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)− yang menyempatkan hadir mengaku dirinya tertarik mengikuti agenda tersebut karena menurutnya diskusi tersebut masih jarang dijumpai. Ia juga menyebutkan, dua puluh tahun peringatan Reformasi bukan momentum yang dapat dijumpai berkali-kali.

“Harapannya acara semacam ini akan semakin menjamur, tidak hanya sekali. Follow-up-nya juga, setelah acara ini ada apa lagi. Biar mahasiswa juga semakin tertarik,” pungkasnya. (Yuni)  



SHARE THIS

0 comments: