Monday, November 28, 2016

Ketika Lakon Asmara Berbalut Jenaka

(Dok.VISI/Fauzan)

Pada malam yang beranjak pekat dengan gerimis itu, beralaskan terpal, kami duduk di hadapan lantai berdebu yang dalam hitungan jam sebelumnya sudah disulap menjadi panggung pentas sederhana. Di sekitar kami, duduk bersila sekitar seratus orang berusia relatif sama. Saat sebagian di antaranya sedang meraba-raba apa yang akan terjadi, tiba-tiba saja pekik suara datang memecah keheningan. Suara itu rupanya datang dari Wadul, sesosok pemuda yang sekonyong-konyong menampakkan diri dari ujung panggung. 

“Dik Senuk… Dik Senuk… Mas Wadul datang nih…,” ucap Wadul dengan nada rayuan sembari melangkah pelan ke arah panggung. Dandanan Wadul bukan main eloknya. Dengan jaket kuning ala Freddie Mercury dan riasan rambut yang aduhai, ia mendekati sang pujaan hati penuh percaya diri.

Dari arah panggung, Senuk hanya bisa berdiri gontai, menahan tegaknya raga yang sudah dibikin terkulai oleh suara lelaki yang digandrunginya. Belum usai Senuk membenarkan ekspresi hanyut di wajahnya, sejurus kemudian tiba-tiba Wadul sudah berada di tengah panggung. Jarak antara Wadul dan Senuk kini hanya beberapa ruas jari. Keduanya lalu menautkan tangan masing-masing, kemudian berdansa mesra mengikuti alunan musik yang tiba-tiba berkumandang seraya memecah suara gerimis di luar ruangan. Belum tamat keduanya berdansa, tiba-tiba saja Senuk terpeleset di lantai yang penuh debu. Nuansa romantis lenyap seketika tergantikan oleh jenaka. Suasana ruangan yang mulanya syahdu, tiba-tiba saja dipecahkan oleh gelak tawa dari ratusan penonton yang hadir.

Adegan jenaka antara Wadul dan Senuk di atas menjadi penanda dimulainya acara pementasan malam itu. Mengambil lakon cerita Eng Ing Eng karya Taat Wihargo, hari Minggu tertanggal 27 November 2016, Teater SOPO menggelar pementasan tunggal yang sudah rutin menjadi agenda mereka. Dipilihnya lakon cerita Eng Ing Eng bukan serta-merta dan tanpa sebab. Menurut penuturan Heri Santoso selaku sutradara pementasan, lakon tersebut dipilih karena naskahnya ringan, menghibur, dan bisa diterima berbagai kalangan. “Naskah ini nantinya juga akan kami bawa untuk pementasan keliling kampung, untuk menghibur masyarakat di desa-desa,” tambah Heri.

Eng Ing Eng mengisahkan tentang kisah roman antara Wadul (Asrori Arafat), anak dari Pak Suro (Ivan Dhimas) dengan seorang gadis bernama Senuk (Nun Fatimarahim). Hubungan keduanya tak sepenuhnya berjalan mulus. Wadul dan Senuk sama-sama mengetahui bahwa Sumarni (Elga Jatu), bulik Senuk, menentang hubungan mereka. Jadilah Wadul dan Senuk harus pacaran secara sembunyi-sembunyi. Namun, pada suatu hari Sumarni memergoki Wadul sedang berduaan dengan Senuk di rumahnya. Sumarni pun kemudian memaki dan mengusir Wadul. Tak terima dengan perlakuan Sumarni, Wadul pun mengadu pada sang ayah. Mendengar hal tersebut, Pak Suro berniat melabrak bulik si Senuk. Permasalahan jadi semakin pelik ketika Pak Suro yang sedang berstatus duda justru mendapati bahwa bulik dari Senuk adalah Sumarni, kekasihnya sewaktu masih muda. Di satu sisi, Pak Suro ingin menuntaskan dendam anaknya pada Sumarni. Namun, di sisi lain perasaan cinta Pak Suro kepada Sumarni tiba-tiba bergejolak kembali.

Teater SOPO sendiri melakukan beberapa penyesuaian ulang terhadap cerita asli Eng Ing Eng. Salah satunya adalah latar belakang Wadul. Jika pada lakon aslinya Wadul adalah pelajar SMP, di pementasan Teater SOPO Wadul disulap statusnya menjadi mahasiswa. Penyesuaian kecil ini tentu dilakukan agar audiens yang rata-rata berstatus mahasiswa lebih mudah dalam mencerna alur cerita.

Diselenggarakan di basement Gedung 4 FISIP UNS, pementasan yang berlangsung selama kurang dari dua jam tersebut berlangsung meriah. Gelak tawa dari penonton mewarnai jalannya pementasan. Melalui wawancara dengan VISI, Heri Santoso selaku sutradara juga menyampaikan apresiasinya untuk para penonton, khususnya warga FISIP UNS. “Apresiasi dari mahasiswa FISIP sudah bagus. Biasanya kalau Teater SOPO pentas yang datang 200 sampai 300-an orang. Kali ini memang kurang, sekitar 100-an. Selain mungkin karena faktor cuaca, hal ini juga lumrah mengingat kami juga sedang mencoba hal baru,” tandas Heri.

Sebagaimana keterangan Heri, Teater SOPO memang mencoba beberapa hal baru dalam pementasan mereka kali ini. Jika biasanya diselenggarakan pada hari kuliah, kali ini pementasan justru dilakukan pada hari libur. Selain itu, tiket masuk yang biasanya berbayar pun kali ini digratiskan. Keputusan ini diambil Teater SOPO untuk mengetahui seberapa besar minat mahasiswa FISIP terhadap pementasan mereka apabila dilakukan di luar hari aktif kuliah. Hanya saja, sedikit disayangkan karena cuaca malam itu juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat apresiasi acara.

Respon positif terhadap pementasan tunggal kali ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh Heri saja. Kepada VISI, sejumlah penonton menyampaikan kepuasan mereka. “Ceritanya seru sih, asik, saya suka aja sama anak muda yang berani tampil di depan,” tutur Paragrang Dwi Laksana, mahasiswa Universitas Islam Batik Surakarta asal Boyolali. Namun, ia menyayangkan pelaksanaan pementasan yang terlambat dimulai dan durasi yang menurutnya kurang lama.

Pujian juga terlontar dari Ridho Pratama, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Ia mengaku cukup puas dengan lakon Eng Ing Eng yang telah ditampilkan oleh Teater SOPO. “Menarik sih, cuma tadi ada bebarapa guyonan lokal yang sulit saya pahami karena menggunakan bahasa Jawa. Mungkin ke depannya Teater SOPO bisa menampilkan lakon dengan penggunaan bahasa yang lebih universal,” ucap Ridho kepada VISI seraya mengungkapkan harapannya.

Rintik hujan masih turun satu-satu ketika sebagian penonton mulai membubarkan diri. Sedangkan di panggung pentas, sorot lampu masih mengarah pada pelaminan Pak Suro dan Sumarni yang kini berganti menjadi lokasi berfoto. Sementara Wadul dan Senuk? Tentu saja di akhir lakon ini mereka tetap menjalin kasih. Hanya belum Eng Ing Eng saja. Toh mereka masih muda dan jalan masih panjang membentang. (Fauzan, Iim)

SHARE THIS

0 comments: