Wednesday, December 25, 2013

Pelacuran, Penyakit Masyarakat yang Tak Hanya Butuh Resep Tetapi Butuh Obat


Oleh : Chairunnisa Widya P.

Illust. Internet

Pelacuran. Suatu kata yang bahkan mendengarnya saja mampu membuat orang bergidik. Suatu profesi yang bahkan tak pernah dicita-citakan oleh banyak orang sebagai suatu profesi yang menjanjikan di masa depan. Suatu tindakan yang bahkan tak pernah dipandang positif oleh banyak orang.


Itulah sekilas gambaran pelacuran. Dimana selalu dekat dengan stigma negatif yang diberikan orang terhadapnya. Tak mengenal siapapun yang menjalaninya, pelacuran selalu dianggap tak bermartabat. Bonger (1967) mendefinisikan pelacuran sebagai gejala kemasyarakatan dimana wanita menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencaharian. Kenyataannya banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita pada akhirnya bersedia melacurkan diri sebagai suatu profesi. Faktor ekonomi merupakan faktor utama alasan seorang wanita melacur. Himpitan kebutuhan menjadi suatu alasan kuat pelacuran berubah menjadi suatu pilihan profesi. Tak hanya wanita dewasa saja bahkan anak-anak usia remaja banyak yang masuk ke dalam jerat amoral yang bahkan sudah menjadi bagian dari penyakit masyarakat sejak zaman nabi. Tetapi perlu menjadi catatan bahwa tak selamanya seorang wanita melacur karena himpitan ekonomi saja, faktor budaya pun menjadi suatu alasan lain mengapa pelacuran menjadi suatu pilihan. Dapat diambil contoh lewat penelitian yang pernah dilakukan Koentjoro pada tahun 2004 dimana pelacuran dianggap sebagai suatu hal yang positif, yaitu di daerah Indramayu. Pilihan seorang anak menjadi pelacur bahkan didukung oleh orang tua dengan diberi syukuran pula agar anak mendapatkan banyak pelanggan. Hal ini merupakan suatu tradisi yang memang sudah turun temurun menjadi bagian dari warisan budaya di daerah Indramayu.

Sebenarnya bukan salah mereka mengapa pelacuran saat ini marak terjadi dengan mulai dilegalkannya tempat-tempat prostitusi. Bukan masalah pilihan, tetapi himpitan. Para lelaki hidung belang yang menggunakan jasa mereka lah yang seharusnya perlu disoroti lebih lanjut. Ketika pelacuran banyak di­-garuk  oleh yang berwajib pun tak akan banyak berpengaruh ketika masih banyak lelaki yang haus akan nafsu birahinya. Penutupan tempat-tempat lokalisasi ataupun hiburan tak menjadi solusi yang cukup membantu ketika  tempat-tempat terselubung masih bisa menjadi pilihan. Disinilah solusi perlu ditarik bahwa kita sebagai masyarakat yang peduli dengan lingkungan sosial budaya, sudah seharusnya memanusiakan mereka yang berprofesi sebagai pelacur toh mereka pun juga manusia dimana tak hanya berhenti disitu saja, namun membantunya untuk bisa keluar dari jerat amoral ketika pelacur pun punya hati kecil yang inginkan sebuah “kesembuhan” dari apa yang dianggap masyarakat sebagai “penyakit”. Selain itu garukan tak hanya diberlakukan bagi pelacur saja namun penggunanya pun perlu ditindak lanjuti mengingat pelacuran tak akan pernah padam ketika konsumen masih setia dan tenggelam dalam euphoria nafsu duniawi semata.

Masalah sosial ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Dimana kita harus menyelamatkan mereka dari profesi yang banyak digunjingkan oleh masyarakat terutama remaja-remaja sebagai generasi penerus bangsa sehingga kebahagiaan sejati benar-benar diraih oleh mereka. Ingat bahwa keadaan merugi banyak diterima pelacur dibanding pengguna jasa mereka, anggapan negatif juga lebih melekat pada tubuh wanita dibanding lelaki dimana wanita melacur yang berubah menjadi wanita baik pun selalu diusik tindakan buruknya sekalipun melacur hanyalah sebuah masa lalu sedangkan lelaki pengguna jasa pelacur tindakannya pun hanya dianggap sebagai cerita belaka dan seakan-akan menjadi angin lalu. Perlu diingat bahwa pelacur tak sehina seperti yang dilabelkan masyarakat. Banyak alasan dan kecamuk perasaan yang mereka punyai. Butuh pikiran yang lebih rasional dimana judge tak seharusnya diberikan secara pukul rata karena setiap individunya mempunyai alasan masing-masing dan batin yang berbeda. Tak baik mengucilkan orang dan menghina orang semaunya toh mereka butuh dorongan dari kita sebagai masyarakat umum untuk turut serta bersama pemerintah mengentaskan prostitusi yang semakin kesini semakin marak dan dianggap sebagai suatu kewajaran yang semu. Bukan mendukung adanya kegiatan prostitusi hanya saja sudah seharusnya pelacuran tak hanya disembuhkan lewat resep berupa nasihat tetapi butuh obat berupa dorongan dan dukungan moril dari kita, masyarakat, dan pemerintah untuk lepas dari jeratan amoral tersebut.

SHARE THIS

0 comments: