Thursday, December 1, 2016

Mahasiswa: Kuliah atau Organisasi?



(Dok. Internet)
Oleh : Tama Al-Farizi


“Wahai Kalian Yang Rindu Kemenangan
Wahai Kalian Yang Turun Ke Jalan
Demi Mempersembahkan Jiwa dan Raga
Untuk Negeri Tercinta” – Mars Mahasiswa

Tulisan ini sebenernya tidak penting untuk diungkapkan, apalagi ditengah-tengah situasi kemahasiswaan saat ini, khususnya UNS-ku tercinta. Di mana, saat ini iklim politik sepuluh fakultas sedang memanas. Apalagi kalau bukan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan eksekutif dan kursi legislatif yang terhormat. Namun, mau bagaimana lagi, ada sesuatu di hati yang ingin ditumpahkan dan dipublikasikan dalam tulisan ini. 

Mahasiswa, sebuah gelar yang katanya “hebat”. Gelar mahasiswa sangatlah diimpikan oleh para siswa SMA. Gelar yang menunjukkan kelompok-kelompok orang yang katanya intelektual. Dan masih banyak lagi sebenarnya sematan-sematan status, gelar, dan apalah itu yang lekat dengan mahasiswa. Namun ada dua status yang seringkali diucapkan berkali-kali oleh para mahasiswa yang katanya “aktivis” pada mahasiswa lain (khususnya mahasiswa baru), yaitu agen perubahan dan iron stock. Bahkan, buletin yang dijadikan produk simulasi saat saya masuk LPM VISI FISIP UNS dinamai Iron Stock. Ya tidak lain untuk menggambarkan mahasiswa, anak muda, dan nama itu muncul karena kelompok simulasi saya dimotori oleh seorang aktivis yang katanya “orator” dan “kawakan”.  

Ada banyak hal yang melekat pada mahasiswa, khususnya aktitas sehari-harinya. Namun, setidaknya ada dua yang paling dominan. Yang pertama, yaitu menjalani kuliah yang menjadi ritual wajib bagi mahasiswa. Sebuah aktivitas yang menjadi amanah seorang anak kepada mamah dan papah yang telah merelakan hasil jerih payahnya diinvestasikan pada dunia pendidikan tinggi. Dan yang kedua, yaitu aktivitas organisasi yang menjadi pada hakikatnya menjadi aktivitas sampingan dari kuliah. 

Namun ada suatu fenomena yang muncul, yaitu ketika seorang mahasiswa menomorduakan kewajibannya. Memang, fenomena itu sudah lama timbul. Bahkan, sejak zaman orde baru banyak kasus seorang mahasiswa yang sangat getol berorganisasi. Dan, sampai lupa akan tugas yang sekaligus menjadi amanah bonyok (singkatan dari bokap dan nyokap) yaitu menjalani kuliah.  

Setiap orang tua selalu mengharapkan anaknya lebih sukses dari pada mereka. Satu dari cara-cara yang mereka lakukan adalah menginvestasikan uang mereka ke dalam dunia pendidikan. Yap, kepada sebuah dunia yang sebenarnya non profit; sebuah investasi pada sesuatu yang entah akan balik modal atau tidak. Mereka berinvestasi pada pendidikan dari tingkatan dasar sampai pada tingkatan pendidikan tinggi. Pada tulisan ini tentunya akan membicarakan pada tingkatan pendidikan tinggi. Mengingat status mahasiswa dipegang oleh seseorang yang sedang menempuh tingkat pendidikan tinggi. Dengan segala harapan yang sebenarnya suatu kondisi yang ideal, seperti lulus cepat dan Indeks Prestasi Kumulatif berpredikat cumlaude, para orang tua menyekolahkan anaknya pada perguruan tinggi. 

Nah, jika kita bandingkan ideal condition dan reality, maka ditemukan sebuah jarak di antara kedua kondisi tersebut. Lalu, kalau ada jarak seperti itu apakah menjadi hal yang salah? Bukannya salah, namun artinya ada suatu permasalahan sehingga timbullah ketimpangan tersebut.  

Memang, seorang mahasiswa haruslah menuntut ilmu diluar bangku perkuliahan. Hal itu tentunya dilakukan dengan cara mengikuti organisasi di internal maupun eksternal kampus. Bahkan, pengembangan diri juga dapat dilakukan dengan mengambil kerja paruh waktu di sela-sela waktu kuliah. 

Ada beberapa hal yang menjadi hal wajib dikuasai bagi seorang mahasiswa. Dikutip dari youthmanual.com, setidaknya ada tujuh skill yang harus dimiliki mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Pertama, yaitu kemampuan untuk percaya diri dihadapan orang banyak. Kedua, dapat mengontrol emosi. Ketiga, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan bernegosiasi. Keempat, kemampuan untuk mengatur waktu. Kelima, kemampuan untuk mempimpin kelompok. Keenam, kemampuan berpikir kritis. Dan ketujuh, kemampuan untuk bekerja sama dalam tim.  

Jika dilihat dari tujuh hal tersebut, tentu bahwasannya hal-hal itu tidak didapatkan dalam kelas. Hal ini mengingat bahwa kuliah dalam kelas hanya memberikan pengertian atas dasar suatu keilmuwan. Sedangkan, aplikasi dari ilmu yang didapatkan dalam kuliah dapat diterapkan di luar kelas, misalnya oganisasi. 

Namun begitu, salah pula jika seorang mahasiswa meninggalkan kelas dan mengutamakan organisasi. Pendalaman teori atas suatu keilmuwan sangatlah dibutuhkan oleh mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk membentuk suatu framework of thinking yang sesuai dengan penguasaan keilmuwan yang diambil. Memang, ketika sudah tercebur dalam dunia kerja maka seseorang harus menghadapi suatu yang aplikatif. Namun, sesuatu yang aplikatif juga membutuhkan fundamen teori yang kuat. Apalah arti sebuah rumah ketika pondasinya keropos?!


Lalu? Apa yang harus  dilakukan mahasiswa, berkuliah sajakah? Atau berorganisasi? Maka saya akan menjawab keduanya! Namun, keduanya harus berjalan beriringan. Saya kira seorang mahasiswa dapat berpikir secara dewasa dan mengerti akan skala prioritas kebutuhan dirinya. Namun, semuanya terserah padamu. Nasibmu ada pada dirimu sendiri.

SHARE THIS

0 comments: