Saturday, May 6, 2017

Harmoni dalam Keberagaman Budaya Mahasiswa Asing UNS


Salah satu pertunjukan dari kolaborasi mahasiswa ASEAN pada UNS Cultural Night 2017. Acara yang berlangsung di Auditorium UNS pada Kamis (04/05) ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh UNS International Office. (Dok.VISI/Prasasti)

Dinginnya udara malam tak menyurutkan niat para penonton untuk datang menghadiri UNS Cultural Night (UCN) 2017 yang diselenggarakan di Auditorium UNS pada Kamis (04/05). Di pintu masuk gedung, terlihat dekorasi apik dengan bunga berwarna- warni yang dijadikan spot untuk berfoto bagi penonton. Sebelum acara yang menampilkan pertunjukan mahasiswa asing UNS dari 32 negara tersebut dimulai, nampak pula para penampil sedang bersiap- siap dan sudah mengenakan kostum khas dari negara masing-masing. Sesekali, penonton mengajak mereka foto bersama. Wajah- wajah para penonton nampak sumringah.

Penonton memenuhi area bawah dan tribun atas Auditorium UNS. Di area bawah, tersedia stand dari berbagai negara seperti Nigeria, Turkmenistan, Rwanda, Thailand, China hingga Yunani. Masing- masing dari mereka menyajikan makanan tradisional yang nantinya dapat ikut dicicipi oleh para penonton dengan cara menunjukkan kupon yang sudah diberikan panitia.

Tepat pukul 20.00, acara dibuka dengan tarian kolaborasi tradisional dan kontemporer. Selanjutnya, para mahasiswa asing menampilkan tarian tradisional khas—seperti tarian yang menceritakan kisah petani dari Kamboja—fashion show, dan lagu- lagu tradisional. Tak hanya itu, penonton juga diberi suguhan spesial berupa tarian kolaborasi negara-negara ASEAN yang melambangkan keberagaman dan kebersamaan antarnegara di Asia Tenggara. 

Pada tahun ini, UCN mengangkat tema Building Pieces Together into Perfect Harmony. Tujuan dipilihnya tema ini adalah untuk mengungkapkan keberagaman berbagai suku bangsa serta budaya layaknya sebuah puzzle, yang jika digabungkan akan membentuk sebuah kesatuan yang padu.

“Sebenanrnya pesan UCN dari tahun ke tahun sama, intinya kita mempersatukan banyak keberagaman menjadi harmoni yang padu. Yang membedakan adalah dari segi undangan yang terdiri dari empat sisi, melambangkan banyak budaya yang kemudian dilipat atau disatukan. Tema dari tahun ke tahun juga yang bikin beda,” papar Rima, salah satu panitia UCN 2017 ketika diwawancarai oleh VISI di sela-sela kemeriahan acara tahunan tersebut.
Beragamnya pertunjukan budaya dari berbagai belahan dunia menjadi salah satu daya tarik dalam penyelenggaraan UCN setiap tahunnya. (Dok.VISI/Prasasti)
Acara yang diselenggarakan oleh UNS International Office ini mendapat berbagai tanggapan dari para penonton. Iqbal, salah satu mahasiswa Fakultas Teknik yang ditemui VISI mengaku sangat terhibur dengan adanya UCN.

“Yang dibayar sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Saya harap event seperti ini terus diadakan di UNS, kalau bisa negaranya (yang berpartisipasi—red) lebih banyak,” ujar Iqbal.

Sementara itu, Shafa, mahasiswi Fakultas Kedokteran yang juga sempat ditemui VISI mengungkapkan bahwa ini adalah kali kedua ia menghadiri UCN. Meski hanya dapat duduk di tribun dan tidak dapat mengakses area bawah, ia mengaku cukup terhibur.

“Kalau bisa, di tribun juga disediakan beberapa stand seperti area bawah. Jadi, kita (yang tidak bisa ke bawah—red) juga bisa menikmati kuliner khas negara- negara yang ikutan UCN,” imbuhnya.

Menjelang pengujung acara, pembawa acara mengumumkan pemenang makanan tradisional terbaik dan juara fashion show. Untuk makanan tradisional, pemenangnya jatuh kepada perwakilan negara Myanmar. Sedangkan Turkmenistan memenangkan juara fashion show kategori pria, dan Timor Leste untuk kategori wanita.

VISI sempat mewawancarai Wyut See Soe atau yang akrab disapa Victoria,  pemenang untuk kategori makanan tradisonal terbaik. Kepada VISI, Ia mengungkapkan bahwa dirinya tak menyangka akan menjadi pemenang.

“Saya memasak durian stickey rice dan coconut chicken curry,” imbuh Victoria yang berbicara dengan setengah bahasa Inggris. Tak menjadi masalah bagi Victoria untuk membeli banyak buah durian demi berpartisipasi dalam acara ini, meskipun harganya saat ini sedang mahal.

Sedangkan Laura, pemenang fashion show dari Timor Leste mengungkapkan bahwa dirinya memang telah menyiapkan pakaian yang spesial menurutnya. 
Laura, pemenang fashion show yang merupakan salah satu perwakilan asal Timor Leste dalam pada UCN 2017. (Dok.VISI/Prasasti)
“Ini saya pakai pakaian tradisional khas Timor Leste. Pakaian ini biasa digunakan ketika wanita akan menikah. Sama seperti batik Indonesia, masing- masing kain mempunyai filosofi dan makna tersendiri,” ujar Laura kepada VISI saat ditemui sesaat usai acara UCN 2017.  Gadis yang saat ini sedang menempuh kuliah pada Program Studi Farmasi ini mengaku senang kain kebanggaan Timor Leste yang disebut Tais, Kron dan Belak dapat ditampilkan pada UCN tahun ini. (Prasasti, Nabilah)

SHARE THIS

0 comments: