Minggu, 22 Januari 2017

Kegelisahan Wiji Thukul dalam Kesunyiannya

Judul: Istirahatlah Kata-Kata | Sutradara: Yosep Anggi Noen  | Pemeran: Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono | Durasi: 1 jam 45 menit | Genre: Drama, Sejarah

Oleh: Nasy'ah Mujtahidah Madani 

Jadi, kalian akan mulai membaca curhatan-curhatan saya. Karena tulisan ini dibuat oleh amatiran yang sama sekali tidak pernah menulis resensi, tentu saja masih banyak yang belum bisa saya tuangkan secara menyeluruh.

Hari itu, tiket film Istirahatlah Kata-Kata benar-benar habis, bahkan hingga ke jam tayang terakhir. Meski terpaksa mendapat posisi duduk yang membuat leher pegal, saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menyaksikan film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini.

Mulai dari prolognya, Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto membacakan sajak yang menyelimuti keseluruhan film: Istirahatlah, Kata-kata. Inti pesan dari sajak ini adalah: terkadang kita perlu membungkam diri barang sebentar untuk dapat bangkit di kesempatan berikutnya, dan biarkan Wiji Thukul mengulur waktu untuk bangkit dari persembunyiannya. Film ini menggambarkan betapa menjadi buron era orde baru memang tidak mudah. Hidup terpelanting karena tak punya pekerjaan, tempat tinggal berpindah-pindah, hingga harus meninggalkan anak-istri di rumah.

Yosep Anggi Noen sukses membuat saya merasa insecure sepanjang menyaksikan film berdurasi hampir dua jam ini. Dibawakan dengan suasana yang sunyi dan suram, gerak-gerik Wiji Thukul digambarkan sebagai sosok yang sangat hati-hati dan selalu merasa diawasi. Matanya senantiasa disembunyikan di balik topinya yang khas. Bicaranya sangat hati-hati. Penampilan Thukul yang selalu low-profile dan tidak mencolok bahkan membuat dirinya tidak dicurigai oleh personil ABRI yang sempat berpapasan dengannya di sebuah tempat potong rambut.

Ketakutan dialami oleh istri dan anak Thukul yang beberapa kali didatangi oleh angkatan bersenjata, serta orang-orang yang selalu mengawasi kediamannya di Solo. Hal yang membuat saya terharu dan sedikit mbrebes adalah kesetiaan yang dimiliki Sipon, istri Wiji Thukul. Kesungguhan Sipon yang diperankan oleh Marissa Anita dalam menanti sang suami dan menjaga anak-anaknya, Fitri dan Fajar memberi banyak pelajaran berharga. Tidak banyak wanita yang dalam keadaan sulit seperti itu, masih tetap menginginkan kehadiran pasangannya. Hanya wanita-wanita tangguh yang mampu hidup dalam ketidakpastian; kapan suaminya akan pulang. Hal itu dibuktikannya juga dengan perlawanan terhadap gosip-gosip yang tidak jelas dari mulut tetangga.

Secara keseluruhan, saya menikmati alur film yang memang agak diperlambat supaya kita bisa memahami analoginya dengan baik. Awalnya, saya agak tidak puas dengan tidak adanya adegan-adegan perkelahian ataupun penangkapan Wiji Thukul yang dramatis. Namun, hal tersebut bisa dimaklumi mengingat rentang peristiwa yang diambil sebagai setting film ini memang bukan masa-masa ketika puncak penumbangan rezim orde baru. 

Syukur, Wiji Thukul berhasil mengalahkan ketakutannya dengan bangkit dari persembunyian dan ikut dalam gerakan pembubaran rezim Soeharto, walupun pada akhirnya ia hilang, hingga sekarang. Bagi teman-teman yang sedang ingin mempelajari perjuangan, karya sastra dan situasinya di masa orde baru saya sarankan untuk meluangkan waktu menyaksikan film ini. 

SHARE THIS

0 Comments: