Wednesday, December 25, 2013

Indonesia krisis pemimpin atau masyarakat yang terlalu mainstream ?

Oleh : Waskito
     Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah “penyakit” yang selalu diderita oleh para pemimpin di negeri ini. Penyakit ini sering kambuh ketika mereka memperoleh jabatan pemimpin. Karena jalan yang mereka tempuh untuk memperoleh jabatan tersebut selalu diiringi dengan perilaku suap. Jalan alternatif yang selalu meng-instan-kan cara untuk memperoleh keinginan dengan pengorbanan kejujuran seseorang. Selalu saja keadaan mengalahkan niat baik seseorang untuk tetap jujur dalam setiap pekerjaannya.

       Pemimpin itu bukan dicari dari keinginan seseorang memimpin, tapi dicari dari seberapa banyak orang lain mempercayai kemampuannya. Kemampuannya untuk menciptakan sistem pemerintahan yang baik. Sehingga jabatan itu menjadi  sebagai kebutuhan rakyat  bukan keinginan pribadi. 

       Namun tak banyak orang di negeri ini yang rela untuk berkorban demi kepentingan rakyat banyak. Setiap mereka ingin dihargai sebagai layaknya seorang raja yang selalu dituruti keinginannya. Hal ini yang membuat Indonesia krisis pemimpin. Karena pemimpin bekerja untuk keinginannya, bukan untuk kebutuhan masyarakatnya.

       Sedangkan dari masyarakatnya, banyak yang mengerti dan paham bagaimana jabatan pemimpin itu bisa dijual dan dibeli. Dan sudah banyak juga yang menuntut perubahan, perubahan pemimpin maupun sistem yang diciptakannya. Berdemo langsung dan menyuarakan aspirasinya melalui media massa adalah segelintir upaya yang biasa dilakukan rakyat untuk menuntut keadilan. Akan tetapi penuntutan tersebut tak diiringi dengan kesadaran untuk meninggalkan budaya yang ditinggalkan “orang-orang jahat” jaman dulu. Seolah-olah mereka membenarkan apa yang ia tuntut untu terus terjadi sembari ia menuntut ketidak adilan. Entah kenapa, kadang terlintas pemikiran untuk orang-orang tersebut, bahwa mereka menuntut mereka yang sedang memimpin agar turun dari jabatannya sehingga bisa mereka ganti jabatannya dan mereka bisa kebagian kesempatan juga untuk berbuat yang sama. 

       Masyarakat kini sudah kehilangan arah dan pemikiran untuk percayakan kepemimpinan. Mereka terlalu terpaku untuk memenuhi kebudayaan yang yang terbentuk sejak dulu. Tak tahu harus kemana dan bagaimana menghadapi kebudayaan yang tersistem itu. Padahal bukan sistem yang menciptakan sifat manusia, tapi manusialah yang dapat menciptakan sifat sistem itu, jadi jangan salahkan sistemnya. Karena pemimpin yang baik itu selalu berangkat dari masyarakat yang baik pula.

SHARE THIS

0 comments: