Sabtu, 29 April 2017

Pelangi di Sela-Sela Hujan

Ilustrasi.VISI/Fauzan

Oleh: Dita Khairunnisa

“Yah, hujan.” Aku mendengar keluhan-keluhan setiap orang. Berbagai macam ekspresi tak mengenakan keluar dari wajah mereka. Sedih, kecewa, kesal. Tak ayal, aku yang terjebak hujan di sebuah stasiun kecil ini pun menjadi bagian di antaranya. Aku pun mencari kursi kosong di antara penuhnya kursi yang berjejer saling berpunggungan.

“Hujannya lumayan juga ya,” tiba-tiba kudengar suara seseorang dari belakangku. Spontan, aku pun menoleh tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa punggung kutemukan berjejer di belakangku. Aku ragu, haruskah aku menjawab atau tidak? Entahlah, ada banyak orang di sini dan aku pun tak tahu kepada siapa suara itu ditujukan.

“Sendirian aja, Mbak?” Ujar suara itu lagi. “Nggak dijemput?”

Nggak,” Jawabku singkat. Aku tak tahu mengapa tapi naluriku mengatakan pertanyaannya untukku.

“Akhirnya dijawab juga,” pelan. Sangat pelan hingga kurasa tak ada orang yang mendengarnya, kecuali aku. Sedikit bersyukur mendengarnya karena aku takut menjawab suara yang bukan untukku.

“Mau ke mana?” Tanyanya yang kurasa untuk menutupi pernyataan yang sebelumnya.

“Pulang,” jawabku singkat yang membuatnya tetawa kecil.

“Ya masa udah malam masih ke kantor aja. Emang di mana rumahnya?”

“Di situ,” jawabku dengan singkat lagi. Aku bukan tipe orang yang dengan gamblang memberi tahu informasi pribadi. Terlebih dari suara yang bahkan aku saja masih sanksi pemilik suara itu.

“Lagi bete banget kayaknya. Ada masalah? Atau karena hujan?”

Aku tersenyum sinis sebelum menjawab pertanyaan yang tepat sasaran. “Hujan.”

“Segitu bencinya sama hujan?”

“Ya. Kurasa semua orang juga tidak suka hujan. Dan karenanya aku pun terjebak di sini,” jawabku dengan nada kesal. Bukan karena pertanyaan-pertanyaan dari suara itu yang entah mengapa membuatku senang.

“Semua orang? Benarkah?” tanya suara itu. Tanpa berpikir lagi, aku pun menjawab, ya, dengan cepat. Namun jawaban itu hanya sampai di tenggorokanku dan berubah menjadi sebaliknya.

“Aku tahu seseorang yang sangat menyukai hujan,”


***


Hari ini hujan turun dengan derasnya. Menggantikan matahari yang sesaat lalu membuat langit cerah. Hampir semua orang kesal dengan peristiwa ini. Namun tidak dengan gadis dihadapanku. Senyumnya merekah dengan mata berbinar menatap tetes demi tetes air yang turun. Sesekali mengadah ke langit untuk melihat sumber air itu.

Aku tersenyum melihat wajahnya bagai anak kecil. Menggeleng melihatnya berubah seketika hanya karena hujan.  Aku yakin dirinya akan bergabung dengan air-air itu jika ia tak sadar diri sedang di kelas. Dan satu hal yang kutakutkan pun terungkap dari wajahnya. Dia berharap hujan tak akan berhenti.

 Namun ada satu hal yang kusukai. Ia selalu bercerita mengenai hujan. Bagaimana hujan membuatnya bahagia dan menjabarkan bau hujan yang menjadi favoritnya. Aku menduga ia akan membuat parfum hujan setelah ini. Hingga, entah bagaimana, aku seperti melihat pelangi di sela-sela hujan.


***


“Kenapa kau benci hujan?” tanya suara itu.

“Kenapa? Ada sesuatu, ya. Pasti punya kenangan buruk,” ujarnya yang lagi-lagi tepat sasaran. Aku merasa sedikit was-was kalau aku sedang berbicara dengan cenayang.

“Begitulah.” Kataku sambil tersenyum hambar mengingat kenangan itu.

“Kenangan apa?” Tanyanya. Sesaat aku pun terdiam, mencerna kata-kata yang akan kukeluarkan, sebelum akhirnya aku bercerita. Tentang bagaimana hujan yang pernah terlihat indah kini menjadi kelam, layaknya warna langit yang nampak saat tetesan air turun.

Sebuah buku mengenai hujan di otakku pun terbuka. Dimulai saat hari di mana air turun dengan lebatnya. Menghalangi pandangan siapapun. Saat itulah sebuah kecelakaan menimpaku dan ayahku. Entah bagaimana aku selamat namun tidak dengan ayahku. Hal itu pun berlanjut hingga di mana kakakku pergi.

Aku juga menceritakan lembaran terakhir. Saat di mana sahabatku, gadis penyuka hujan, meninggalkanku tak lama setelah kekasihku pergi entah kemana. Meninggalkan hati yang tak pernah kosong namun berubah menjadi hampa. Dan semua terjadi pada waktu hujan turun. Saat itulah, aku tak pernah memiliki alasan untuk menganggap bahwa hujan itu indah.

“Maaf. Aku tak bermaksud meninggalkanmu.” Seketika aku menoleh ke arah suara itu. Mendapati seorang pria yang masih singgah di hatiku. Sesaat aku seperti melihat pelangi di sela-sela hujan. Namun, aku hanya bisa terdiam menatapnya. Tak tahu harus berbuat apa.  


SHARE THIS

0 Comments: