Tuesday, November 22, 2016

Gadis Penunggu Hujan

(Dok. VISI/Hernowo)

Oleh    : Hernowo Prasojo

Setiap hari aku selalu melewati jalan yang sama. Sawah, hutan, pohon serta dedaunan yang rindang selalu menemani perjalananku pulang. Jika boleh kugambarkan secara sederhana, perjalananku pulang bukanlah sekedar kesenangan, namun kedamaian. Walaupun demikian, kadang kedamaian bukanlah sesuatu yang kita cari, bukan? Hal ini bermula dari lima hari yang lalu, dan entah mengapa saat ini aku berada di tepi tebing. Lelah dan takut nyawaku hanya berbatasan dengan genggaman tangan gadis kecil mungil yang sedang berusaha menarikku dari tepi tebing. Dialah gadis penunggu hujan, orang yang telah menghancurkan hari-hari penuh kedamaianku. Well, kedengarannya mungkin buruk, namun percayalah, hal ini tak seburuk itu. Kurasa aku akan mulai bercerita dari lima hari yang lalu saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Hari Senin pukul tiga sore, kelas selesai dan saatnya untuk pulang. Pulang adalah hal yang paling aku senangi di antara hari-hari kelabu kehidupan sekolahku. Pulang berarti aku akan melewati hutan dan pepohonan yang berwarna hijau, melihat langit yang berpendar biru, dan kadang bertemu pelangi yang memancarkan berjuta warna. Namun hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya. Hari ini hujan deras dan sialnya aku tak membawa perangkat rahasia penangkal air atau disebut juga payung. Dengan terpaksa aku menunggu di perpustakaan sekolah layaknya  seonggok daging di sudut ruangan. Setelah menunggu dengan muka masam, hujan pun mereda di kala malam tiba. Perjalanan pulang yang seharusnya penuh warna pun berubah menjadi perjalanan monoton berwarna hitam pekat.

Di tengah perjalanan, aku melihat sesuatu yang tak pernah kuperhatikan sebelumnya. Di tengah hutan aku melihat rumah sederhana berdinding hijau dengan lampu kecil yang menyala. Di balik tirai jendela, dapat kulihat sepasang mata takut-takut mengawasiku. Akupun menatap balik. Dan bayangan pemilik sepasang mata tersebut perlahan-lahan menghilang. Entah mengapa aku tak terlalu peduli, dan terlalu lelah untuk peduli. Namun, terlihat sekilas bahwa orang yang memandangku adalah seorang gadis kecil.

Keesokan harinya di perjalanan pulangku, sepasang mata itu terus memandangi dari pangkal sampai ujung jalan. Entah mengapa hal tersebut menggangguku dan sulit bagiku untuk menghiraukannya. Rasanya sepasang mata itu membuat warna pelangi menjadi redup, warna pohon menjadi kusam dan warna langit menjadi gelap. Perjalanan pulangku yang damai menjadi tak sama lagi. Sudah tiga hari sepasang mata itu mengawasiku tiap kali aku melewati rute pulangku. Entah, karena sebal atau hanya penasaran, di hari keempat, aku mendapati diriku mengetuk pintu rumah tersebut saat perjalanan pulang. Perlahan, aku mendekat ke rumah tersebut, kulirik sekilas dan gadis itu masih mengawasiku dari balik tirai jendela.

Tok…tok…tok, bunyi ketukanku pada pintu tak kunjung memperoleh respon. Tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Agak lama aku menunggu, pintu kembali kuketuk. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Nihil. Tak ada tanda-tanda aku akan mendapat sambutan untuk masuk. Dengan langkah ragu, aku pun berpaling dan bersiap meninggalkan rumah tersebut. Entah mengapa terdapat sedikit rasa kecewa di hatiku. Namun, sesaat setelah berpaling, pintu tersebut terbuka dengan suara derikan kecil. Akupun kembali berpaling dan kulihat gadis kecil yang selalu menatapku saat perjalanan pulang. Tubuhnya disembunyikan sebagian di belakang pintu dengan mata yang masih terlihat takut-takut.

Sejenak aku berpikir, apa alasanku ke sini? Hatiku ragu, tapi sudahlah, lagi pula aku tak berniat jahat. Aku pun mendekat ke pintu. Kulihat gadis tersebut lebih dekat. Gadis belia dengan rambut sebahu, usianya sekitar empat tahun di bawahku. Kulihat gadis itu terlihat semakin takut disertai sedikit raut keraguan.

“Orang tuamu ada, Dik?” kataku asal sambil tersnyum.
“Hiks…..Hiks….Hiks…… HWAAAAAAA!!!” tiba-tiba mata bulat itu berlinang air mata.

Seketika itu aku bingung harus berbuat apa. Aku pun mengajak gadis itu keluar, ke taman di belakang rumahnya. Aku sengaja memilih tempat ini karena selain pemandangannya indah, juga dekat dengan jalan setapak. Jadi aku tidak akan diangap berniat buruk.

“Kamu kenapa, Dik?”  Tanyaku lagi dengan nada selembut mungkin.
“Hiks..hiks…” terlihat air mata masih menetes di pipinya.

Setelah itu suasana hening selama hampir satu jam. Jujur aku bingung apa aku harus meninggalkan gadis ini atau tetap di sini. Satu jam berikutnya berlalu dan ia tetap tak mengatakan sepatah katapun. Sempat diriku menengok ke rumahnya, namun tak ada siapapun. Yang ada hanyalah tumpukan sampah yang baunya dapat membuat orang muntah. Saat ini aku hanya duduk memandangi hamparan hutan di bawah tebing. Andaikan tak ada gadis ini di sampingku pasti aku sudah meresapi setiap keindahan warna yang ada.

“Dik, ini sudah sore, Kakak balik dulu ya,” ujarku seraya berdiri tanpa sedikitpun meminta persetujuannya.
“Kapan hujan?” kata gadis itu begitu lirih yang sulit kutangkap.
“Eh, iya, Dik?” tanyaku bingung.
“Kapan hujan?” ia ulang tanyanya dengan suara lebih keras.
“Mungkin besuk,” jawabku asal dengan raut bingung sekaligus tak peduli.
“Semoga hujan cepat datang,” gumamnya pelan dengan raut sedih.
“Iya, Dik. Semoga... Kakak pamit dulu ya...” aku beranjak dan mulai melangkahkan kaki, kuputuskan bahwa pamitku kali ini harus benar-benar ditunaikan.
            
Kulihat gadis itu tetap termenung saat aku meninggalkannya. Aku pun pulang dan tertidur pulas, tanpa merasa terganggu atau merasa penasaran. Keesokan harinya aku masih tak memikirkannya hingga akhirnya waktu pulang tiba. Hari ini hujan, dan lagi-lagi aku tak membawa payung. Aku kembali merasa seperti seonggok daging di sudut ruangan. Hujan hari ini sangat deras, dan entah mengapa membuatku teringat dengan gadis itu. Dalam hati aku berpikir apa yang akan dia lakukan saat hujan yang ia harapkan datang. Didorong oleh rasa penasaran, akupun melakukan sesuatu yang paling kubenci, yaitu hujan-hujanan. Basah, lembab dan tak bisa melihat dengan jelas, bahkan ini lebih buruk dari gelapnya warna malam. Akupun berlari menuju rumah itu, aku ingin segera mengentaskan rasa ingin tahuku dan pulang.

Namun, betapa terkejutnya diriku. Saat kujumpai gadis itu berada di pinggir tebing dan hendak melompat, akupun secara refleks berlari secepatnya, memegang tangannya dan menyentaknya ke belakang. Namun sialnya, kakiku tersandung, alhasil beginilah nasibku sekarang. Lelah dan takut, nyawaku hanya dibatasi oleh gengaman seorang gadis mungil. Ukuran tangannya yang kecil membuatku sadar bahwa dia tak akan bisa menarikku ke atas. Pilihannya hanya dua jika aku tidak mati, maka kami berdua yang akan mati. Sekejap di dalam pikiranku muncul berbagai macam pertanyaan tentangnya.

“Siapa namanya?”
“Kenapa dia ingin bunuh diri?”
“Mengapa dia menunggu hujan?” serta banyak pertanyaan lainnya.

Mungkin benar kata orang, saat ajal mendekat waktu terasa melambat. Aku memikirkan banyak hal dan pada akhirnya aku harus memilih. Kulihat wajah gadis itu, walaupun basah terkena hujan namun tangisannya sama sekali tak tersamarkan.

“Tersenyumlah, bukankah hidup penuh warna?” kataku sambil tersenyum dan menatap wajahnya. Seketika itu pula kulepaskan genggaman tanganku.

Pada hari itu aku jatuh dari tebing dan mati.

Mungkin kalian berpikir bahwa ini sesuatu yang buruk. Tapi sejujurnya tak seburuk itu, bukankah mati demi orang lain itu sesuatu yang cukup keren? Dan satu hal luar biasa yang tak akan pernah kusesali, jutaan warna yang bersatu dan berpendar di kala jatuh. Percaya atau tidak hal tersebut lebih indah dari hal apapun yang pernah kulihat.

***

SHARE THIS

0 comments: