Friday, July 15, 2016

Pengakuan Rosie tentang Lelaki yang Disukainya

Dok.internet

Oleh: Iim Fathimah Timorria

Dia merayakan ulang tahun kelima saat delapan hari sebelumnya aku lahir ke dunia, Rosie memulai kisahnya dengan sedikit gelisah. Sesekali ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, seperti mencari sesosok orang. Secangkir kopi robusta di hadapannya tampak masih penuh. Ia belum menyentuhnya sejak disajikan 10 menit lalu. Uap panasnya perlahan hilang dan kopi itu sekarang lebih mirip cairan pekat hitam yang biasa menggenang di jalan-jalan berlubang.

“Bagaimana kau mengenalnya?” aku akhirnya bertanya saat mendapati Rosie tak kunjung mengalihkan pandangan dari luar, masih menerawang.

Ia menatapku dan berujar: Dia memperkenalkan namanya secara umum di depan sekitar 65 orang lainnya. Tiga kata dan aku langsung tahu dia lahir bulan apa. Saat itu dia tidak begitu spesial. Setidaknya begitu yang aku pikirkan, ia mengenang sambil menyesap kopinya yang tampak dingin itu. Kemudian ia mengerinyit dan meletakkan kembali cangkirnya di meja. Ia pasti kecewa dengan kombinasi pahit dan dingin yang mengalir di tenggorokannya.

Kulanjutkan pertanyaanku,” Lantas sejak kapan ia menjadi spesial bagimu?”

Rosie mengetuk-etuk meja dengan ujung jari telunjuknya, aku teringat akan hari ketika dia menceritakan bahwa itulah kebiasaannya ketika berpikir. Agak lama dan kemudian ia melanjutkan bahwa ia tidak ingat kapan tepatnya ia mulai merasakan sinyal-sinyal aneh tiap kali berhadapan dengan orang itu. Apakah ketika orang itu secara terus-menerus menjadikannya bahan candaan atau ketika saat itu dia diajak makan. Lalu Rosie teringat akan obrolan-obrolan tekstual hingga larut malam yang entah apa topiknya itu, orang itu kemudian menghilang dan baru kembali esok pagi dengan sebuah pesan yang menuliskan bahwa ia terlalu lelah dan ketiduran. Rosie ingat ia merasa menyesal menganggu waktu istirahat orang itu.

Kurasa ketika aku merasa dia memperlakukanku secara berbeda, tuturnya kemudian. “Perlakuannya terhadapku tidak seperti caranya memperlakukan yang lain,” Rosie kemudian menjelaskan perlakuan seperti apa yang ia maksud. Mulai dari rahasia-rahasia kecil yang dibagi orang itu ke Rosie hingga isyarat-isyarat soal pasangan hidup yang cukup sulit Rosie maknai, “Dia pernah mengatakan ketidaksiapannya menjadi imam ketika aku bertanya apakah dia menunaikan salat. Menurutmu bagaimana?”

Aku memperbaiki posisi duduk. Sebagai pria aku tentu pernah menjadi imam—pemimpin salat—terutama semenjak bapak sudah tidak ada. Hari-hariku dilalui dengan beberapa kali salat berdua dengan ibu. “Mungkin dia mengira kau memintanya mengimami salatmu.”

Rosie kembali melihat ke luar jendela dan berkata lirih: jadi menurutmu hanya sebatas itu? Hanya imam salat?

“Dia tidak bisa menjadi imammu kalau kalian belum menikah, kau tahu itu, bukan?” aku bisa melihat Rosie tersenyum ketika sedetik kemudian gadis itu memandangiku dengan penuh kecurigaan. Dia tampak akan mengatakan sesuatu tapi mengulurnya. Ia justru kembali menyesap kopinya yang dingin itu.

“Okta, ada apa di bulan Oktober?” tanyanya kemudian saat kopi di cangkirnya tinggal seperempat. Genangan hitam itu sekarang nyaris tak terlihat dari tempatku duduk.

Mata Rosie terlihat lebih gelap dari biasanya. Jika aku bisa mengulang waktu, tentu aku akan menolak ajakannya bertemu di kedai kopi ini. Bukan karena aku tidak mau bertemu dengannya.

“Ada apa di bulan itu?”

Karena aku tidak mau mendengar tanyanya itu. Karena aku tahu dia akan membicarakan tentang orang itu.

“Kau tahu aku langsung tahu bulan kelahiranmu sedetik setelah kau memperkenalkan namamu di hadapan 65 orang lainnya.”

Tapi toh aku di hadapanmu, Rosie. Keinginanku melihatmu lebih besar dibanding ketidakinginanku mendengar kisahnya.

Dan tahukah Rosie, aku berharap detik ini juga Tuhan menguapkanku menjadi bukan apa-apa.

***

Begitupun dia, Okta. Sepertimu dia memiliki nama yang merepresentasikan bulan kelahirannya. Terkadang aku bertanya-tanya kenapa kau begitu naif dan bersedia menjadi pendengar kisah romanku. Dengan sabar kau menanyaiku pertanyaan tentangnya. Aku tahu bukan karena kau penasaran dengannya. Peduli setan tentang lelaki yang kusukai, bukan?

Sedikit aku ketahui alasan di balik kesetiaanmu adalah karena kau menyukaiku. Aku teringat akan hari ketika kau menceritakan kepadaku bahwa telingamu akan memerah ketika kau jatuh cinta. Hari ketika kita pertama bertemu dan kita sepakat menceritakan banyak hal tentang diri kita. Hari ketika aku lebih ingin mengenalmu lebih dari keinginanku mengenal 65 orang lainnya. Hari yang tentu sangat kau sesali pernah kau lalui. Besoknya, kali kedua kita bertemu, aku melihat rona merah di daun telingamu. Kukira kau habis dijewer ibumu atau apa.

Tapi rona merah itu terus ada tiap kali kita bertemu. Sepertinya kau menyadarinya dan memutuskan untuk memanjangkan rambutmu yang kemerahan dibakar matahari itu. Aku tidak pernah melihat rona merah lagi setelahnya. Kau senang menyimpan rasamu dan aku senang melukainya.

Tapi Okta, aku sedikit kaget ketika kau memasuki pintu kedai itu dengan rambut panjangmu yang kau gelung. Aku bisa melihat kedua telingamu dengan jelas. Kurasa itu adalah isyarat yang kauberi untuk memberitahuku bahwa telingamu tidak akan memerah lagi sekalipun aku di hadapmu, kau sudah tidak jatuh cinta lagi.

Jadi Okta, ketika aku mengundangmu untuk duduk bersama di kedai ini, sesungguhnya aku bertaruh. Jika aku tidak melihat rona merah di telingamu, aku akan mengaku bahwa segala kisah romanku barusan hanya fiksi belaka. Jika aku melihatnya—sekalipun sekelebat—demi Tuhan aku akan berusaha mati-matian untuk membuatmu berhenti menyukaiku.

Rosie menutup kisahnya. Kopinya yang seperempat itu tidak disentuh lagi.

“Rosie... sepertinya aku lupa menceritakan kepadamu,” Okta menggantungkan kalimatnya. Lama sekali ia memandangi kedua tangannya yang bertaut di atas meja itu sebelum ia memandang Rosie dan berkata: Telingaku tak lagi mengeluarkan semburat merah saat berhadapan denganmu, Rosie. Tapi yang kutahu aku masih menyukaimu. Apakah kau akan tetap berusaha menghilangkan perasaan ini?

SHARE THIS

0 comments: