Saturday, December 30, 2017

Menyusuri Kisah Sang Filsuf

Judul : Zadig | Penulis: Voltaire | Penerbit : Penerbit OAK | Cetakan : Oktober 2015 | Tebal: 154+
(Dok. Internet)
Oleh: Dita Annisa P.

Pertama kali melihat buku kecil dengan ornamen potongan tubuh tak utuh ini, saya pikir “Zadig” hanyalah novel roman biasa. Namun, pikiran itu terpatahkan ketika saya menemukan kejutan-kejutan di dalamnya.
Cukup sulit untuk menginterpretasi cerita ini. Rasanya, butuh lebih dari sekali tandas buku ini dilahap. Buku ini perlu dilumat perlahan supaya detil manis-asinnya tidak terlewat begitu saja. Saya sempat terpikir hendak menutupnya lalu beralih ke lain buku. Akan tetapi, rasa penasaran terus mengejar saya untuk berimajinasi tentang sosok Zadig hingga saya bertekad menuangkannya dalam tulisan cacat ini. Saya akan menarasikan Zadig dan Voltaire dalam satu garis khayal yang sejajar.
Zadig menggebrak paham-paham yang dianut pada masanya dirasa salah kaprah. Zadig juga dapat dikatakan sebagai perantara Voltaire−sang penulis−dalam menyampaikan keresahannya pada dunia. Melalui Zadig, Voltaire menuangkan isi kepala serta suasana hatinya ke dalam kritik-kritik serta sarkasme atas dogma-dogma agama yang dinarasikannya menjadi serangkaian alur cerita yang utuh. Tak heran jika karya Voltaire yang satu ini menciptakan candu bagi penikmatnya.
Buku kecil ini mengajak kita berpetualang bersama sang tokoh utama. Kita akan menyelami kehidupan Zadig yang tak pernah menuntut dunia untuk memujanya. Ia hanya menginginkan bahagia yang berulangkali direnggut semesta setiap ia baru saja mencecapnya. Kisah cinta Zadig dengan wanita di Babilonia nampaknya mendapat porsi besar dalam buku ini. Kegagalan kisah cinta yang tak membuat Zadig larut dalam kesedihan pun tak luput dikisahkan.
Kecintaan Zadig terhadap ilmu pengetahuan mendorongnya menjadi seorang filsuf dan penyair yang mengeksplorasi keagungan pencipta dengan mempelajari gejala alam, hewan, serta tumbuhan. Kecerdasan dan kejeliannya dalam mengamati fenomena dan gejala alam serta caranya menghadapi kegagalan mengajak pembaca untuk berkontemplasi tentang optimisme hidup.
Semua kejadian yang menimpanya tak urung menjadikan Zadig lebih bijak. Zadig berkawan dengan banyak cendekia berbudi luhur, orang-orang jujur, dan para filsuf dari berbagai kerajaan. Bersama mereka, Zadig berdiskusi tentang apa saja yang tengah bergejolak di dunia.
Banyak orang yang menyukai karakter Zadig yang begitu bijak, cerdas, berpikiran terbuka, berwawasan luas, serta rendah hati. Mereka senang untuk sekadar berbincang hingga berburu ilmu darinya. Namun, segala kebahagiaan yang dirasakan Zadig ternyata menyulut amarah seorang pria pendengki. Pria tersebut diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Zadig. Orang-orang di sekitar pria tersebut memang tak ada satu pun yang menghiraukan keberadaannya, sekalipun ia berbuat baik. Setiap kebaikan yang ia lakukan tak ubahnya menimbulkan iri, dengki, serta kebencian dari orang-orang di sekitarnya.
Voltaire membumbui cerita Zadig  dengan berbagai pelajaran serta filosofi hidup yang ringan dinikmati sekaligus mengandung banyak pembelajaran. Ketika saya membaca cerita ini, saya merasa seolah Voltaire tengah membacakan ceritanya secara langsung. Buku ini sangat menarik, baik bagi mereka yang baru mencicipi cerita roman satire barat −seperti saya, maupun penikmat karya sejenisnya.

SHARE THIS

0 comments: