Jumat, 21 Maret 2014

PEMUDA DALAM GBK Transformasi SDM melalui Peran Pemuda dalam Gerakan Berbasis Komunitas

Oleh: Arina Rohmatul H., Ilmu Komunikasi FISIP UNS 2012

Kekayaan sumber daya alam di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Begitu banyak kekayaan alam yang melimpah dan tersebar dari Sabang hingga Merauke. Mulai kekayaan flora, fauna, maupun bahan tambangnya. Namun yang sangat disayangkan di sini adalah kenapa kekayaan alam tersebut seakan-akan terbuang begitu saja akibat kurangnya kualitas dari sumber daya manusia yang ada? Keterbatasan ini membuat sumber daya alam yang melimpah dan seharusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh bangsa sendiri, harus diserahkan pada kekuatan asing. Dan dampak dari semua ini adalah Bangsa Indonesia hanya menjadi penonton sekaligus pekerja kasar dalam surganya sendiri.

Berangkat dari hal tersebut, banyak pihak yang menawarkan solusi untuk bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negara ini. Dan sebenarnya kunci utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah dengan pendidikan. Itu yang paling penting. Dan pendidikan itu sendiri tidak hanya mencakup pendidikan secara formal saja, melainkan juga informal yang melibatkan pihak-pihak tertentu selain pemerintah, guna menjalankan program yang ada. Untuk itu, dalam hal ini saya ingin menekankan bukan pada pendidikan formalnya, melainkan sebaliknya. Hal ini karena posisi sebagai mahasiswa akan terasa lebih mudah untuk menjalankan aksinya secara maksimal dengan berbasis informal education.

Berbicara tentang informal education di atas, saya tertarik untuk membahas tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peran pemuda dalam “Gerakan Berbasis Komunitas”. Alasan saya memilih “Gerakan Berbasis Komunitas” ini dilandasi pada beberapa pemikiran. Pertama, komunitas adalah bentuk yang sangat relevan untuk melakukan pergerakan dengan adanya kesamaan visi, minat, hobi, atau bakat di antara para anggotanya. Memiliki persamaan yang terkumpul menjadi satu dalam suatu komunitas tertentu, akan menciptakan komunikasi yang efektif pada komunitas tersebut. Anggota yang tergabung di dalamnya akan lebih tertarik untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada visi, minat, hobi, atau bakat mereka. Apalagi dilakukan dengan berkelompok. Ketika seseorang berada dalam suatu kelompok yang memiliki kesamaan dengan dirinya, maka orang itu akan memiliki keberanian lebih untuk bertindak, daripada dia harus bergerak sendiri. Dengan begitu, bisa dimengerti tentang bagaimana peran dari suatu komunitas untuk membuat anggotanya melakukan aksi secara maksimal.

Kedua, “Gerakan Berbasis Komunitas” ini juga merujuk pada pendapat dari Anthony Giddens dalam bukunya The Third Way "Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial". Pada buku tersebut dia munuturkan bahwa dalam Politik "Jalan Ketiga", kebebasan bagi para demokrat sosial hendaknya berarti otonomi atas tindakan yang dilakukan, yang selanjutnya menuntut keterlibatan komunitas sosial yang lebih luas[1]

Apa yang dikatakan oleh Giddens di atas didasarkan pada pemahaman bahwa kita tidak bisa sepenuhnya menggantungkan nasib bangsa hanya dengan campur tangan pemerintah saja. Suksesi negara akan bisa terwujud bila semua pihak ikut berpartisipasi di dalamnya. Dan salah satu pihak itu adalah melalui komunitas sosial. Sehingga, selain karena bentuk dari komunitas yang sangat relevan dalam melakukan pergerakan, komunitas di sini juga berperan sebagai tangan kanan pemerintah untuk bisa menjalankan program yang belum berjalan secara maksimal. Seperti misalnya, dengan adanya komunitas pecinta lingkungan, maka program pemerintah di bidang lingkungan yang belum berjalan secara maksimal, bisa dilanjutkan atau bahkan dibuat dengan format yang berbeda oleh komunitas tersebut. Tentunya tetap dengan tujuan yang sama yaitu menciptakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat

Ketiga, komunitas bisa memberikan manfaat ganda, yaitu untuk anggota dari komunitas itu sendiri dan juga bagi objek yang menjadi sasarannya. Manfaat ganda tersebut salah satunya bisa didapat dari komunitas yang bergerak dalam kegiatan sosial, seperti memberi pengajaran terhadap orang-orang yang membutuhkan. Anggota dalam komunitas itu akan senantiasa meningkatkan kemampuannya agar bisa memberikan pengajaran yang lebih, sedangkan objek yang menjadi sasarannya akan mendapat ilmu dari apa yang diajarkan. 

Dalam menjelaskan hal ini, saya memberi contoh yaitu Program Rumah IYA (Indonesia Youth in Action). Komunitas ini bergerak dalam kegiatan sosial untuk memberikan pengajaran bagi anak-anak difabel, khususnya penderita tuna rungu. Saya pernah ikut dalam kegiatan tersebut, walau hanya sebentar. Para anggota di komunitas itu memiliki hobi dan bakat di beberapa bidang, seperti komputer, fotografi, modeling, dan juga menjahit. Sehingga anggota yang memiliki kesamaan bakat tersebut akan mengajar anak- anak tuna rungu yang tertarik dengan hobi atau bakat mereka. 

Langkah yang ditempuh oleh Program Rumah IYA tersebut dinilai cukup efektif. Karena bakat atau hobi yang dimiliki oleh para anggotanya bisa disalurkan terhadap lingkungan sosial di sekitar mereka. Hal ini menunjukkan bahwa hobi atau bakat yang kita miliki tidak seharusnya hanya dinikmati keuntungannya oleh diri kita sendiri. Akan sangat lebih baik bila semua itu bisa dibagi dan memberikan manfaat bagi orang lain yang membutuhkan, sehingga mereka tidak perlu takut lagi untuk bermimpi dan meraih impiannya. 

Selain Program Rumah IYA, contoh yang dapat menjelaskan mengenai manfaat ganda dengan membentuk sebuah komunitas adalah Komunitas Sepeda Gunung Cihuni Bike Community. Menurut Taufik, salah satu penggagas adanya komunitas ini, pihaknya bersama teman-teman lain yang sudah lama bergelut di dunia sepeda, tidak hanya ingin menjadikan hobi mereka berhenti sampai di kegiatan itu-itu saja. Mereka ingin menjadikan komunitas ini lebih bermanfaat bagi kalangan sekitar dengan menggelar kegiatan sosial. Sehingga kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan bakti sosial secara rutin mereka laksanakan[2]

Manfaat yang didapat oleh anggota Komunitas Sepeda Gunung Cihuni Bike Community dengan melakukan kegiatan sosial tersebut adalah kepuasan dan kebanggaan. Kepuasan karena bisa memberi kontribusi dalam mencetak generasi-generasi penerus yang berkualitas dan juga bangga bisa ikut membantu mengurangi beban orang-orang yang membutuhkan. Bentuk dari manfaat ini memang tidak bisa diwujudkan dengan materi. Namun rasa puas dan bangga karena telah menjadi orang yang berguna untuk orang lain, tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Yang bisa menggantikan hanyalah ketika melihat mereka sukses dan bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.

Sedangkan manfaat yang didapat oleh objek sasaran dari komunitas sepeda tersebut tentunya adalah bisa meringankan beban ekonomi yang dimiliki dan ujungnya adalah berdampak pada peningkatan semangat hidup yang lebih tinggi.

Contoh manfaat ganda yang lain adalah adanya Komunitas Pemburu Hama Bajing asal Kediri. Awalnya, anggota dari komunitas ini adalah pemburu burung. Namun, setelah terbit perda larangan berburu burung di Kabupaten Kediri, mereka tidak lagi berani menyalurkan hobinya. Kemudian mereka mencari solusi agar bagaimana caranya menyalurkan hobi, tetapi tetap bermanfaat bagi masyarakat. Akhirnya ketemulah bajing alias tupai sebagai sasaran. Sebab, hewan pengerat itu dianggap sebagai hama, terutama bagi para petani kelapa[3].

Sehingga, manfaat ganda yang didapat dari adanya komunitas ini adalah yang pertama, bagi anggota dari komunitas itu sendiri. Hobi berburu mereka bisa tersalurkan. Kemudian yang kedua adalah bagi alam dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Karena hama yang selama ini meresahkan masyarakat dan merusak lingkungan, bisa berkurang bahkan dimusnahkan. Untuk itu, bisa dikatakan bahwa hobi berburu dari anggota Komunitas Pemburu Hama Bajing tersebut mempunyai manfaat ganda baik untuk internal maupun eksternal mereka. 

Berangkat dari beberapa alasan serta contoh di atas, saya yakin, ketika sekelompok orang yang membentuk sebuah komunitas tertentu, mereka tidak hanya akan berorientasi untuk memikirkan cara agar visi, minat, hobi, atau bakat mereka tersalurkan. Namun pastinya ada rencana juga untuk bagaimana caranya, kesamaan bakat, hobi, minat, atau visi yang mereka miliki, bisa berguna bagi alam maupun masyarakat di sekitarnya. Untuk itu, tidak akan sia-sia apabila banyak terbentuk komunitas di tengah-tengah masyarakat. Karena secara tidak langsung, komunitas itu adalah wujud kepedulian dari para anggota yang ada di dalamnya untuk bangsa dan negara.

Selain berbicara tentang peran dari terbentuknya sebuah komunitas, di awal saya sudah menjelaskan bahwa “Gerakan Berbasis Komunitas” ini perlu melibatkan peran pemuda di dalamnya. Hal ini didasarkan pada pemikiran tentang idealisme serta semangat dari pemuda yang begitu tinggi. Ketika seorang pemuda memiliki kemauan yang besar terhadap sesuatu, maka dia akan berusaha menggapai apa yang diinginkannya tersebut. Bahkan wejangan dari orang tusa sering tidak dihiraukan. Sehingga dengan idealisme serta semangat itulah, pemuda memiliki peran sebagai iron stock dan juga agen of change, yang menyebabkan mereka dijadikan sebagai tumpuan bangsa untuk membawa perubahan bagi negara ini. 

Kita tentu ingat dan tahu bagaimana peristiwa tahun 1998. Para pemuda yang memiliki ambisi besar untuk menggaungkan semangat reformasi, terbukti mampu menggulingkan tirani pemerintahan Soeharto selama 32 tahun. Mereka tidak sedikit pun takut atau gentar untuk berteriak dengan lantang menuntut Soeharto agar turun dari jabatannya, menduduki Gedung DPR selama 6 jam, dan bahkan rela mengorbankan nyawanya di hadapan senapan tajam para anggota TNI. 

Oleh sebab itu, dengan idealisme tinggi yang dimiliki oleh para pemuda, akan sangat berguna bila ditempatkan pada wadah yang tepat. Percuma memiliki semangat tinggi namun tidak punya tempat untuk menyalurkannya. Sebenarnya ada banyak ruang untuk mereka bisa menyalurkan ide ataupun melakukan aksi sosialnya. Seperti dengan menulis artikel di media massa, melakukan aksi, aktif dalam organisasi kemahasiswaan atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan tidak terkecuali adalah dengan membentuk komunitas.

Dengan demikian, bila peran dari komunitas serta peran yang dimiliki oleh pemuda disatukan melalui “Gerakan Berbasis Komunitas”, saya yakin, kualitas sumber daya manusia yang ada di negara ini akan semakin meningkat. Para pemuda yang memiliki kesamaan visi, minat, hobi, atau bakat disatukan dalam suatu komunitas tertentu, sehingga semangat perubahan dalam diri mereka akan memiliki wadah atau alat yang tepat untuk menyalurkannya. Mereka bisa melakukan berbagai kegiatan sosial dengan segala bentuknya, guna memberikan dampak positif tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk alam dan masyarakat. 

Meningkatkan kepedulian pada sekitar tidak akan menjadikan kita rugi. Justru keuntunganlah yang akan selalu kita dapatkan. Keuntungan untuk alam, diri kita sendiri, maupun bagi orang lain. Oleh karena itu, semoga saja sumber daya alam di Indonesia bisa lebih unggul dengan titik tolak peningkatan sumber daya manusia melalui peran pemuda dalam “Gerakan Berbasis Komunitas” ini. Amin. Semangat perubahan.



[1] Giddens, Anthony, The Third Way: Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999.
[2] Diakses dari https://m.facebook.com/note.php?note_id=10150337235261717, pada tanggal 14 Januari 2014 pukul 15.34 WIB.
[3] Radar Kediri edisi Sabtu 25 Januari 2014 hlm. 39.

SHARE THIS

0 Comments: