Thursday, April 3, 2014

Menguntungkan Jadi Mahasiswa Abadi…


  Dok. VISI/ Muna

MAHASISWA ABADI – Didik Wahyu Kurniawan saat bercerita mengenai 
pengalamannya ketika menjadi ‘mahasiswa abadi’. Didik menjadi tamu utama
dalam acara Ngobrol Bareng Lembaga Kegiatan Islam (LKI) Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo,
 Rabu (2/3) kemarin.
Lulus menjadi sarjana dengan masa studi yang terlalu lama tentu tidak menjadi impian banyak orang. Dijuluki ‘mahasiswa abadi’ sudah pasti bukan merupakan sebuah pilihan. Setiap mahasiswa yang baru saja diterima di perguruan tinggi, rata-rata memiliki harapan untuk lulus tepat waktu, bahkan lebih cepat lebih baik.

Demi menghindari predikat ‘mahasiswa abadi’ tersebut, salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas maret (UNS) Solo, menggelar acara tukar pendapat bersama untuk membahas mengenai masalah waktu kelulusan. Tukar pendapat itu dikemas dalam sebuah acara bertajuk ‘Ngobral’ singkatan dari ngobrol bareng Lembaga Kegiatan Islam (LKI).

“Acara ini kami maksudkan untuk memberikan inspirasi kepada mahasiswa FISIP terutama, agar tidak lulus terlalu lama. Sekarang kan masih banyak yang lulusnya nggak tepat waktu,” ujar Ketua Koordinator Dakwah LKI,  Muhaimin Anasir.

Sarjana Masbuk 
Kegiatan sharring itu berlangsung Rabu (2/3) kemarin di Public Space 3 FISIP UNS. Membahas mahasiswa yang tak lulus-lulus tentu tak lengkap jika tak menghadirkan seseorang yang berpengalaman memiliki julukan ‘mahasiswa abadi’.  Kali ini Didik Wahyu Kurniawan alumni Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, diundang untuk membagikan kisahnya ketika menjadi ‘mahasiswa abadi’. Dalam sharring siang itu, Didik tak hanya menyempaikan keluh kesahnya selama studi, namun juga berbagai hikmah yang ia dapatkan akibat jadi mahasiswa kesuwen.

Ternyata tidak hanya Alitt Susanto (penulis buku Skriptshit) yang bisa jadi penulis karena tak lulus-lulus kuliah. Didik pun demikian, ia kini sukses menerbitkan buku berjudul ‘Sarjana Masbuk ‘. Sebuah buku yang mengisahkan catatan harian penulis  selama jadi ‘mahasiswa abadi’.

“Paling tidak masih ada hikmahnya saya lulus lama. Tapi semoga setelah saya bercerita pada teman-teman di sini (acara Ngobral –red) tidak membuat mereka ingin lulus telat seperti yang saya alami,” canda Didik ketika ditemui VISI sebelum acara dimulai.

Buku ‘Sarjana Masbuk’ karangan Didik sempat membuatnya terkesima terhadap dirinya sendiri. Bagaimana tidak, banyak penulis yang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan konfirmasi atas kiriman naskahnya dari penerbit. Namun, penerbit yang dipilih Didik langsung memberikan konfirmasi persetujuan penerbitan hanya dalam waktu empat hari. 

Didik Wahyu Kurniawan
Meski dalam waktu singkat, penerbit tersebut bukan penerbit gampangan. Karena naskah Didik berhasil lolos untuk diterbitkan dua bulan setelah penerimaan oleh penerbit Elex Media Komputindo, salah satu anggota grup Kompas Gramedia. “Saya juga kaget kenapa Cuma empat hari, padahal naskah saya kirim karena paksaan teman saya,” tuturnya.

Tak Ikut organisasi 
Ketika berbicara dalam kegiatan LKI, pria yang menempuh kuliah selama delapan tahun itu memberikan saran kepada peserta agar tidak lulus telat seperti dirinya. Salah satu tips yang perlu dicatat adalah mengenai pentingnya dukungan orang tua.

“Orang tua itu ya pengennya kita kuliah ya lulus cepat. Kita minta ijin ke kampus untuk kuliah kan? Jadi walaupun kita banyak kegiatan organisasi, hal yang perlu kita utamakan tetap kuliah. Karena banyak di antara kita (peserta Ngobral -red) yang tidak minta ijin orang tua untuk aktif dalam kegiatan organisasi,” imbau Didik.

Namun menurut Didik tak hanya terlalu mementingkan kegiatan organisasi yang menjadi faktor penghambat studi. Hal itu tergantung pada pribadi masing-masing. Contohnya ia sendiri tidak pernah mengikuti satu organisasi apapun selama kuliah dan tetap saja jadi sarjanamasbuk.

Ditanya mengenai faktor yang menyebabkan telat lulus, Didik tersipu malu. Ia sendiri mengaku sampai sekarang masih tak mengerti. “Saya sebenarnya juga bingung kenapa saya bisa lulus selama itu, padalah saya nggak ngapa-ngapain,” terangnya. 

Sebelum menerbitkan buku ‘Sarjana Masbuk’, pria berusia 28 tahun ini juga sempat menerbit dua e-book berkat keaktifannya di komunitas penulis di nulisbuku.com. (Muna).

 








SHARE THIS

0 comments: