Monday, August 1, 2016

Memanusiakan Timnas Portugal

Portugal sedang merayakan kesuksesannya pada EURO 2016 (Dok.Internet)

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan

“Would I like us to be pretty? Yes. But in between being pretty and being at home, or being ugly and being here, I prefer to be ugly.” -Fernando Santos- (Pelatih timnas Portugal, sebelum laga final EURO 2016).

Tiga pekan berlalu usai gelaran sepak bola terakbar sejagat Eropa berakhir. Namun, pergulatan tak pernah sepenuhnya usai, sebagaimana kita yang tak pernah usai dan terus membahas “Class of 1992” nya Manchester United hingga pertengahan 2016 ini.

Adalah Portugal, sang juara, yang jadi penyebabnya. Portugal yang mengingatkan kita akan kecerdasan modern Otto Rehaggel dan timnas Yunani 12 tahun silam, hingga kini masih terus mendapat kecaman karena dianggap sebagai “Tim yang berhasil juara hanya karena faktor keberuntungan.”

Selain karena hanya sekali memenangkan laga dalam 90 menit sepanjang pagelaran kompetisi, anggapan ini terutama muncul karena gaya bermain pragmatis timnas Portugal. Ivan Rakitic, gelandang kebanggaan Kroasia, bahkan menyindir Portugal dengan sebutan “Tim yang tidak tahu cara bikin gol.”

Lantas, apakah permainan pragmatis merupakan suatu kesalahan? Apakah keindahan sepakbola hanya sebatas variabel tunggal yang hanya berhak dimiliki oleh permainan menyerang dan ball posession ala Pep Guardiola?

Perlu digaris bawahi, bahwa sebagai manusia, kita tak pernah benar-benar “maha tahu.” Kita tak pernah sepenuhnya tahu tuntutan apa yang dibebankan pada setiap pelatih sepak bola. Apa yang dibebankan Arsenal pada Arsene Wenger dan apa yang dibebankan Sunderland pada pelatih semenjana David Moyes tentu berbeda. Tuntutan berbeda ini kemudian mendorong seorang pelatih, dengan segala keberagaman berpikirnya, merumuskan komposisi skuad dan taktik yang tepat untuk kesebelasannya.

Dalam merumuskan komposisi dan taktik inilah selanjutnya seorang pelatih sepak bola, terutama pelatih tim nasional, dipaksa untuk menomorduakan idealismenya. Alasannya tentu adalah keterbatasan pasokan individu.

Di level klub, Real Madrid mungkin bisa mengakali keterbatasan pasokan individu ini dengan belanja pemain besar-besaran. Begitupun dengan Barcelona yang beberapa tahun tahun lalu berani melanggar Financial Fair Play demi mewujudkan skuad yang memuaskan sang pelatih. Namun bagaimana—misalnya—dengan nasib klub macam Eibar dan Alaves yang pendapatan per musimnya saja masih lebih rendah dari nilai transfer Gareth Bale? Bagaimana pula dengan nasib tim nasional suatu negara yang tentu tidak bisa seenaknya merubah paspor warga negara lain?

Tentu pelatih tim-tim kelas menengah ke bawah dan tim nasional ini harus berpikir lebih logis. Dan cara paling logis untuk menutupi kelemahan kedalaman skuad adalah dengan memilih taktik yang tepat.

Di sinilah kuncinya. Taktik yang tepat, bukan berarti taktik yang rupawan nan enak dipandang. Taktik yang tepat tentu adalah taktik yang dapat membawa pulang kemenangan. Dan untuk membawa pulang kemenangan, wajar jika tim-tim sekelas timnas Portugal bermain pragmatis dan meminimalisir resiko ketika berhadapan dengan tim yang kedalaman skuadnya cukup mumpuni macam timnas Prancis.

Tidak mungkin seorang Fernando Santos memainkan gaya bermain tiki-taka ketika berhadapan dengan Prancis yang dipenuhi gelandang-gelandang bertalenta tinggi macam Paul Pogba dan Blaise Matuidi. Kecuali jika sejak awal Portugal memiliki tujuan untuk kalah dan jadi runner up saja. Terlebih, timnas Portugal hanya bermaterikan gelandang-gelandang kelas menengah macam Joao Mario dan Andre Silva.

Dan bukan salah Federasi Sepak Bola Portugal apabila Toni Kroos dan Bastian Schweinsteiger terlahir sebagai warga negara Jerman. Mana ada yang bisa mengatur kelahiran seseorang?

Seperti halnya ucapan Fernando Santos yang saya kutip pada paragraf pertama “Would I like us to be pretty? Yes…” Kalimat itu merupakan penegasan Fer terhadap keinginannya yang juga mendambakan permainan yang menghibur bagi penonton, khususnya pendukung timnas Portugal. Namun, sekali lagi, ia dituntut untuk menang dan mengesampingkan keinginan subjektifnya.

Jadi, berhentilah menghakimi timnas Portugal. Jangan lagi menjelek-jelekkan gaya bermain mereka karena itu adalah hal yang…. kejam.

“Kalau toh ndak suka dengan gaya bermain Portugal yang pragmatis dan ultra-defensif, ya ndak usah nonton pertandingannya. Sepak bola ndak akan rugi kalau kalian ndak nonton.”

SHARE THIS

0 comments: