Thursday, October 19, 2017

Bookfair Jadi Sarana Eksistensi Censor FISIP UNS

Suasana bazar buku oleh Censor di Public Space 2 FISIP UNS, Rabu (18/10/2017). Acara ini merupakan program kerja bidang Humas. (Dok.VISI/Arif)

lpmvisi.com, Solo
Waktu tak jadi penghalang bagi para anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Center Of Social and Political Research (Censor) untuk menunjukkan eksistensinya. Pada Senin  (16/10/2017) hingga Rabu (18/10/2017), organisasi yang terbentuk sejak 2005 silam itu melaksanakan program kerja bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS), yakni bazar buku atau bookfair. Bertempat di Public Space 2 FISIP UNS, kegiatan ini mendapat respon positif dari para pengunjung.

“Bazar buku di kampus (FISIP-red) menarik, karena mahasiswa butuh banyak bahan bacaan untuk menambah wawasan. Buku-bukunya pun bagus-bagus,” ungkap salah seorang pengunjung bernama Niko (20).

Jenis-jenis buku yang memeriahkan kegiatan kali ini beragam. Mulai dari yang bertema sosial humaniora, politik, filsafat, pengetahuan umum, bahkan hingga novel-novel yang layak dibaca mahasiswa FISIP pada khususnya. Dari pihak panitia sendiri mengaku tak mengalami banyak kendala berarti selama proses pelaksanaan bookfair.

“Selama tiga hari bookfair berjalan dengan cukup lancar, hanya ada kendala kecil sewaktu mempersiapkan buku-buku. Karena mengejar waktu agar PS (Public Space-red) tidak dipenuhi mahasiswa, jadi jam enam pagi buku-buku harus siap.” ujar Dedy selaku Koordinator Program.

Dalam bookfair kali ini, Censor menggandeng empat penerbit untuk diajak bekerja sama. Diantaranya adalah Kekata, Yayasan Obor, Jalasutra, dan Bentang Pustaka. Sistem yang digunakan dengan penerbit-penerbit tersebut adalah bagi hasil.

“Setiap penerbit memberi potongan harga terhadap buku, namun masing-masing penerbit memberikan potongan harga yang berbeda, ada yang 30-35%,” pungkas Dedy. (Arif)

SHARE THIS

0 comments: