Saturday, September 16, 2017

Mereka yang Hidup dan Mati Karena Koran

Ilustrasi Koran. (Dok. Internet)
Solekhan tak tahu lagi cara memohon nubuat. Kepalanya nyaris hilang akal. Saat ditemui di tempat kerjanya, penjual koran yang saban hari ngetem dengan gerobak kecil di depan Gerbang Kampus UNS itu hanya bisa menghela nafas dan mengisahkan kondisinya.

Delapan tahun silam, saat memutuskan berjualan koran di daerah Kampus UNS, pria berusia 50 tahun itu yakin mahasiswa yang notabene kaum intelektual membutuhkan asupan bacaan koran tiap hari. Kini, tahun demi tahun berlalu dan keyakinan Solekhan menggundul.

“Menurun sekali. Jadi di sini dulu saya jualan koran semuanya laku. Sekarang itu paling lima eksemplar per hari. Dulu bisa sampai terjual 50 eksemplar per harinya,” tutur Solekhan saat ditemui VISI, Kamis (14/9/2017).

Solekhan sempat melakukan pengamatan kecil terhadap para pembelinya akhir-akhir ini. Hasilnya, ia justru makin dibuat gundah oleh motif sebagian mahasiswa UNS.

“Hanya kalau ada perlu, ada tugas mereka baru cari. Sebagian lain membeli karena ingin melihat tulisannya yang dimuat di koran. Biasanya mereka datang sambil bilang ‘wong tulisan saya masuk di koran kok pak’,” kelakar Solekhan.

Oleh penurunan tersebut, Solekhan dipaksa mundur langkah demi langkah. Jumlah rupiah yang bisa ia kantongi dari kerja berjualan koran terus anjlok. Kini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, Solekhan harus sembari bekerja di ranah lain.

“Ini seandainya saya nggak sambil ngojek, mungkin saya sudah kukut (bangkrut-red). Karena hasilnya dari berjualan koran ya segitu saja.”

Solekhan pun tak menampik jika pemutakhiran teknologi gawai turut menjadi faktor penyebab menurunnya minat baca koran di kalangan mahasiswa. Oleh yang satu ini, ia tak sampai daya untuk berkutik.

“Sekarang sudah ada HP. Jadi mau cari berita apa itu kan sudah bisa lebih mudah,” timpalnya.

Berbeda dengan, Solekhan, Agus Sari Gunawan punya nasib yang lebih mujur perihal berjualan koran. Pria berusia 45 tahun itu saban harinya masih dapat menjual 50 eksemplar koran.

Insya Allah bisa laku 50 (eksemplar-red) per hari. Kalau saya khusus pengasong sambil mencari pelanggan,” ungkapnya ketika ditemui VISI pada Rabu (6/9/2017) di kawasan FISIP UNS, .

Namun, untuk mendapat nasib mujur itu Agus perlu menjemput bola. Saban hari ia harus berkeliling ke tiap fakultas di UNS guna menjajakan koran. Tanpa kemauan berkeliling, Agus paham betul usahanya berjualan koran mungkin sudah bangkrut sejak dulu.

Seperti halnya Solekhan, pria yang sudah 10 tahun berjualan koran itu mengakui adanya penurunan minat baca koran di kalangan mahasiswa UNS. Selain karena pemutakhiran gawai dan teknologi, Agus menambahkan penurunan ini turut disebabkan semakin jarang mahasiswa yang benar-benar punya 'niat' berkuliah.

“Perkembangan minat baca mahasiswa makin tak terarah. Ini karena kalau saya lihat sekarang mahasiswa ke kampus hanya sekedar formalitas. Absen, masuk kelas, mendengarkan dosen, lalu pulang. Kelanjutan dari pembahasan materi dosen tidak ada, jadi mereka juga tidak mencari referensi bacaan (termasuk dari koran-red),” tandas Agus.

Menanggapi komentar Solekhan dan Agus, VISI kemudian mewawancarai sejumlah mahasiswa UNS. Dari keterangan yang dihimpun, sebagian memang mengakui adanya penurunan minat baca koran dalam diri mereka.

“Untuk intensitas baca koran saya memang tidak terlalu rutin. Paling seminggu sekali, biasanya yang edisi hari Minggu,” ujar Sholahuddin Akbar, mahasiswa Fakultas Pertanian UNS.

Lebih lanjut, pria yang juga merupakan anggota BEM UNS itu punya alasan tersendiri mengapa memilih koran edisi Minggu. Bagi Sholahuddin, koran di hari Minggu menarik karena memuat rubrik fotografi kegemarannya.

Klinik Fotografi Kompas, itu muncul tiap hari Minggu. Di situ cukup menarik, karena banyak referensi mengenai angle fotografi,” papar Sholahuddin ketika diwawancarai VISI, Kamis (7/9/2017).

Muhammad Shidiq Fathoni, mahasiswa Sosiologi 2015 juga mengakui dirinya mulai jarang membaca koran. Kesibukan kuliah dan berorganisasi di kampus merupakan alasan utama.

“Karena banyak kesibukan lumayan jarang baca. Kadang kalau sempat baca biasanya saya rangkap, sekalian baca beberapa edisi sebelumnya.”

Pula dengan Kaffa Hidayati, mahasiswi Sastra Indonesia UNS. Ia mengaku akhir-akhir ini hanya membaca koran sekitar dua kali tiap pekannya. Koran-koran yang biasa ia baca antara lain Tempo dan Media Indonesia.

"Yang langganan bapakku, kalau koran Tempo itu memang langganan dari situ. Media Indonesia biasanya beli," imbuh Kaffa saat diwawancarai VISI, Rabu (5/9/2017).

Meski banyak mahasiswa mulai meninggalkan, masih ada segelintir yang tetap menjadikan koran sebagai bacaan rutin. Salah satu dari segelintir yang dimaksud adalah Vera Safitri.

“Aku langganan Kompas. Kalau Solopos aku juga baca, biasanya di Sekretariat LPM Kentingan karena berlangganan. Kadang juga di Perpustakaan UNS,” tutur mahasiswi Sosiologi FISIP UNS itu.

Selain Kompas dan Solopos, Vera juga kerap membaca koran lain seperti Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, hingga Tempo yang sekarang mulai sukar didapat. Dari koran-koran yang dibacanya, Vera paling gemar memindai berita headline, opini, dan rubrik sosial budaya. Mengenai penurunan minat baca koran di kalangan mahasiswa UNS, Vera tak berani mengamini hal tersebut. Namun dari sejumlah informasi yang sampai ke telinganya, ia tak menampik jika penurunan minat baca koran memang sedang terjadi.

“Contohnya Tempo, mereka koran besar nasional tapi beberapa waktu terakhir tidak cetak selain di Jakarta. Berarti kan mereka menganggap omsetnya sudah menurun. Di belakang kampus, dulu ada dua kios langganan koran dan sekarang sudah tutup dua-duanya. Ya nggak bagus lah,” pungkas Vera. (Fauzan, Yuni)

SHARE THIS

0 comments: