Monday, April 24, 2017

Marginalisasi Perempuan dan Gerakan Feminisme Radikal di Surga

(Dok.VISI/Eko)

Judul : Adam Hawa 
Pengarang : Muhidin M Dahlan 
Penerbit : ScriPtaManent 
Dimensi : 12 x 19 cm
Tebal : 167 halaman 
Cetakan : Cetakan II Juni 2015 

Oleh: Eko Hari Setyaji 

Hawa bukan perempuan pertama... 

Adam dalam kitab-kitab suci agama langit, Islam, Nasrani, dan Yahudi, dipercaya sebagai manusia pertama ciptaan Tuhan. Makhluk berjenis kelamin lelaki ini dibuat dari tanah. Sebelum kemudian ia diusir dari Surga, Tuhan telah berbaik hari memberinya seorang kawan yang–sebagaimana tertulis dalam ayat-ayat Tuhan –diciptakan dari seruas tulang iga Adam sebelah kiri (barangkali dari sini berawal penempatan perempuan dalam saf salat berjamaah). Tersebab Adam melanggar larangan Tuhan untuk tidak menyentuh atau apa lagi sampai berani memakan buah khuldi–buah yang hanya tumbuh di Surga–ia pun dihukum Tuhan dengan dilemparkan ke bumi bersama “rusuk kirinya”. Itulah sejarah yang selama ini diimani sebagai asal mula adanya manusia di bumi. Semua seakan dibuat “terbalik dan nyeleneh ” dalam novel karya Muhidin atau yang akrab Gus Muh ini. 

Kisah bermula dari kegundahan hati Adam mengenai penciptaannya. Adam hidup bersama tujuh kurcaci di Taman Eden –kurcaci, makhluk ciptaan Tuhan yang biasa membuat “onar” dan ditugaskan menjadi pengasuh Adam– tiap malam “ditemani tidurnya” oleh dongeng si Juru Cerita (Penjaga Mimpi) – yang sejatinya merupakan jelmaan malaikat yang diutus Tuhan untuk membimbing Adam. Adam merasa terhina dan tidak terima dengan cerita penciptaan dirinya yang diceritakan Penjaga Mimpi. 

Muhidin menyajikan dua versi “unik” mengenai penciptaan Adam. Pertama, ia mengartikan secara harfiah Adam yang dibuat dari tanah “lempung”. Tuhan telah memerintahkan malaikatmalaikatnya yang setia untuk menemui kaum kurcaci yang terkenal mahir membuat patung. Pada orang-orang mungil ini, Malaikat Pesolek memesan sebuah patung lempung makhluk terbaru yang kelak dikenal sebagai manusia. Gambar dan rancangan patung tersebut dibuat sendiri oleh Tuhan dengan detail yang sangat sempurna. Ketika saatnya tiba, Tuhan menghembuskan kehidupan ke dalam tubuh patung lempung tersebut dan memanggilnya dengan nama Adam. Kedua, Tuhanlah yang “melahirkan Adam”. Gus Muh menafsirkan Tuhan berkelamin laki-laki, maka Adam lalu dikisahkan lahir lewat ketiak Tuhan yang dipenuhi bulu. Dengan kekuatan mantra “KunFaYakUnNuKaYfAnKu” makhluk yang ada dalam pikiran Tuhan meronta keluar dari ketiak Tuhan. Tak heran, Adam pun berpikir kalau rambut yang ada di kepala dan sekitar kemaluannya merupakan rambut ketiak Tuhan. 

Adam ternyata lebih suka dan sepakat dengan versi kedua. Sebab menurutnya versi pertama sangat tidak keren “Lahir dari lempung? Ah, sungguh tak elok di kuping” ucap Adam kepada si Juru Cerita. Adam beranggapan sebutan “putra Tuhan” tentu jauh lebih terhormat. Meskipun begitu, si Juru Cerita telah berpesan bahwa cerita versi pertamalah yang kelak akan diyakini sebagai asal-usul nenek moyang mereka, karena telah tertulis dengan rapih di kitab suci yang tersembunyi di petala langit ke-6 Negeri Kabut. 

Setelah sekian lama sendiri di Taman Eden, pada suatu pagi Adam terkejut lantaran mendapati seorang makhluk lain yang sangat mirip dengan dirinya nangkring di batang pohon khuldi. Ah, tetapi setelah ia dekati, makhluk itu ternyata sedikit berbeda dengan dirinya. Ia meraba sekujur tubuh makhluk tersebut dan didapatinya tiga perbedaan mendasar dengannya. Pertama, bagian dadanya menggelembung, tidak rata seperti miliknya, kedua, di antara selangkangannya tidak terdapat gumpalan daging yang mirip akar tunjang seperti di tubuhnya, hanya rata, sedikit cembung serta mirip selongsong gua bergaris lurus kebawah, serta ketiga, lehermu lurus tidak ada tonjolan seperti buah pelir disana. Makhluk itu menyebut dirinya Perempuan bernama Maia.

Tinggallah Maia bersama Adam di Taman Eden, di sebuah rumah batu (entah belajar dari mana Adam cara membuat rumah itu). Setiap detik mereka lewati dengan bercinta sampai kelelahan. Rupanya, Tuhan yang pandai itu telah melengkapi Adam dan Maia dengan hasrat berahi yang membuat keduanya saling tertarik dan bergairah satu sama lain. Tiada hari tanpa bercinta. Hingga pada suatu masa Maia tiba pada titik jenuh karena pasangannya kelewat dominan dan suka memerintah. Maia tak diperkenankan memiliki inisatif, bahkan dalam soal bercinta sekalipun. Ia harus selalu mematuhi kehendak Adam, tanpa boleh membantah sedikitpun. Maka, kemudian ia memutuskan minggat dari lelaki bejat itu. 

Barulah setelah kepergian Maia entah ke mana, Tuhan memberikan Hawa sebagai penggantinya. Sosok Hawa yang lahir dari angan dan doa Adam diawal pertemuannya dengan Adam berkata,” Aku lahir dari doa dan harapanmu, Adam. Karena itu aku abdikan diriku sepenuhnya sebagai balas budi baikmu.” Hawa yang penurut serta tak pernah menuntut. Disuruh apapun akan ia laksanakan dengan kepatuhan seorang budak kepada majikannya.

Setelah setiap hari memadu kasih, Adam dan Hawa dikaruniai Tuhan sepasang anak kembar, Khabil dan Munah. Sejak masih berada di kandungan, kehadiran buah cinta Adam dan Hawa telah membuat sikap Adam berubah, hingga Khabil dan Munah tumbuh dewasa mereka tak pernah akur dengan Adam. Mereka menganggap Adam hanya lelaki kasar yang memperbudak ibu mereka. Puncaknya Adam “mengusir” Khabil untuk mengembara enam purnama sebagai tanda lelaki dewasa. Ditinggal kembarannya, Munah jadi stres dan hilang ingatan, hingga akhirnya dibunuh Adam dan digantung di dahan pohon khuldi. 

Khabil dalam pengembaraannya bertemu Marfu’ah (perempuan yang akhirnya ia nikahi karena terpaksa) –anak Maia dari hasil bercintanya bersama Idris (adik Adam)– dan tinggal beberapa lama di rumah batu Maia. Layaknya cerita sinetron FTV, Maia memendam dendam kesumat untuk membunuh dan membinasakan Adam. Diawali memuncaknya amarah Khuldi dengan keadaan Munah, Maia bersama Khabil dan Marfu’ah menyusun rencana pembunuhan Adam, memanfaatkan kelemahan Adam yang haus berhubungan seks. Marfu’ah menjadi umpan rencana Maia, menemui Adam di dekat pohon khuldi (tempat pertama kali Adam bertemu Maia).

Adam akhirnya terbunuh oleh nafsu birahinya, Marfu’ah pulang membawa dengan membawa bukti batu tajam bekas bercak darah Adam. Khabil berselingkuh dengan Maia, setelah membunuh Idris, dan Hawa yang kelak hidup bersama delapan anak kembar Adam –Hawa sedang hamil– menangis tertunduk meratapi kematian suaminya di Taman Eden.

Feminisme Radikal

Novel karya Gus Muh ini, sempat mendapat hujatan kelompok Islam karena sudut pandang penulisannya yang dianggap menyesatkan umat dan mempermainkan ajaran agama. Penulis juga berasumsi, pembaca novel ini pasti akan merasa kupingnya kepanasan dengan alur cerita nyeleneh  yang disajikan Gus Muh.

Di novel yang tipis ini, pembaca seolah digiring berasumsi perempuan adalah makhluk lemah yang harus patuh serta tunduk terhadap kaum laki-laki. Disinilah asal mula gerakan feminisme radikal muncul (di Taman eden, Surga). Dikutip dari buku Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosial, Penindasan kaum perempuan berakar dari kaum laki-laki hingga lahirlah bentuk patriarki, dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan privilege ekonomi atas perempuan. Maka muncullah pergerakan penentangan terhadap sistem patriarki ini lewat sosok Maia yang tidak puas hanya menjadi perempuan pemuas nafsu Adam.

Di luar kontroversi yang menyertainya, novel Adam Hawa ini cukup relevan dengan keadaan masyarakat pada zaman dahulu, yang masih menganggap kedudukan laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Selain itu, cocok pula dijadikan sebagai bahan penelitian dan kajian, terbukti dengan beberapa kali novel ini menjadi objek penelitian mahasiswa terkait marginalisasi perempuan.


Pesan saya, Adam Hawa memang telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Akan tetapi jangan menilai sebuah karya dari sampulnya sajamembaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab alwurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu. Sebagaimana sebuah novel hanyalah buah karya imajinasi pengarang, bukan kisah nyata.

SHARE THIS

0 comments: