Tuesday, October 21, 2014

Referendum Skotlandia, Pemicu Kobaran Api Eropa

Oleh: Khalid Prasetya Hidayat R.
Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNS

Ilustrasi Referendum, Source

    Pada 18 September 2014 lalu, referendum untuk menentukan kemerdekaan Skotlandia digelar. Referendum ini digelar dengan maksud menentukan status Skotlandia dalam dinamika bagian dari Britania Raya, apakah nantinya menjadi negara merdeka, ataupun tetap menjadi bagian dari Britania Raya. Hasilnya, kubu No yang menginginkan Skotlandia tetap bersatu dengan Britania Raya sukses memenangkan referendum. Better Together yang menjadi slogan dari Kubu No pun sukses untuk membuat Skotlandia tetap bersatu dengan Britania Raya.

    Jika dilihat dari fakta, boleh jadi Skotlandia gagal memperoleh kemerdekaannya, dan Britania Raya boleh merasa lega bahwa persatuan yang telah dibangun selama ratusan tahun pun, akhirnya dapat dipertahankan. Akan tetapi, referendum Skotlandia menjadi bukti tamparan keras bagi Britania Raya yang selama ini dinilai cakap dalam menjalankan roda pemerintahan dan menjaga persatuan di seluruh wilayah kerajaan, baik di Inggris, Wales, Irlandia Utara, dan termasuk di Skotlandia.

    Hasil referendum yang kemudian diumumkan sehari kemudian, atau tepatnya pada 19 September 2014 yang memenangkan suara “tetap bersatu dengan Britania Raya” membuat Britania Raya, kubu No yang menolak kemerdekaan Skotlandia, dan bahkan negara-negara di Eropa pun merasa lega dengan hasil tersebut.

    Lantas mengapa kemudian banyak pihak yang merasa bersatunya Skotlandia adalah sesuatu yang harus dipertahankan? Britania Raya, yang kekuatan utamanya dimotori oleh Kerajaan Inggris (England) menilai, bahwa bersatunya Skotlandia akan tetap menjaga stabilitas pemerintahan Inggris, dan juga Britania Raya. Selain itu, stabilitas ekonomi, dimana begitu banyak aset Inggris di Skotlandia, seperti tambang minyak yang begitu melimpah di kawasan Laut Utara, bisa tetap dijaga.

    Sedangkan bagi Eropa, tetap bersatunya Skotlandia dalam jajaran kerajaan, Inggris-Wales-Irlandia Utara-Skotlandia, yang membentuk Britania Raya memberikan rasa lega yang begitu mendalam. Lantas apa alasannya? Sudah tentu jawabannya adalah stabilitas kawasan, baik itu stabilitas politik pemerintahan maupun stabilitas ekonomi.

    Ketika referendum Skotlandia terjadi, suasana Eropa diguncang ketidakstabilan yang disebabkan oleh banyaknya wilayah-wilayah di negara kawasan Eropa yang menginginkan kemerdekaan. Selain Skotlandia, ada Catalonia yang ingin merdeka dari Spanyol, separatism di Belgia, dan gerakan kemerdekaan di Italia bagian utara adalah kawasan yang siap menjadikan momen –apabila- Skotlandia merdeka, menjadi momentum untuk lebih giat memperjuangkan kemerdekaan. Skotlandia bak sebuah pemicu kobaran api yang siap membakar semangat perjuangan gerakan “pro” kemerdekaan tadi, yang dinilai oleh negara-negara Eropa yang tergabung dalam organisasi Uni Eropa, jangan sampai terjadi.

    Negara-negara Eropa juga beralasan bahwa, kemerdekaan Skotlandia akan meruntuhkan stabilitas perekonomian di Britania Raya, terutama stabilitas mata uang Poundsterling yang hingga kini menjadi mata uang dengan nilai tertinggi di dunia. Dampak lain perekonomian yang tidak stabil –apabila- Skotlandia merdeka di Britania Raya adalah, kerusuhan dan kekacauan sosial, seperti yang terjadi pada Agustus 2011 silam, ketika ibukota London dihantui gelombang aksi besar-besaran yang menuntut perbaikan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

    Pasca referendum Skotlandia, yang hasilnya tetap membuat Skotlandia bersatu dengan Inggris, seperti dilansir dari dw.de pada 19 September 2014, tepat pada hari pengumuman hasil referendum, Perdana Menteri Inggris yang selama kampanye menitikkan air mata memohon rakyat Skotlandia tetap bersatu, langsung mengucapkan selamat kepada pimpinan kampanye Better Together, Alistair Darling. Cameron juga menegaskan, Skotlandia akan mendapatkan otonomi yang lebih besar dan keadilan di seluruh kawasan Skotlandia.


SHARE THIS

0 comments: