Thursday, December 12, 2013

Sejarah Singkat Wartawan dan Wawancara Pertama


Oleh: Intan Aida
 

Wartawan dan wawancara pertama
Surat kabar pertama diterbitkan di Cina 600 tahun SM. Nama surat kabar itu adalah King Piao. Jadi, orang Cina pula pembuat dan penemu msin cetak pertama. Lima abad kemudian, 59 tahun SM di Roma lahir surat kabar Acta Diurna. pada abad pertengahan, Cajus Julius Caesar (100-44 SM) penguasa di Roma, memerintahkan semua keputusan senat ditempelkan pada sebuah dinding di muka dalam gedung. Sejak waktu itu, ada ketentuan, “Tiada suatu undang-undang atau peraturan yang boleh berlaku jika tidak lebih dahulu disiarkan kepada rakyat!”

          Pemberitahuan yang ditempelkan di ruang muka senat terbuka bagi semua rakyat. Pada zaman modern ini, dapat disamakan dengan berita-berita resmi yang dikeluarkan pemerintah. Pada zaman pemerintahan kolonial di Indonesia, berita dan peraturan dari Gubernur Jendral disiarkan secara resmi di Javasche Courant. Di Belanda sendiri, berita resmi kerajaan disiarkan pada Nederlandsche Staats Courant. Setelah merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia menyiarkan peraturan dan undang-undang yang disahkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.
 
Wartawan
       Di atas kertas yang ditempelkan pada dinding senat di Roma itu tertulis perkataan Acta Senatus, semata-mata iinya mengumumkan peraturan-peraturan yang diterapkan pemerintah. Semula bagi mereka yang berkepentingan dengan pengumuman atau berita-berita resmi negara, secara langsung datang membacanya. Lama-lama para tuan tanah di Roma tidak sempat lagi mampir hampir setiap hari, datang melihat pengumuman itu. Mereka menyuruh pegawai atau bawahannya untuk datang ke gedung senat, mencatat dan menyalin sesuatu yang disiarkan dalam Acta Senatus.
          Mereka yang disuruh mencatat itu, pada akhirnya punya pikiran “komersial”, dengan memperbanyak catatan yang disiarkan sejak itu, nama Acta Senatus secara otomatis berubah menjadi Acta Diurna, yang secara harfiah berarti “catatan harian”. Kemudian, terjadi hubungan antara “penerbit” dan “pembaca” dan mereka yang berkepentingan membayar secara langsung. Adapun orang yang bekerja pada Acta Diurna dinamakan diurnaii, searti dengan pewarta, penjurnal, atau wartawan alias jurnalis.
         Dalam keadaan demikian, terjadi persaingan diantara diurnaii. Kemudian, mereka menggabungkan diri pada kelompok-kelompok penerbit. Setiap penerbit saling  bersaing untuk memberikan atau mengantarkan secara cepat copy-an kepada pelanggan.
        Makin meluasnya penerbitan Acta Diurna, berita-beritanya tidak banya memuat pengumuman resmi Acta Senatus, tetapi dimuat juga berita yang bersifat kejadian sehari-hari di luar pemerintahan, di kota Roma dan sekitarnya. Para pembaca semakin tertarik karena mengetahui kejadian setiap hari.

Wartawan pertama
         Dalam buku Over de Krant, W. N. van der Hout menulis, wartawan pertama di dunia adalah Julius Caesar dengan penerbitan Acta Senatus-nya, tetapi Kaisar Augustus mempunyai bakat besar menjadi redaktur, sekaligus pemilik surat kabar. Karena zaman kaisar Augustus perhubungan pos diperbaiki, pengiriman surat kabar bertambah lancar dan cepat.
           Zaman pemerintahan Augustus, dikatakan orang istimewa mengantar dan mengambil surat-surat pada kantor konsul. Kabar ini juga yang menginstruksikan pembangunan pos tempat menerima surat beragam berita, selanjutnya diteruskan secara bersambung. Kaisar Hadrianus yang menggantikan Augustus, melanjutkan usahanya dengan disempurnakan. Sampai pada abad ke-4 SM, penerbitan koran Acta Diurna di Roma terussemakin berkembang.
 
Wawancara pertama
          Pada zaman Julius Caesar dengan koran Acta Senatus, setelah para diurnaii (jurnalis) menambah isi dengan berbagai berita kota, muncul gagasan untuk menambah dengan berita-berita lain yang memang dibutuhkan. Tujuannya tidak saja bagi kepentingan komersial, juga untuk saingan yang semakin berat.
           Kota Roma yang sejak dahulu dikenal dengan pemeo dunia: “Banyak jalan menuju Roma....” terkenal sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai negara. Sebagian besar pedagang yang datang ke Roma adalah saudagar dari Venetie (atau Venesia). Mereka menginap di hotel-hotel yang zaman itu masih disebut sebagai penginapan.
          Para dijurnalis mengambil kesempatan baik untuk mendapatkan bahan-bahan mengenai perniagaan dari negeri timur. Dari sinilah dimulai istilah wawancara, yang dipelopori oleh Julius Caesar, mengenai masalah ekonomi atau perniagaan.
             Lama ke lamaan, para jurnalis melengkapi berita korannya dengan kejadian-kejadian di luar daerah. Berita-beritanya sudah mencakup berbagai hal perkembangan aktual saat itu. Cakrawala kalangan wartawan semakin pula berkembang dengan memikirkan tentang hal yang akan diisi guna melengkapi berita-berita korannya agar menarik perhatian pembaca. Dari sinilah mulai terjadi persaingan antarpenerbit surat kabar.

Sumber :
Z.K, Jingga. 2009. Bagaimana Menulis Berita?. Bandung: PT Puri Pustaka.

SHARE THIS

0 comments: