Friday, April 7, 2017

Benang Merah Baru di Sisi Barat Kota Solo

Proses mencanting Alquran batik yang dilakukan oleh salah satu pekerja di Batik Mahkota, Laweyan. Terinspirasi oleh ide metode membaca follow the line, proyek yang dimulai pada Oktober 2016 tersebut diperkirakan akan selesai pada awal tahun 2018. (Dok.VISI/Fauzan)

Matahari bersinar terang. Kesan hangat yang ditimbulkan langit seirama dengan geliat kampung bersejarah yang terletak di sisi barat Kota Solo itu. Di perkampungan seluas 24,83 hektar tersebut, masih banyak kendaraan hilir mudik. Wisatawan—baik yang berwajah lokal maupun satu dua orang berwajah bule—berjalan di sepanjang trotoar, menenteng ransel mereka masing-masing.

“Saya ke sini mau lihat proses pembuatan batik. Sekalian cari oleh-oleh, mumpung di Solo,” kisah Handi (38), wisatawan asal Bandung ketika ditemui VISI di sela-sela kunjungannya ke Kampung Batik Laweyan pada Rabu (22/3/2017).

Laweyan sudah pasti akan jadi destinasi pertama yang terlintas di pikiran kita apabila mencari garis hubung antara Kota Solo dengan sejarah batik nusantara. Sebagaimana dilansir oleh situs resmi Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), kegiatan membatik di wilayah ini sudah dimulai sejak sebelum abad ke-15 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Selain itu, berdasarkan dokumen resmi FPKBL, wilayah yang hingga kini masih mempertahankan lorong-lorong serta arsitektur bangunan-bangunan tingginya ini juga merupakan saksi bisu perjuangan para pengrajin batik bumiputera bersama Sarekat Dagang Islam-nya Kyai Haji Samanhudi.

Jumlah rumah industri batik yang menembus angka 200 menggambarkan betapa tingginya tingkat ketergantungan ekonomi warga Laweyan terhadap si industri kain bermotif. Di sisi lain, hal tersebut juga menuntut tiap rumah industri batik yang ada untuk menemukan ide-ide kreatif agar pamor usaha mereka tidak kalah dari para tetangganya.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Batik Mahkota. Berlokasi di Sayangan Kulon Nomor 9, Laweyan, rumah batik yang sudah berdiri sejak tahun 1956 ini merupakan satu dari sedikit produsen batik asal Laweyan yang produk-produknya sudah diberi jaminan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Yang khas dari Mahkota adalah desain produk. Di almari koleksi kami, produk satu dan yang lain desainnya beda. Satu desain hanya untuk satu produk, kecuali apabila ada pesanan (desain-red) dari pihak tertentu,” papar Eko Margiyanto selaku Humas Batik Mahkota ketika ditemui VISI di kantornya pada Rabu (22/3/2017).

Bicara soal produk, saat ini Batik Mahkota sendiri sedang mengerjakan proyek Alquran batik. Proyek non-profit ini bertujuan untuk membuat kitab Alquran dengan material kain bermotif batik.

Setiap selembar kain berukuran 85x110 cm mewakili satu halaman Alquran. Teknis pembuatannya dimulai dengan menggandakan Alquran yang ukurannya sudah diperbesar. Kemudian, Alquran tersebut dijiplak dan dilukis di atas kain menggunakan pensil dan spidol. Kain yang sudah dilukis kemudian dicanting, dicelup, dan dilorot seperti halnya prosesi pembuatan batik tulis pada umumnya.

“Ini akan kami buat 30 juz. Nantinya setelah jadi kain-kain akan dijilid dan dijadikan satu seperti Alquran,” imbuh Eko.

Proses pengerjaan Alquran batik sendiri memakan waktu yang tidak singkat. Untuk membatik satu halaman Alquran saja, rata-rata memakan waktu pengerjaan sekitar dua hari.  

Proyek yang dimulai sejak tanggal 2 Oktober 2016 lalu ini pun tidak hanya melibatkan unsur internal. Batik Mahkota turut mengundang perwakilan dari Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) guna melakukan verifikasi terhadap kebenaran huruf-huruf hijaiyah yang sudah ditorehkan di atas kain batik.

Biasanya, tahap verifikasi ini dilakukan setiap sepuluh halaman kain sudah dilukis dengan pensil. Tujuan dari verifikasi sendiri adalah agar apabila ada kesalahan penulisan huruf, penggantian bisa dilakukan dengan lebih mudah tanpa perlu membuang-buang kain. Mengenai kesalahan yang sering terjadi, biasanya tidak terlalu fatal.

“Paling hanya beberapa huruf melenceng. Tidak sampai salah tulis huruf atau tanda. Soalnya, pelukisan garis polanya dengan cara ngeblat (menempelkan kain di atas kertas yang sudah digambar, kemudian menjiplaknya -red),” ujar Eko.

Lebih lanjut, Eko juga menuturkan bahwa proses pembuatan Alquran batik tidak mengganggu jalannya pekerjaan produk-produk lain. Hal ini karena di Batik Mahkota sendiri pekerjaan Alquran dan batik-batik komersial dilakukan secara terpisah dan oleh pekerja yang berbeda.

Kondisi tersebut juga diamini oleh Warti (49), salah satu pekerja di Batik Mahkota. “Sudah dibagi-bagi. Untuk pengerjaan Alquran Batik dilakukan di halaman belakang (oleh pekerja lain -red),” tutur Warti.

Awal mula ide membuat Alquran batik sendiri bersumber dari salah satu kerabat Alpha Fabela, pemilik Batik Mahkota. Kerabat Alpha saat itu berpikir untuk mempopulerkan kembali cara membaca Alquran dengan metode follow the line.

Follow the line merupakan metode membaca Alquran dengan cara menuliskannya terlebih dahulu. ‘Membaca belum tentu menulis, tapi menulis sudah pasti membaca’, kurang lebih filosofi itulah yang dijadikan acuan sebagian umat muslim untuk menggunakan metode ini dalam pembacaan kitab suci. Alquran yang digunakan dalam metode follow the line pun berbeda dengan Alquran pada umumnya. 

“Kalau Alquran follow the line biasanya hurufnya terdiri dari titik-titik, bukan garis. Jadi kita harus menghubungkan titik tersebut dengan pena supaya menjadi garis-garis yang bisa dibaca,” jelas Wilih (43), salah satu pemasok buku yang sempat ditemui VISI tak jauh dari kompleks perbukuan Sriwedari.

Follow the line dirancang dalam berbagai macam tahap yang harus dikerjakan secara berurutan. Tahap paling awal adalah keharusan untuk bisa membaca huruf arab; tingkat berikutnya adalah menulis; lalu memahami bahasa yang digunakan; dan yang terakhir adalah fase di mana seseorang diasah berulang-ulang kemampuannya sehingga dapat memahami logika dan bahasa Alquran dengan benar. Berangkat dari situ, Batik Mahkota kemudian menggagas ide untuk menerapkan follow the line dalam industri batik, yakni dengan menuliskan motif Alquran terlebih dahulu sebelum mencantingnya.

Bila sesuai perkiraan, proses pembuatan Alquran batik sendiri baru akan selesai pada awal tahun 2018 mendatang. Nantinya, Alquran batik akan dijadikan aset oleh showroom Batik Mahkota. Melalui Alquran batik ini, pihak Batik Mahkota berharap para pengunjung showroom akan tergugah untuk lebih mempelajari ajaran agama.

Keberadaan Alquran batik mendapat respon positif dari warga Laweyan. Sukamto (39) misalnya, warga Laweyan ini menuturkan apresiasinya kala ditemui VISI pada Rabu (22/3/2016) kemarin.

“Bagus sih, bisa jadi bukti kalo budaya lokal juga bisa berdampingan dengan agama,” ungkap pria yang akrab disapa Kamto tersebut. Lebih lanjut ia juga berharap agar pengerjaan Alquran ini juga dibantu oleh para pengrajin batik selain Batik Mahkota, sehingga pengerjaannya dapat lebih cepat.

Respon positif juga datang dari Fina. Meski bukan merupakan warga Laweyan dan merupakan pendatang baru di Solo, perempuan asal Banyumas yang sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Solo ini juga menuturkan hal tak beda jauh dari Kamto . Namun, Fina menambahkan bahwa akan lebih baik lagi jika keberadaan Alquran batik tersebut tidak hanya sekedar jadi sarana simbolik belaka.

“Jangan hanya simbolik, harus diikuti dengan nambah iman pada Tuhan,” jelas Fina.

Pada akhirnya, Alquran batik tidak hanya dimaknai oleh publik sebagai suatu cara mempopulerkan kembali follow the line. Lebih dari itu, Alquran batik justru dimaknai sebagai suatu langkah positif untuk menekankan kembali nilai-nilai agama sekaligus nilai-nilai kesenian pada saat bersamaan. Laweyan masih akan tetap jadi benang merah yang menghubungkan Kota Solo dengan sejarah batik nusantara, sebagaimana Alquran batik yang mulai menempatkan diri sebagai benang merah penghubung kearifan lokal Laweyan dengan kearifan firman Tuhan. (Fauzan)

SHARE THIS

0 comments: