Sunday, June 26, 2016

Jalan Panjang UNS Menuju Kampus Ramah Difabel

Dok.Pribadi/Aghniya

Lalu lalang kendaraan dan cerahnya langit terlihat dari teras gedung dr. Prakosa.  Terlihat beberapa mahasiswa bergurau menikmati jalanan setapak di sepanjang kampus berslogan “Active” itu. Tampak di antara mereka menggunakan pedestrian untuk jalur lari di tengah sejuknya semilir angin sore.

Universitas Sebelas Maret atau dikenal dengan UNS, adalah salah satu universitas yang pada tahun 2015 lalu masuk dalam sepuluh besar universitas terbaik di Indonesia menurut beberapa versi. Peningkatan mutu dan layanan pun terus dikejar demi meraih berbagai gelar maupun pengakuan, terutama untuk pengakuan World Class University di tahun 2023 nanti yang terus didengung-dengungkan.

Ketatnya persaingan berbagai universitas pun tak bisa dihiraukan lagi, UNS sampai saat ini terus bersolek mempercantik diri, terutama menyambut datangnya mahasiswa baru, yang kini tak hanya biasa namun juga luar biasa. Ya, siapa sangka, di kampus Sebelas Maret sekarang, terdapat sebelas mahasiswa luar biasa atau berkebutuhan khusus yang sedang berjuang meraih sarjananya. Sejak mencanangkan diri sebagai kampus inklusi tahun 2012 lalu, mahasiswa luar biasa atau sering disebut difabel bisa dijumpai di kampus beralmamater biru tosca ini.

Terobosan sebagai kampus inklusi tersebut berbuah manis. Tahun 2013 UNS berhasil mendapatkan Inklusif Award dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Meskipun begitu, jalan panjang masih harus dilalui untuk benar-benar mendapat pengakuan sebagai kampus ramah difabel.

Ketua Pusat Studi Difabilitas (PSD), Subagya, menyatakan bahwa indikator suatu lembaga disebut ramah difabel tak hanya sebatas sarana fisik saja. Masih ada indikator lainnya berupa regulasi yang berasal dari pemerintah pusat, universitas, hingga tingkat fakultas. Lalu aspek teknis, yang berkaitan dengan standar pelayanan dan evaluasi pembelajaran untuk difabel perlu diperhatikan juga. Indikator lainnya adalah penerimaan dari lingkungan lembaga itu sendiri. Karena walau satu lembaga, satu seragam, namun tetaplah beragam.

Kendala dan Upaya

Kampus ramah difabel sebenarnya menjadi salah satu Key Performance Indicator (KPI) untuk universitas. Karena itu pihak rektorat merasa perlu memikirkan masalah difabel tersebut.

“Pak Rektor sudah lama mencanangkan kampus ramah difabel agar semua bangunan di UNS bisa diakses difabel. Bahkan itu KPI untuk universitas. Namun, sampai sekarang itu memang masih sulit”, ungkap Wakil Rektor II UNS, Muhammad Yamin, kepada reporter VISI , Jumat (15/4/2016) di rektorat.

Hal senada juga diungkapkan Subagya. Dirinya mengatakan tak bisa berbuat banyak, meskipun Rektor bisa dibilang “concern” dengan kaum difabel. “Kita sudah berusaha membuat mapping untuk dasar kalau UNS mau mbangun. Tapi ya kita cuma provokator, bukan eksekutor. Selanjutnya yang mengelola kekuasaan universitas,” kata Subagya saat ditemui di ruangannya.

Kendala juga datang dari pemerintah pusat. Dana yang dikucurkan dari pusat sebagian besar dianggarkan untuk bangunan baru, bukan untuk perbaikan bangunan lama. Pengadaan lift juga dibatasi untuk bangunan dengan jumlah lantai sekurang-kurangnya lima lantai.

“Bangunan lama di UNS memang dari dulunya tidak didesain untuk ramah difabel, jadi sulit (kalau mau dirombak). Kebanyakan cuma tiga lantai, nanggung kalau mau dikasih lift”, ungkap Yamin.

Kendala lain datang dari sistem pembelajaran dan penerimaan masyarakat kampus. Isu difabilitas tidak bisa hanya dilihat secara linier melalui sisi keilmuan saja namun juga dari berbagai bidang. Evaluasi dan metode pengajaran juga perlu diperhatikan karena memang seorang penyandang difabel memiliki kemampuan yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.

Meski berbagai kendala baik dana, sarana fisik, maupun non fisik masih menjadi penghalang, bukan berarti bahwa tak ada usaha dari pihak kampus untuk merealisasikan program ini. UNS sendiri sejatinya telah mengupayakan beberapa hal untuk mewujudkan kampus ramah difabel, meskipun belum maksimal.

Dibangunnya jalur pejalan kaki atau pedestrian dan beberapa turunan landai pengganti tangga di sudut-sudut kampus, dinilai pihak kampus sebagai salah satu usaha dalammemperbaiki sarana fisik bagi kaum difabel.Selain itu, UNS juga membangun Pusat Studi Difabilitas (PSD) yang berada di LPPM UNS. PSD ini diharapkan mampu mengadvokasi para difabel baik mahasiswa maupun calon mahasiswa dengan pihak kampus, juga mendampingi mereka ketika membutuhkan pendampingan. PSD ini pula yang memprakarsai berdirinya komunitas dari mahasiswa bernama Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI), yang pada Desember 2015 lalumelakukan pelatihan bersama dengan delapan perguruan tinggi lainnya di Jateng dan DIY.

Selain itu, Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Munair Yusuf, menyatakan bahwa di FKIP terdapat kebijakan tentang mata kuliah pendidikan inklusi sebanyak dua SKS di semua progam studi. Belum banyak Perguruan Tinggi di Indonesia yang menerapkan kebijakan ini. UNS menerapkannya dengan harapan para calon guru lulusan UNS siap ketika harus mengajar siswa dengan disabilitas.

Harapan Mendatang

Langkah UNS meraih gelar ramah difabel sebenarnya memang masih terganjal beberapa kerikil. Mempercantik diri dan menyiapkan diri, itulah yang kini masih harus dilakukan pihak kampus maupun mahasiswanya. Persiapan dari segala aspek baik fisik maupun non fisik seyogyanya demi tercapainya tiga indikator “keramahan” yang ada.

 “Semoga ada pendekatan langsung dari UNS kepada kami, kaum difabel dalam satu forum. Biar ada tempat untuk mengutarakan aspirasi secara lebih efektif. UKM khusus difabel yang diwacanakan di UNS semoga segera berjalan”, harap mahasiswa difabel di Prodi Teknik Informatika UNS, Paramuditaya Dyan.

“Harapannya semua prodi terbuka dan menerima. Mahasiswanya juga, tidak boleh membedakan teman. Lalu tercapai ketiga indikator ramah difabel tadi”, ujar Subagya.

Jalan kampus “biru tosca” meraih pengakuan memang belum lancar. Masih ada lampu merah, kuning, hijau bahkan kemacetan di depan nanti. Semoga saja harapan-harapan yang terucap itu menjadi cita-cita indah yang kiranya suatu saat nanti bisa terwujud. (Dela)

SHARE THIS

0 comments: