Wednesday, December 18, 2013

Love Hate Relationship Indonesia-Australia



Oleh: Hapsari Retno Widanti

Hubungan antara Indonesia dengan Australia memanas akhir-akhir ini. Penyadapan pembicaraan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang dilakukan oleh Australia menjadi puncak panasnya hubungan bilateral kedua negara tersebut. Tidak hanya penyadapan pembicaraan presiden SBY di telepon, Australia juga dituding menyadap pembicaraan orang-orang penting Istana Negara tak terkecuali Ibu Negara Ani Yudhoyono. Sudah terbilang banyak peristiwa yang mencederai hubungan bilateral kedua negara ini. Sudah terbilang pula cara untuk mendinginkan hubungan antara Indonesia dengan Australia.

Hubungan antara Indonesia dengan Australia sebenarnya cukup dekat. Bahkan terhitung presiden SBY sudah tiga kali mengunjungi negara kanguru tersebut yakni pada tahun 2005, 2007, dan tahun 2010. Namun peristiwa penyadapan pembicaraan di telepon dan penolakan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott untuk meminta maaf pada Indonesia atas peristiwa tersebut bisa jadi akan mengakhiri hubungan istimewa Indonesia-Australia ini.
Kekecewaan pemerintah Indonesia terhadap Australia sebenarnya sudah sering terjadi. Banyak kasus yang membuat hubungan negara beda benua ini seperti orang yang memadu kasih namun sering bertengkar.Dilansir Tempo,berikut beberapa kasus panas-dingin yang melibatkan kedua negara ini.
1.Rudal Australia
Pemerintah Indonesia pada Agustus 2004 dibuat kecewa oleh Australia. Gara-garanya. Australia mengumumkan keputusannya membeli rudal udara ke permukaan, air to surface, senilai US$ 319. Rudal tadi dipasang pada pesawat tempur FA-18 Hornet dan pesawat patrol maritime AP-3C Orion.Rudal yang punya jangkauan tembak 400 kilometer itu mulai dipasang pada 2007-2009. Di saat bersamaan,dilakukan jajak pendapat yang hasilnya menyebutkan mayoritas warga Australia menganggap Indonesia sebagai ancaman terbesar. Indonesia pun berang. Juru bicara Departemen Luar Negeri,Marty Natalegawa waktu itu sampai harus mempertanyakan kemana rudal-rudal itu akan diarahkan. Keberadaan rudal itu dinilai memudahkan Australia menyerang kedaulatan Indonesia.
Pada September 2004, terjadi peristiwa bom di Kedutaan Besar Australia di Indonesia. Hubungan Indonesia-Australia pun kembai membaik. Pemerintah Australia waktu itu mempunyai kepentingan membantu mengungkap dalang peledakan bom.
2.Kunjungan Pertama SBY
Presiden SBY pergi ke Australia pada 4 April 2005. Ini merupakan kunjungan pertamanya sejak dilantik sebagai Presiden pada 2004. Kunjungan ini sempat tertunda karena gempa Nias. SBY pun akhirnya bertemu pemerintahan Australia. Kedua pimpinan negara sepakat, diantaranya mengenai pakta nonagresi dan tak menggunakan kekuatan militer atau secara damai dalam menyelesaikan setiap perselisihan. Pertemuan ini semakin memperbaiki hubungan Indonesia-Australia kala itu.
3.Kasus Schapelle Leigh Corby
Kasus penyelundupan mariyuana oleh warga negara Australia, Corby, kembali memanaskan hubungan Indonesia-Australia setelah kedatangan Presiden SBY ke Australia.Pada 28 Mei 2005, pemerintah Indonesia dikecam karena pengadilan Indonesia memvonis Corby dengan 20 tahun penjara. KBRI dan Konjen Indonesia di Australia sampai mendapatkan terror. Puncaknya ketika KBRI di Canberra mendapatkan kiriman berisi bakteri berbahaya yang diduga antraks. Ancaman kali ini ditanggapi lebih serius dengan mengisolasi seluruh staf. Australia pun mendekati Indonesia untuk membatalkan hukuman Corby. Pada Juni 2005, delapan anggota parlemen Australia menemui Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda. Beberapa bulan kemudian, Oktober 2005, Pengadilan Tinggi Denpasar mengurangi HUKUMAN Corby menjadi 15 tahun penjara.
Lima tahun kemudian, tepatnya 18 Desember 2010, kasus Corby kembali dimainkan oleh Australia. Pemerintah federal Australia mengeluarkan putusan yang merugikan Indonesia. Dalam putusannya, Australia memerintahkan Menteri Kehakiman Australia menunda penyerahan buron Adrian Kiki Iriawan serta asetnya untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Adrian terlibat BLBI Bank Surya yang merugikan negara Rp 1,9 triliun.

4.Presiden SBY Datang Ke Australia Lagi
Ini adalah kunjungan yang tak biasa.Kunjungan pada 8 Maret 2010 itu berbeda lantaran Presiden SBY diundang untuk berpidato di hadapan parlemen Australia. Hanya ada dua pemimpin negara yang pernah pidato di hadapan parlemen Australia. Keduanya adalah Presiden Amerika Serikat, George W. Bush dan pemimpin Cina,Hu Juntao.
5.Penyadapan
Hubungan Indonesia-Australia kembali memanas. Awalnya pada 19 November 2013, harian ABC dan Guardian Autralia memuat dokumen yang menyebut intelijen Australia menyadap telepon milik Presiden SBY dan Sembilan orang lainnya termasuk Ani Yudhoyono. Penyadapan berlangsung selama 15 hari pada Agustus 2009. Perdana Menteri Australia Tony Abbott sendiri hanya menganggapnya sebagai hal biasa. Namun penyadapan ini ditanggapi serius oleh presiden SBY, karena dinilai mencederai kemitraan strategis dengan Indonesia.
Melihat bahasa di atas, hubungan Indonesia-Australia dapat dikatakan ibarat love hate relationship dalam sebuah hubungan percintaan dua anak manusia. Sebentar akur, namun tak lama berselang kembali bertengkar. Sebenarnya, Indonesia dan Australia juga membangun kerjasama yang saling menguntungkan kedua negara satu sama lain, salah satunya menyangkut tindak lanjut terhadap pencari suaka dan  penanganan kasus penyelundupan manusia yang kerap terjadi di perbatasan kedua negara. Adapun Indonesia saat ini akan mengehentikan beberapa kerjasama dengan Australia untuk ditinjau ulang. Kerjasama akan dilanjutkan kembali setelah Indonesia memiliki kepercayaan dan protokol serta kode etik yang benar-benar dijalankan.Jalan keluar terhadap hubungan “percintaan” kedua negara ini adalah hanya harus saling menghormati satu sama lain guna mewujudkan harmonisasi kerjasama dan hubungan bilateral yang telah lama dibangun.

SHARE THIS

0 comments: