Sunday, April 8, 2018

Sosok Nyai Ontosoroh dalam Bingkai Teater Merah


Pertunjukan Teater Merah dalam Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Taman Balekambang, Surakarta. (Dok. VISI/Dania)
“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai. —Nyai Ontosoroh

Lpmvisi.com, Solo - Kutipan di atas sangatlah jelas menggambarkan betapa setianya Nyai Ontosoroh kepada Tuan Muda Mellema. Nyai Ontosoroh merupakan nyai yang pada waktu itu dianggap sebagai perempuan yang berstatus simpanan orang Belanda. Menyadari hal itu, membuatnya berusaha keras dengan terus-menerus belajar agar mendapat pengakuan sebagai manusia.

Pertunjukkan yang dikemas oleh Teater Merah tersebut merupakan puncak acara dari rangkaian Milad IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang ke-54. Mengangkat cerita dari novel terkenal milik Pramoedya Ananta Toer karena ingin menyampaikan pesan moral yang teramat dalam bagi penonton yang menikmatinya. Siapa yang tidak mengetahui Novel Bumi Manusia? Pastilah banyak orang yang tahu. Sehingga tidak mengherankan apabila banyak penonton yang ingin menghadiri pertunjukkan yang dilaksanakan pada hari Rabu, 4 April 2018 di Taman Balekambang, Surakarta tersebut.

Pemeran Nyai Ontosoroh bernama Vionella Monica Putri biasa dipanggil Lala. Mahasiswi Program Studi (Prodi) Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut menyebutkan karakter Nyai Ontosoroh dalam novel tetralogi Pramoedya Ananta Toer membawa dua semangat, yaitu semangat keperempuanan dan semangat literasi. Di dalam drama yang dikemas oleh Teater Merah ini memang terfokus pada Nyai Ontosoroh. Berbeda fokus memang dengan novel Bumi Manusia. Ada sesuatu yang ingin ditonjolkan yaitu Nyai Ontosoroh. Tanpa mengurangi tokoh Minke, tetapi seolah-olah menjadikan Nyai Ontosoroh yang menonjol.

Berbeda dengan pemeran Minke bernama Bahctiar Fajar Wicaksono dari Teknik Mesin UMS. Tokoh Minke dikenal sebagai seorang yang kalem dan tegas. Tegas dengan para penguasa, salah satu caranya yaitu dengan membuat buku yang terkenal di sekolahnya.

Saat menempuh pendidikan di Eropa, Minke dikucilkan karena ia merupakan orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Eropa. Nama Minke merupakan pelesetan dari kata monkey. Gurunyalah yang memberi panggilan itu karena sudah terlalu jengkel pada Minke.

Minke sangat mencintai Annelies anak kedua dari pasangan Nyai Ontosoroh dan Tuan Mellema. Annelies juga mencintai Minke namun ayahnya tidak merestui hubungan keduanya karena tidak ada dalam sejarah keturunan Eropa berhubungan dengan pribumi.

Robert Mellema, anak pertama dari pasangan Nyai Ontosoroh dan Tuan Mellema, berbeda dengan Annelies. Ia justru ingin menjadi Eropa sehingga kelakuannya mirip dengan ayahnya. Sampai-sampai, tidak mengakui Nyai Ontosoroh sebagai ibunya. Panggilan “Nyai” memang dipandang sangat rendah oleh orang Eropa. Nyai Ontosoroh sangat sedih melihat kelakuan anak pertamanya.

Hari-hari pelik dilalui Nyai Ontosoroh dengan membaca dan menambah pengetahuan tentang Eropa. Hingga suatu hari, ia melihat Tuan Mellema tergeletak di lantai dan meninggal dunia.

Pertunjukan teater yang menggambarkan perjuangan perempuan menjadi wanita simpanan di masa kolonial ini memang memotong beberapa adegan yang tidak cocok untuk ditampilkan di depan umum. Misalnya, adegan di tempat pelacuran  yang diganti dengan tempat perjudian kemudian menjadi jembatan alasan Tuan Muda Mellema meninggal dunia. Mengingat kembali bahwa pertunjukkan ini dilaksanakan dalam rangka Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). (Ika, Dania)

SHARE THIS

0 comments: