Thursday, October 10, 2013

Stop Using “Autism” As a Joke!


Oleh : Diah Harni Saputri

Suatu ketika, saya sedang duduk bersama teman-teman di Public Space kampus—sebuah tempat yang sering digunakan oleh mahasiswa untuk sekadar ngobrol-ngobrol atau diskusi. Saat itu, di sebelah saya ada sekelompok mahasiswa juga yang sedang asyik ngobrol. Sebenarnya, saya sama sekali tidak tertarik untuk mendengar obrolan mereka, namun ada satu kalimat yang terlontar dari salah satu di antara mereka yang membuat saya sedikit tertegun; “Dia emang anak autis, sibuk sama hapenya sendiri, abis itu ketawa-ketawa sendiri. Hahaha!” kemudian mereka semua tertawa, saya tertegun. Sedih.

Rasa-rasanya, bukan sekali-dua kali kita mendengar orang-orang menyelipkan kata autis dalam obrolan mereka sebagai bahan candaan. Kata ‘autis’, selalu dikaitkan dengan orang-orang yang anti sosial dan sibuk dengan dunianya sendiri, tidak salah memang, namun hanya kurang tepat. Karena pengertian yang salah kaprah tersebut, masyarakat kini seolah-olah melakukan penyeragaman terhadap siapapun yang anti sosial dan sibuk sendiri dianggap autis. Tak jarang juga, ‘autis’ digunakan sebagai bahan sindiran seperti contoh kalimat yang saya sebut sebelumnya.
Tak hanya itu, penggunaan kata autis semakin terkenal ketika banyak penulis, entertainer, dan aktifis-aktifis lainnya yang menggunakan kata autis dengan tidak semestinya. Sehingga merebaklah kata autis sebagai kata yang merujuk pada keanehan, dan sikap anti sosial. Di Indonesia sendiri, sudah banyak contoh tulisan-tulisan yang bertujuan menyindir seseorang atau komunitas tertentu dengan menggunakan kata autis, seperti:
1.      "Autisme Sosial: "Penyakit" Ketidakpedulian di Kalangan Masyarakat" (Mohamad Soerjani, 2003)
2.      "Parpol dan Parlemen yang Autis" (Dedi Haryadi, 2005)
3.      "Parpol Idap Autisme Sosial" (Bima Arya Sugiarto, 2008)
Sungguh memprihatinkan, orang-orang yang tergolong kaum intelektual pun masih saja menggunakan kata autis sebagai bahan sindiran. Sebagai orang yang terlahir normal, tak sepantasnya kita menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan.
Menurut Baron & Cohen, “Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi normal. akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif” (Baron-Cohen 1993). Pengertian lain menyebutkan, autisme adalah perilaku anak-anak yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, sehingga tidak mempedulikan apa yang terjadi di luar “keasikannya”. Autis bukanlah gangguan kejiwaan, bukan juga keterbelakangan mental. Anak-anak yang autis hanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, sehingga ia bisa melakukan hal-hal aneh di luar kebiasaan anak-anak seusianya.
Di bawah ini, ada sebuah cerita yang saya sadur dari forum.indogamers.com tentang kehidupan seorang ibu yang harus susah payah menjaga putranya yang autis.
“Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah? anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat berisi apa saja yang dia cocok untuk tubuhnya, reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?
Diusia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku, Eh, gak lama kemudian dia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuh ULAT BULU. Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah, dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.
Baru saja hendak memasak, tiba-tiba kudengar jeritannya. Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.
Aku keruang setrika dan disana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih nempel di atas punggung tangan kirinya!
Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu. Sumpah kalau saja ini bukan anakku, aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan. Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu. Itu sudah berubah menjadi putih kekuningan. Dan luka di tangannya juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang."
Setelah membaca cerita di atas, tentu kita menjadi lebih tahu, betapa sulitnya merawat anak autis. Betapa kita harus ekstra hati-hati dalam menjaga mereka, mulai dari makanan hingga aktifitasnya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita menggunakan kata ‘autis’ dengan seenaknya, apalagi digunakan sebagai bahan olok-olokan. Selain tidak pantas, penggunaan kata ‘autis’ sebagai bahan candaan ataupun sindirian juga akan menyakiti hati mereka para orang tua atau siapapun yang anggota keluarganya mengalami autisme.
Terakhir, peduli autis tak melulu harus dilakukan dengan langsung terjun ke lapangan. Dengan mencoba menghargai mereka yang terkena autis dan tidak menggunakan kata autis sebagai bahan candaan pun bisa menjadi salah satu indikasi bahwa kita peduli terhadap penderita autis.



SHARE THIS

0 comments: