Thursday, July 7, 2016

Memulai Saga Perlawanan terhadap Teror

(Dok. Internet)

Saya ingat betul ketika sejumlah media massa Barat memberitakan potensi teror oleh kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di tengah gelaran Euro 2016. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, ajang sepak bola terbesar di benua biru tersebut kali ini diselenggarakan di Prancis. Jika pembaca lupa, Prancis adalah negara yang akhir tahun lalu berduka lantaran menjadi sasaran kebrutalan ISIS. 130 orang tewas dalam serangan di Kota Paris pada tanggal 13 November 2015. Kehororan yang ditebarkan ISIS tak berhenti sampai di situ. Dua bulan sebelum gelaran Euro 2016 dimulai, sebuah bom bunuh diri meledak di tengah kesibukan bandara di Kota Brussels, 32 orang tewas dan ISIS secara terang-terangan mengklaim bahwa mereka adalah dalang di balik serangan tersebut. Melihat fakta-fakta di atas, adalah suatu hal yang normal ketika aparat keamanan setempat semakin waspada dan meningkatkan keamanan demi Euro yang dipenuhi suka cita.

Hingga babak perempat final tertanggal 3 Juli 2016 lalu, ancaman ISIS belum juga terendus baunya. Satu-satunya ancamanan yang muncul barangkali berasal dari kerusuhan antara sejumlah suporter tim nasional Rusia dan Inggris. Syukurlah kedua tim tersebut sudah gugur dari ajang elit ini, setidaknya masyarakat Prancis tidak perlu merasakan aura rusuh fans sepakbola sebagaimana di Indonesia. Para penikmat Euro bisa bernapas lega, atau benarkah demikian?

Sekelumit Nestapa

Tak jauh dari Prancis—setidaknya begitu asumsi masyarakat setempat—tepat seminggu sebelum perayaan Idul Fitri, serangakaian serangan bom meledak di bandara internasional Atatürk Istanbul, Turki pada Selasa malam (28/6/2016). Sebagaimana yang kita ketahui, negara yang turut berlaga di Euro 2016 tersebut didominasi oleh penduduk muslim. Hasil investigasi pemerintah Turki menyebutkan bahwa ISIS berada di balik serangan yang mengakibatkan setidaknya 41 orang tewas tersebut. Selang dua hari kemudian, di tengah suasana Ramadan, serangan senjata api menyerang Dhaka, Bangladesh di sebuah restoran terkemuka. 22 orang tewas, mayoritas adalah warga negara asing. Perlu diketahui, Bangladesh juga merupakan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Tidak berhenti di situ, di Minggu pagi (3/7/2016) di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Baghdad yang dipenuhi masyarakat yang hendak berbelanja menjelang hari raya, bom bunuh diri kembali meledak. Hingga di detik saya mengetik tulisan ini, tercatat 250 jiwa telah melayang. Sebagian besar korban adalah masyarakat sipil tanpa senjata, para wanita, para pria, anak-anak dan mimpi-mimpi mereka berbahagia di hari raya.

Penjabaran saya mengenai rentetan serangan ISIS di atas bukan dimaksudkan untuk menakuti pembaca mengenai betapa kejamnya ISIS, pun bukan untuk mengamini kekuatan mereka atau mematahkan kekhawatiran fans bola mengenai ancaman teror Euro. Yang ingin saya tekankan adalah teror ISIS nyata adanya. Fokus serangan mereka yang awalnya bertujuan untuk membentuk suatu negara Islam dengan merebut teritori Irak dan Suriah kini berganti menjadi sebuah gerakan terorisme terorganisir di berbagai negara. Sasaran serangan mereka yang awalnya diarahkan kepada pasukan bersenjata pemeritah Irak dan Suriah pun kini diarahkan ke masyarakat sipil. Satu hal lain yang perlu digarisbawahi, asumsi yang selama ini menganggap bahwa ISIS hanya menyerang negara-negara Barat kini telah terbantahkan. Mereka tidak pandang bulu, tujuan mereka adalah membuat takut kita. Bukankah rasa takut adalah capaian utama dari terorisme? Terlepas dari keyakinan apa yang Anda anut?

Jangan Terlena

Serangan bom dan senjata api yang menimpa negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti sebuah anomali dari pergerakan ISIS. Sejumlah analisis mengemukakan bahwa perubahan arah gerak ISIS yang kini tak pandang bulu dalam melancarkan serangan adalah bentuk reaksi dari kelompok tersebut yang saat ini semakin terdesak. ISIS mulai kehilangan kontrol terhadap wilayah-wilayah kekuasaannya dan dihadapkan dengan permasalahan keuangan. Untuk terus mempertahankan eksistensinya, ISIS melancarkan serangan teror ke luar negeri untuk menciptakan persepsi publik bahwa mereka masih kuat. Motif lainnya adalah untuk menarik donasi dari simpatisan beraliran radikal lainnya. Demikian yang dikemukanan Clint Watts, pengamat Foreign Policy Research Institute (FPRI).

Harapan ISIS untuk memperoleh simpati dari kelompok atau individu beraliran radikal lain tampaknya membuahkan hasil. Baru beberapa hari lalu, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Amerika Serikat (4/7/2016), sejumlah serangan bom bunuh diri tunggal terjadi di Kota Madinah, Jeddah dan Qatif di Arab Saudi, dua di antaranya berlokasi di dekat Konsulat Jenderal Amerika Serikat dan di kompleks masjid Nabawi yang merupakan salah satu pusat ibadah umat muslim di negara tersebut. Keesokan harinya, serangan serupa terjadi di Mapolresta Surakarta dan menewaskan pelaku serangan. Tidak ada klaim resmi dari ISIS mengenai serangan ini, namun pihak berwenang Arab Saudi dan Indonesia mengindikasikan keterkaitan para pelaku dengan ISIS.

Dengan masuknya Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi dan Indonesia dalam target operasi ISIS dan simpatisannya, sudah saatnya bagi pihak berwenang—pemerintah dan aparat keamanan—untuk meningkatkan kewaspadaan. Saya yakin banyak pihak yang tidak menginginkan nestapa menjelang hari raya dirasakan oleh lebih banyak orang. Esensi hari kemenangan bukan hanya menang dalam melawan hawa nafsu selama berpuasa sebulan lamanya. Untuk peringatan Idul Fitri 1437 Hijriah kali ini setidaknya, masyarakat yang merayakan hari raya juga harus menang dalam melawan teror dan menang dari segala ancaman rasa takut. Dengan momentum Idul Fitri kali ini, setiap elemen masyarakat harus bisa merapatkan barisan untuk melawan ancaman tersebut dan meningkatkan kewaspadaan agar tidak ada lagi nyawa-nyawa tak berdosa menjadi korban. (Iim)

SHARE THIS

0 comments: