Thursday, October 13, 2011

Ada Monster di Perut Pacarku

Ia menangis. Menangis sesenggukan. Menandingi suara hujan deras sore ini. Menyaingi gelegar petir-petir kecil. Tidak memekakkan tetapi cukup memilukan. Sama pilunya dengan perasaanku detik ini. Menyaksikan gadisku menangis. Padahal di luar suara anak-anak bahagia, ramai bermain hujan, berkecipakan berlari diantara genangan air.
Kutatap gadisku. Berkali-kali dihapus air matanya dengan punggung tangannya yang lentik. Tangan yang selama ini selalu mengusap lembut pundakku. Tangan yang selalu menggenggam jemariku, seolah ia tak butuh pegangan lain. Tangan yang setia menepukku dengan sayang ketika aku melakukan kelalaian. Tangan indah dari Tuhan.
Kini ia terpuruk tak berdaya. Wajah manisnya tenggelam diantara kedua lututnya. Senyum indahnya lenyap. Rambut sebahunya acak-acakkan tak karuan. Nafasya tersengal-sengal akibat tangisannya sejak sore tadi. Setelah kepergian kami ke kota kelahirannya.
Lalu apa yang kulakukan saat ini. Tak ada. Aku bingung. Ikut meratap. Menyaksikan gadisku menangis.
                                                      ***
Solo mungkin adalah jodohku. Bukan karena di sini tempatku bertemu dan menjalin kasih dengan gadisku, bukan pula karena di sini tempat teraihnya mimpi-mimpiku. Melainkan memang karena aku merasa ada ikatan batin dengan Solo Sang Kota Budaya. Solo yang sedang memanggul tugas sebagai sumber semangatnya Jawa. Solo Spirit of Java. Solo yang menjadi tujuan para turis. Solo yang menjadi salah satu asset termahal yang dimiliki Indonesia. Solo yang ini, yang sekarang kutinggali.
Tak pernah terpikirkan selintas pun olehku bahwa Solo akan menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak lahir di sini, tidak besar di sini, tidak pula pernah menimba ilmu formal di sini. Berbeda dengan teman-teman sekantorku yang beberapa memang berasal dari Solo dan sekitarnya, atau juga pernah kuliah di Solo. Aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan Solo sebelumnya.
Hampir dua tahun aku tinggal di sini, yang airnya menghidupiku, yang udaranya sumber nafasku, yang tanahnya tempat menjejakku. Solo seolah dengan tangan terbuka menerimaku sebagai salah satu anaknya. Solo yang eksotis.
Di bis menuju Solo setahun yang lalu itulah, aku bertemu gadisku. Di suatu siang terik yang terasa memanggang seluruh isi bis tanpa AC ini. Ada yang berdesir di dada ketika supir dengan seenaknya saja menyalip truk gandeng bermuatan gulungan kertas berukuran besar di depan. Istighfar, sumpah serapah dan makian lalu terlontar dari bibir para penumpang.
Di sebelahku, duduk seorang gadis yang hanya diam sembari mengelus dadanya, dari mulutnya terdengar menggumam sesuatu. Aku menoleh ke arah jendela, sembari mencuri pandang ke arah gadis ini. Beberapa detik kemudian diusapnya keringat di dahinya dengan punggung tangannya.
Bert-shirt hijau muda, bercelana jins, rambut dikuncir, memangku tas coklat kecil, bersandal jepit, mengenggam MP4 di tangan dengan headset yang terpasang di kedua telinganya.
“Kuliah mbak?” Tebakku, sok kenal. Mencoba berkenalan.
Ia menoleh, melepas headset di telinga kirinya, “Ya?”
Kulanjutkan lagi pertanyaaku.
Ia tersenyum mengangguk. “Iya.” Kali itu kulihat wajah ayunya. Wajah yang bersih tanpa make up.
 “Ambil apa?”
“Pendidikan Bahasa Indonesia.”
“Ooo…calon guru…” Ia tersenyum, “semester berapa?”
“Dua. Baru masuk tahun ini.” Jawabnya masih dengan senyum.
Kami kembali terdiam. Tapi tidak beberapa lama, ia melihatku. “Masnya? Kuliah juga?” Tanyanya. Jelas sekali berbasa-basi, mencoba menghindari dikira sombong.
“Kerja. Moso saya masih keliatan kaya anak kuliahan.” Aku mencoba bercanda.
Ia tersenyum. Lesung pipit samar nampak di kedua pipinya. Matanya ternyata bulat dengan kedua alis yang samar-samar menyatu.
“Kerja dimana?” Tanyanya lagi.
“Harian pagi di Solo.”
“Wah, wartawan dong..” Lanjutnya. Aku hanya tersenyum.
Percakapan kami sampai di situ. Sampai bis tiba di Tirtonadi, tak ada percakapan lagi, selain kata “Mari” dari kami. Lalu kami berpisah.
Nyatanya, tidak sampai di situ. Oleh Tuhan, melalui kuasa semesta dua orang anak manusia dipertemukan lagi. Beberapa kali secara kebetulan. Benar-benar sangat kebetulan. Sedangkan yang lainnya memang aku sengaja. Karena kemudian dari situlah pertemuan-pertemuan kami berlanjut. Selalu sengaja kuluangkan waktu diantara padatnya jadwal pekerjaanku hanya sekedar untuk mengajaknya makan. Mengajaknya jalan-jalan. Mengunjunginya di kosnya. Kadang-kadang juga nonton.
Entahlah, aku merasa bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamanya. Bisa apa adanya. Gadisku pun demikian, selalu menerimaku apa adanya.
                                                      ***
Telah setahun akhirnya hubungan kami terjalani dengan sempurna. Sampai akhirnya di suatu senja gadisku datang dari kota kelahirannya. Dia menangis. Aku yang baru pulang dari kantor, mendapatinya terisak di depan kamar kosku.
“Gadisku, kenapa?” Langsung kupeluk gadisku itu.
Tangisnya jadi makin pecah. Dipeluknya aku makin erat.
Setelah ia mulai bisa tenang di dalam kosku, ia mulai bercerita. Diusapnya sekejap air matanya.
“Aku mau kita nikah.”
“Ha??” Aku tersentak., “maksudmu?”
“Iya… aku mau kita nikah.” Gadisku lalu mulai menangis lagi.
“Ada apa sih ini….” Kataku gusar.
Dengan terbata-bata, gadisku mulai bercerita. Orang tua yang selama ini dan sampai kapanpun dihormatinya, selalu dibanggakannya di depanku mendadak menjadi orang yang paling gadisku benci. Percik amarah benar-benar nampak di kedua mata bulatnya. Kedua tangannya menggenggam, menandakan ia sedang sangat sakit hati. Wajah ayunya memerah.
“Aku akan dijodohkan dan aku tidak bisa menolaknya.”
Aku hanya terdiam. Rasa sakit mendadak terasa di ulu hatiku.
“Kamu ga bilang kalo kamu sudah punya aku?” Tanyaku pelan. Mencoba meredam rasa sakitku.
“Sudah. Aku bersikeras aku punya kamu.” Katanya tersengal-sengal. Kedua tanggannya terus mengusap air matanya.
“Lalu?” Tanyaku retoris.
Gadisku menangis lagi.
Gila. Ini jaman sudah jaman demokrasi. Dimana semua orang bebas menentukan pilihannnya. Presiden saja dipilih langsung. Tapi kenapa masih ada saja hal remeh semacam ini. Apa mereka tidak bisa belajar dari Siti Nurbaya, yang tidak bahagia karena begitu besar rasa hormatannya pada orang tuanya. Aku menghembuskan nafas panjangku. Gadisku masih menangis. Wajahnya benar-benar lelah. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis seperi ini. Yang sungguh berbeda dengan tangisanya ketika kami menonton film drama. Yang sungguh berbeda ketika ia menangis bahagia, karena salah satu tulisannya dimuat di media. Tangis gadisku yang sedang merintih sakit.
“Kamu gak minggat dari rumah kan?” Tanyaku hati-hati. Selintas pikiran buruk muncul dibenakku.
Ia menggeleng. Syukurlah.
“Lalu…kita mesti gimana?” Tanyanya menatapku.
Aku mendadak beku. Menikah? Gila gadisku… aku belum punya apa-apa…
“Kamu nikahi aku ya…”
Aku menahan napas. Gadisku menatapku penuh pengharapan.
“Kamu belum lulus, aku juga baru beberapa tahun kerja. Aku masih belum siap kalau harus menghidupimu. Lagi pula aku yakin, orang tuamu pasti tidak setuju.” Kataku hati-hati.
Ia menangis lagi. “Lalu kamu akan diam saja kalo akhirnya aku menikah dengan orang lain?” Katanya.
Aku kembali beku. Tentu saja tidak, gadisku. Aku menginginkamu. Sangat menginginkamu. Tapi kalau sekarang aku belum bisa. Aku melihat gadisku, ia masih mentapku menunggu jawabanku.
“Kita berusaha dulu meyakinkan orang tuamu, pasti bisa. Percaya aku.” Jawabku sembari mengenggam jemarinya.
Ragu-ragu, akhirnya gadisku pun mengangguk. Tangisnya parlahan reda. Ia mungkin percaya padaku. Tapi aku sendiri justru malah ragu.
                                                      ***
“Kamu gila! Kamu sudah gila gadisku!” Aku berteriak menanggapi usul gila gadisku.
Sore itu, kami pulang dari kota gadisku. Setelah menemui orang tuanya. Aku beritikad melamarnya. Atas desakan gadisku tentunya. Juga untuk menunaikan kewajibanku sebagai lelaki bertanggung jawab, seperti yang selalu diajarkan orang tuaku. Serta melepaskan segala keegoisanku, demi gadisku. Juga karena aku memang menginginkannya.
Dengan berbekal tekad aku datang menemui orang tuanya. Dengan rendah hati menyampaikan maksudku untuk melamar putri sulung mereka. Sambutan mereka pun sungguh sangat baik. Benar-benar sangat baik. Justru karena itulah, aku menjadi tidak enak hati untuk menyakiti mereka. Mereka memang menolak lamaranku untuk putri mereka, tetapi dengan halus. Dengan sopan, tanpa menyinggungku. Mereka bilang, mereka pun tidak enak padaku. Karena sudah terlanjur menjodohkan gadisku. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu, mereka mempunyai pilihan, seperti yang dikatakan gadisku padaku.
Dadaku sesak saat itu. Sakit. Tapi di lain pihak, aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin aku menyakiti orang yang sangat menyayangi gadisku, sampai-sampai mereka harus mengatur hidupnya. Sungguh ironis.
Aku pun mengalah. Menerima semua nasib hidupku bila memang tidak berjodoh dengan gadisku. Tapi gadisku menangis. Selama perjalanan pulang ke kota budaya ini, dia terus-terusan menangis. Tidak terima dengan sikap pasrahku. Padahal tentu saja, aku juga sakit. Karena aku sungguh sangat menginginkannya. Aku mencintainya.
“Kalo kamu cinta, kalo kamu menginginkan aku kenapa kamu gak mau memperjuangkan aku? Kamu gak serius ya?” katanya kesal dengan suara parau.
“Aku sudah datang pada orang tuamu, lalu melamarmu, berniat memperistrimu. Apa itu yang kamu bilang gak serius. Aku sangat menginginkanmu, sampai detik ini masih mencintaimu gadisku.” jawabku penuh tekanan.
“Lalu kamu kenapa gak memperjuangkanku. Kamu pasrah saja…” gadisku terisak lagi.
“Kalau kita memang jodoh, kita pasti akan bersatu.” kataku singkat. Kugenggam tangan gadisku, mencoba membuatnya percaya padaku. Bahwa aku sangat mencintainya, selalu menginginkannya.
Mendadak gadisku mengusap tangisnya tegas. Perlahan senyum mengembang di wajahnya yang memunculkan lagi samar lesung pipitnya itu. “Kita buat agar orang tuaku menyetujui hubungan kita. Mengijinkan pernikahan kita.”
“Maksudmu?” selintas pikiran buruk muncul di benakku.
Gadisku mengangguk tegas. Digenggamnya kedua tanganku. “Iya, kita buat agar orang tuaku mau tidak mau harus mau mengijinkan pernikahan kita.” ucapannya mengartikan sesuatu.
“Kamu gila!” Ucapku tegas, sembari menyentakkan genganggamannya.
“Tidak ada jalan lain, aku sangat menginginkan kamu.” lanjutnya dengan kembali menggenggam tanganku lagi.
“Kamu gila gadisku!! Kamu sudah gila! Kamu tau apa akibatnya nanti?”
“Justru itu yang aku harapkan. Aku ingin hamil. Aku ingin agar orang tuaku tidak memaksaku menikah kecuali denganmu.”
“Ini benar-benar ide gila. Aku tidak setuju. Tidak akan pernah setuju,” tolakku tegas.
Sayangnya, ucapanku yang terakhir kembali menghadirkan duka di mata gadisku. Ia menangis lagi. Sesenggukan. Melepaskan genggamannya. Duduk terpekur seolah merutuki dirinya kenapa ia harus bertemu aku, sampai ia mencintaiku, bahkan menginginkanku. Ia mungkin menyesal. 
Petir-petir kecil menggelegar menyertai hujan deras sore ini. Di luar, suara anak-anak bahagia, ramai bermain hujan, berkecipakan berlari diantara genangan air. Sedangkan di sini kami sama-sama tersakiti. Terpuruk tak berdaya atas garis hidup Tuhan. Dan tentu saja, aku tak sanggup melihat gadisku seperti ini.
                                                      ***
Lalu kali ini, aku bingung. Haruskah senang atau sedih ketika menerima kabar dari gadisku.
“Akhirnya kamu akan jadi bapak.” katanya riang di telepon.
Aku hanya diam. Sebelumnya memang aku sudah bisa membayangkan resiko apa yang harus kujalani. Tapi kali ini, mendadak semua menjadi kusesali. Pengorbananku terasa sangat besar ketika hanya ini yang kudapatkan. Tak ada kepuasaan yang kurasakan. Aku mendadak membenci gadisku. Yang menjerumuskanku ke jurang neraka, demi keegoisannya, pula keegoisanku semata.
Aku ragu, mungkin bukan anakku yang ada di perutnya. Tapi monster. Yang mengerikan. Yang mengharuskanku melanggar hati nurani hanya untuk mendapatkannya. Hanya untuk bisa bersama dengan gadisku saja. Ya… ada monster di perut pacarku.
Dan kini aku harus mengakui monster itu sebagai anakku. Yang cepat atau lambat harus kuhidupi ia dengan kerja keraskuku. Karena monster itu adalah memang anakku.



Alina Dewi Hartanti
Staff Kaderisasi 10/11



SHARE THIS

0 comments: