Tuesday, March 28, 2017

Melihat Lewat Sudut Pandang Anak-Anak

Judul: Le Petit Prince (Pangeran Cilik) | Penulis: Antoine De Saint-Exupery | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun: 2015 | Tebal: 120 halaman | Bahasa: Indonesia (diterjemahkan dari bahasa Perancis). 

Oleh: Aisyah Nur'ayni

Menjadi dewasa terkadang memang menyenangkan, karena bisa melakukan ini itu tanpa banyak larangan. Tapi, bagaimanapun masa kecil yang dialami sebelumnya toh nyatanya kita akan tetap merindukannya dan bahkan ingin kembali ke sana.

Kisah ini diawali dari tokoh 'aku' yang menceritakan masa kecilnya. Ia adalah seorang anak kecil yang senang menggambar, namun kegemarannya itu terpaksa ia tinggalkan karena dianggap oleh orang dewasa sebagai suatu hal yang tidak terlalu penting untuk masa depan. Ia kemudian mempelajari ilmu yang dianggap lebih penting seperti ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung, dan tata bahasa.

Hingga ketika beranjak dewasa, tokoh 'aku' menjelma menjadi seorang yang gemar dengan dunia penerbangan dan bahkan ia telah mengelilingi dunia dengan kemampuannya mengendalikan burung bersayap besi kala itu. Kemudian, suatu ketika ia dan pesawatnya terjatuh di dataran Afrika yang mana tempat tersebut ribuan mil jauhnya dari pemukiman manusia. Di tempat itulah kemudian ia bertemu dengan seorang anak laki-laki dari planet lain, yang ia sebut sebagai Pangeran Cilik. Pangeran Cilik-lah yang menemani hari-hari tokoh 'aku' selama terdampar di dataran Afrika.

Banyak hal janggal dari kehadiran Pangeran Cilik yang dirasakan oleh tokoh 'aku'. Mulai dari kedatangannya yang tiba-tiba—padahal tempat itu sangat jauh dari pemukiman penduduk—hingga perkataan-perkataan Pangeran Cilik yang penuh teka-teki dan sulit untuk dipahami. 

Secara keseluruhan, cerita Pangeran Cilik mungkin dianggap seperti dongeng pengantar tidur bagi anak-anak karena konfliknya begitu sederhana. Namun, kisah-kisah yang diceritakan di dalamnya justru mengandung nilai-nilai yang mampu menyentil batin orang dewasa. Salah satunya terdapat pada bagian awal yang dengan gamblang menyebutkan bahwa: orang dewasa cenderung tidak mengerti apa-apa, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu memberi penjelasan terus-menerus.

Buku yang ditulis saat Perang Dunia II ini sesungguhnya merepresentasikan kondisi psikologis penulis saat itu. Antoine yang kala menulis buku ini sedang dalam pengasingannya di Amerika, kemudian menulis fabel anak-anak yang penuh teka-teki ini. Pendeknya, ia menggunakan sudut pandang sederhana dari anak-anak untuk melihat bagaimana cara pandang orang dewasa terhadap sesuatu. Meskipun novel ini terkesan ringan dengan jumlah halaman yang saya yakin mampu anda selesaikan dalam satu atau dua jam, dibutuhkan analisa mendalam untuk tahu persis apa maksud sebenarnya yang ingin diungkapkan penulis.

Sampulnya yang sederhana mungkin akan membuat kita enggan untuk membaca Le Petit Prince. Namun, kurang tepat jika pembaca hanya menilai dari sampulnya, karena buku ini luar biasa. Terbukti dengan telah disadurnya Le Petit Prince ke dalam 230 bahasa asing. Bukan jumlah yang main-main untuk ukuran sebuah cerita yang dianggap sebagai buku pengantar tidur. Berkat buku ini pula, nama Antoine mulai melambung dan bahkan masih hangat diperbincangkan hingga saat ini.

Le Petit Prince adalah buku klasik anak-anak yang memiliki pesona tak lekang oleh waktu dan daya tariknya yang mampu melampaui batas usia sehingga menjadikan buku ini sebagai buku berbahasa Prancis yang paling banyak diterjemahkan. Bagaimana? Penasaran ‘kan, dengan kisah-kisah dalam buku ini? Saya sarankan membacanya sambil menyeruput teh atau kopi di pagi hari, supaya lebih fokus dan dapat memahami setiap pesan yang terkandung di dalamnya. Selamat membaca!

SHARE THIS

0 comments: