Monday, January 30, 2017

Kisah Ben Hur ala Jokowi

Dok. VISI/Eko

Judul : Jokowi dan Ben-Hur
Pengarang : Apollinaris Darmawan
Penerbit : Indie Book Corner
Dimensi : 16 x 23 cm
Tebal : 268 halaman
Cetakan : Februari 2015


Oleh: Eko Hari Setyaji


Matahari bersinar terang di langit Yerussalem, mengiringi kelahiran seorang bayi yang kelak memimpin bangsa Yahudi, Yuda Ben Hur namanya. Lahir dari keluarga bangsawan Yahudi, Ben Hur tinggal dan tumbuh bersama saudara angkatnya, Messala – kelak menjadi perwira pasukan Romawi – prajurit Romawi dengan karir cemerlang. Tak ada yang istimewa dari Ben Hur.
Suatu hari percikan konflik muncul, tentara Romawi yang dipimpin Messala mengadakan pawai unjuk kekuatan. Sebuah batu melayang dari atap rumah Ben Hur dan mengenai kepala Penguasa Romawi. Messala yang memimpin pasukannya dengan murka dan dibutakan kekuasaan menggelandang Ben Hur keluar rumah, memaksanya jadi budak di kapal perang Romawi dan mengurung Ibu dan Adik Ben hur ke penjara. Sadar tak punya kekuatan melawan Messala, Ben Hur menempa diri di pembuangan.
Hingga tiba suatu masa, Ben Hur beradu dengan Messala lewat balap kereta (kuda). Perlombaan terjadi dengan tak adil, penuh trik licik kecurangan, meski sudah kalah Messala tetap tak mau mengakui kemenangan Ben Hur dan tak rela Ben Hur menikmati kemenangannya dengan tenang.
Kisah heroik, Yuda Ben Hur diibaratkan seperti kisah perjalanan hidup Joko Widodo (Jokowi) oleh Apollinaris Darmawan di buku ini. Jokowi yang berasal dari keluarga tukang kayu biasa terus menanjak karir dan popularitasnya. Berangkat dari impiannya yang selalu gagal sekolah di sekolah favorit, bekerja tak sesuai jurusan kuliah, hingga mengalami kebangkrutan diawal merintis usaha mebel, Jokowi merajut asa menjadi sosok tertinggi di negeri ini (Presiden RI).
Prihatin dengan nasib pengusaha mebel yang gulung tikar karena kesulitan mengembangkan usahanya, Jokowi didapuk jadi Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) periode 2002-2005. Disinilah Jokowi melatih jiwa kepemimpinannya.
Mencium bakat kepemimpinan dari Jokowi, Megawati selaku Ketua Umum PDIP (partai politik dengan massa besar di Solo) mendaulatnya untuk maju sebagai Walikota bersama FX Hadi Rudyatmo di Pilkada Solo 2005-2011. Singkat cerita, menang di Pilkada tersebut, karir Jokowi melejit dengan kembali menang di Pilkada Solo 2012-2015 dengan pasangan yang sama, Pilgub DKI Jakarta 2012-2017 dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hingga menduduki pucuk pimpinan tertinggi dengan menjadi RI 1 (Presiden) di Pilpres 2014-2019 dengan wakilnya Jusuf Kalla.
Sekilas perjalanan karir Jokowi nampak mulus tanpa hambatan. Namun, layaknya pohon, semakin tinggi pohon itu, semakin besar pula angin yang menerjang. Perjalanan Jokowi lengkap dengan intrik-intrik politik yang dikupas dan diceritakan secara detail di buku ini. Perjalanan tangga menuju RI 1 yang penuh hambatan dan rintangan dari rival pun dituliskan layaknya kisah Ben Hur menghadapi Messala dalam merebut kekuasaan di tanah kelahirannya.
Penulis yang tak lain merupakan pendukung Jokowi, tak menghiraukan kecaman dari beragam ormas agama karena cuitannya di media sosial. Mengedepankan nasionalisme, Apollinaris menelurkan idealismenya (salah satunya) lewat buku ini. Meskipun telah banyak buku yang mengupas Jokowi sebagai objeknya, tak ada salahnya untuk membaca buku ini. Walaupun kamu harus merasa kecewa karena banyak sekali kesalahan tipografi pada buku ini.

SHARE THIS

0 comments: