Sunday, July 25, 2010

Kenangan di Jababeka

Siang itu terasa panas sekali, matahari mengeluarkan semua cahayanya. Kutelusuri jalan yang sama ini setiap pulang berangkat kekampus dengan kakiku yang semakin perih karena sepatuku yang kekecilan. Sesampainya di loby kampus segar rasanya tubuh ini tersembunyi dari sinar matahari. Terlihat teman-temanku sudah datang dan duduk lesehan berhotspotan ria di loby yang entah mengetahui kedatanganku atau tidak. Terlihat sebuah pemberitahuan di papan pengumuman dekat mereka yang berisikan dibutuhkan 3-5 ’kataloger’ di Jakarta kontrak selama 10 hari. Entah kenapa saya tertarik dengan pengumuman itu dan langsung mencatat contact person yang ada di pengumuman tersebut yang ternyata sudah ada di hanphone saya dan nomor hape dosenku. Aku ingat betul hari itu tanggal 01 Juni 2010.
Sehari setelah itu saya menghubungi dosen saya dan janjian bertemu di ruang sekretariat D3 jam 10 pagi, karena saya dari jurusan D3 Perpustakaan jadi saya yakin pengumuman lowongan sebagai ’kataloger’ itu di tujukan kepada mahasiswa Perpustakaan. Ternyata sampai detik itu belum ada yang daftar untuk magang 10 hari di jakarta tersebut. Hal itu di sebabkan karena jadwal keberangkatannya sama dengan jadwal Ujian semester saya sehingga teman-teman saya tidak ada yang mendaftar dan tidak ada yang mau ku ajak karena enggan meninggalkan ujian semesteran,. Namun saya tetap mendaftar. Sehari setelah itu tetap tidak ada yang mendaftar meski saya mengajak teman-teman sekelas saya dan mengkabari kakak kelasku. Saat itu kakak tingkatkku sudah musim ujian kelulusan dan banyak yang sudah lulus dan banyak pula yang sudah dapat kerja meski masih menunggu wisuda dan ijazah belum keluar. Maklum jurusan Perpustakaan di Indonesia memang sepi peminat dan sedang banyak dibutuhkan.
Aku bingung harus bagaimana hingga hari terakhir pendaftaran tanggal 04 Juni 2010. dalam detik-detik terakhir dengan di bantu kakak kelasku mas Aditya akhirnya dia berhasil membujuk tiga temannya untuk ikut. Mas Aditya sendiri tidak ikut karena sudah mendapat pekerjaan di perpustakaan pascasarjana kampus ini. (@_@)

Seminggu sebelum berangkat aku menjalani rutinitas kuliah seperti biasa sambil meminta Ujian Akhir ku di majukan sebelum jadwalnya ke masing-masing dosen pengampuku. Cukup menyenangkan, tiga mata kuliah berhasil ujiannya aku majukan sebelum waktunya. Dan dosen yang lainnya menganjurkan agar saya ikut susulan saja. (@_@)
Tak terasa seminggu terlewati dan hari jum’at hari keberangkatan menuju pengalaman yang ku inginkan tiba. Waktu itu aku dan ketiga kakak tingkatku Dewi, Andrian dan soqib berkumpul di agen Rosalia Indah Sumber, Manahan pukul 15.00 dan didampingi kedua dosen kita. Baru beberapa saat bus supereksekutif no 209 itu berjalan saya langsung memakai selimut karena kedinginan. Sontak setelah itu kedua dosen dan ketiga kakak tingkatku yang belum cukup akrab langsung menoleh dan geleng-geleng,. Kalian nggak percaya kalau AC bis itu dingin sekali?? Buktinya mbak Dewi juga kedinginan sampai gemeteran setelah makan malam di Gombong. (@_@)
Saat perjalanan di dalam bus aku ingat kalau aku belum pamit rumah ke ayah ibu. Belum pamit kakaku yang di Surabaya. Belum pamit kakakku yang di Palur. Belum pamit kakakku yang di Cirebon. Belum pamit kakakku yang sedang di Sumbawa. Dan belum pamit kekakak-kakakku yang lainnya. Jangan kaget ya? Karena aku anak nomor ke-11 dari sebelas bersaudara.(@_@)
Dengan satu sms kirim kebanyak selesai sudah acara pamitannya, karena apabila aku pamitnya waktu aku masih di rumah pasti tidak diperbolehkan jika anak perempuannya ini pergi jauh-jauh,. Tapi kalau sudah berangkat baru kasih kabar begini mereka bisa berbuat apa? Hahahahaha (@_@)
Semenit sesudah aku kirim sms kekakak-kakakku panggilan masuk pun berdatangan ke hanphone ku. Sungguh tidak enak sekali karena aku pasti terdengar berisik karena sudah malam mengganggu tidur orang lain di Bus lagi, apalagi kakak-kakakku pada mengkonference telfonnya yang aku yakin bisa ngajak ngobrol lama sekali seperti jika aku dikamar kostan. Mereka pun mengeluarkan ekspresi kekhawatirannya. Sebenarnya aku ingin berbohong bahwa transport, penginapan dan makan belum di tanggung oleh sebuah Departement yang aku tuju agar mereka pada mengirimi aku uang. (@_@).
             Namun mendengar kekhawatiran mereka yang serius aku jadi tidak bisa berbohong dan aku bilang sejujurnya saja bahwa aku tidak akan keluar uang sepeserpun untuk kesana, selama disana dan sepulangnya dari sana.
             Sesampainya Di tempat tujuan, yang ternyata di daerah Jababeka kita langsung diantar ke Dementory dan di tunjukkan kamar masing-masing. Masih pagi sekali dan mata masih mengantuk. Melihat kasur yang empuk dikamarku aku langsung merebahkan diri. Namun kurang nyaman karena springbednya masih terbungkus plastik. Kulihat kursinya juga masih terbungkus plastik, semua furniture nya masih baru, bahkan bau catnya pun belum hilang yang membuat aku kurang nyenyak jika langsung tidur.
Setelah mandi pagiku yang lama karena aku belum tahu cara menggunakan shower, aku memasang sprei dan sarung bantal yang tersedia. Matahari sepertinya mulai naik dan aku buka tirai jendelaku yang warna dan bentuknya aku suka, tirai bewarna biru dilapisi kain  putih bersih yang lebut. Sungguh takjub aku memandang keluar. Sepi. Luas. Hijau. Semak. Lahan terabai. Semua bangunan di cabang Kementerian ini terlihat baru semua. Sungguh daerah yang mirip dengan tempat tinggal impian. Aku suka ketidak ramaian. Dibawah hanya terlihat satpam dan sedikit kendaraan yang berseliweran di jalan raya.

           Setelah sarapan pagi kita juga dikagetkan lagi dengan kondisi perpustakaan tempat kita akan bekerja sepuluh hari kedepan. Semua rak masih kosong. Semua buku baru dan masih terbungkus rapi. Bahkan kalau ditaruh di rak cuman satu rak gak penuh sehingga banyak rak yang masih kosong. Jauh dari bayangan kita. Kita bingung harus memulai darimana karena dipengumuman hanya tertulis ’kataloger’ jadi kita mengira perpustakaan yang sudah berjalan dan tinggal dikembangkan serta dijalankan.
       Langsung saja pak dosen mendiskusikan cara pengelolaan apa yang akan kita pakai. Hingga akhirnya kita semua sepakat untuk di otomasi perpustakaan saja agar cepat karena apabila dilakukan secara manual juga akan memakan waktu yang banyak sedangkan waktu kita cuma 10 hari. Untung ujian semesteran matakuliah otomasi perpustakaanku sudah kumajukan jadi aku masih ingat dan belum banyak lupa apa yang diajarkan. Setidaknya aku sedikit banyaknya sudah paham cara memperoleh software Senayan yang Opensource dan cara menggunakannya. Akhirnya setelah senayan dapat di akses dari semua komputer yang ada diperpustakaan kita pun langsung mengklasifikasi satu demi satu tumpukan buku yang ada. Kita inputkan ke Senayan, di Inventaris, di beri barcode, dilabeli sampai pengecapan dan shelving. Jadi semua pekerjaan perpustakaan kita kerjakan semua bukan hanya mengkatalog.
Sehari setelah bekerja dosen kita pulang ke Solo karena harus mengajar dan ada urusan lainnya juga pasti. Kebiasaan buruk kita selama disana adalah kerja sampai hampir magrib. Sehabis magrib tanpa mandi dahulu pada bermain pingpong atau basket dengan korean people yang satu dementory dengan kita. Setelah makan malam jalan-jalan keluar entah kemana yang penting keluar, setelah itu kalau tidak lembur bersama malah nonton piala dunia sampai larut malam. Bahkan kadang sehabis lembur masih pada nonton piala dunia sampai pagi. Dan Al hasil, tratatatatatatatatat,..... Paginya bangun jam 8 pagi,. Jam 9 sarapan dan jam 10 kadang baru berangkat kerja. Mentang-mentang ne cabang Kementerian belum ada aturan, belum diresmikan dan pegawainya yang baru 14 (dah termasuk satpam dan cleaning service) jadi meski kita seenaknya gak ada yang tahu. (@_@)
Meskipun pulang dan berangkat kerja sesuka hati namun kita bekerja dengan senang hati. Suasana positif pun mereka timbulkan dan selalu bercanda tawa yang sangat berbeda dengan image perpustakaan dimasyarakat yang ada sekarang. Dimata masyarakat seorang Librarian, pustakwan atau lebih sering disebut penjaga perpustakaan hanya dipandang sebagai seorang yang malas, galak, jarang tersenyum dan berwajah pucat karena jarang terkena sinar matahari. Sungguh kita ingin mengubah image itu.
Malam kedua setelah kita bekerja aku dan mas Andrian keluar sekedar mencari camilan di minimarket, namun saat dijalan aku meminta mas Andrian untuk membelokkan motornya ke arah yang berlawanan dari minimarket dan malam kita muter-muter kota Jababeka tanpa helm. Sungguh kota yang tertata rapi, indah dan masih sepi dari hiruk pikuk langsung memikat hatiku dan mas Andrian. Seketika itu aku tanya mas Andrian;
”Kamu pilih Jababeka ini atau UIN Jogja?”
Yang saat itu ia mendapat tawaran kontrak di UIN Jogja yang di kenal sudah canggih. Berada di kota Jogja yang sebenarnya tergolong kota tujuan pariwisata. Sontak aku kaget waktu mas Andrian menjawab; ”Aku ingin tinggal disini, memang perpustakaan UIN Jogja canggih, tapi aku suka daerah ini, kita kembangkan saja perpustakaan ini menjadi secanggih di UIN atau di UI.”
Setelah cukup puas muter-muternya kita ke minimarket, sesampainya di dementori ternyata mas Soqib dan mbak Dewi juga mengungkapkan kesukaannya kepada daerah ini.
Di dementori tempat aku tinggal, juga tinggal karyawan asal klaten dan 2 korean people. Suatu malam saat makan malam dan nonton tv bareng semua kumpul, aku bilang ke mas Andrian dan mbak Dewi bahwa Chang Hee Jung salah satu korean people yang baru berumur 23 tahun itu cakep sekali dan bibirnya imut. Sontak aku kaget waktu mas Andrian bicara sama Chang tiba-tiba dia bilang; ”Chang, Rohana ’sarang heok’ (suka/cinta) sama kamu.” yang sebelumnya sudah bertanya dulu pada pakdhe Yong apa bahasa Hangulnya cinta. Aku langsung bilang kalau mas Andrian bohong, tapi suasana semakin menjadi karena semua yang di situ akhirnya bilang ke Chang kalau aku suka dia dengan suara keras dan nada yang lambat, maklum karena mereka berdua belum fasih berbahasa Indonesia. Berapa lama kemudian mr. Chang bicara; ”Rohana, ji ka ka mu su ka sa ya, ka mu ting gal di Jababeka agar ki ta se ring ber temu, se ko lah ka mu pin dah ke de pan sa ja,.” sambil menunjuk kedepan karena depan dementori kami adalah President University. Dalam hati, lucu banget, bahasa inggris saja aku tak bisa mau pindah kesana,. Emangnya di PU ada jurusan perpustakaan???? (@_@)
”Mr.Chang, saya kan belum bekerja, kalau saya tinggal dan sekolah di sini saya makan apa??”
”Nanti saya traktir,.”
”traktir setiap hari?”
”Ya.”
Ya ampun ya ampun ya ampun, ne bule bikin gemes aja.
 Sehari sebelum kita pulang ke Solo, kita berencana bersenang senang dulu di waterboom. Saat pakdhe Yong mampir ke perpustakaan dan membuat teh, saya mengajaknya untuk ikut kita main ke waterboom. Mas Andrian juga mengajak mas Chang agar ikut. Namun hari itu adalah hari kerja. Entah mengapa atau karena kesulitan bahasa waktu mr.Yong dan mr.Chang minta ijin untuk tidak kerja lama banget, sejam lebih. (@_@)
Selasa itu akhirnya kita berangkat kewaterboom kecuali mas soqib yang sudah pergi duluan paginya ke rumah familinya di Cibitung. Kita berangkat naik bus besar milik dinas padahal kita cuman berlima. Sudah dibilang mentang mentang balum ada aturan kemana mana memakai bus itu solar juga dari perusahaan meski hanya sekedar keluar makan ke Hik,. Oh God
Banyak hal yang terjadi dan tak terlupakan di waterboom. Sungguh menyenangkan moment-moment saat itu. Aku ingat ada sales cantik mempromosikan kartu perdana ke pakdhe Yong dengan bahasa Indonesia yang baik, benar dan CEPAT. Aku melihat kemata pakdhe Yong yang pasti kebingungan karena dia belum bisa di ajak berbicara bahasa Indonesia dengan nada cepat. Mas Chang pun menjelaskan ke pakdhe Yong maksut dari sales cantik, tinggi dan belakangan diketahui baru beumur 17 th dan bernama Mendy itu dengan bahasa Hangul dan gentian tanda Tanya yang memenuhi otakku.
Setelah cukup akrab Mendy meminta nomor hp mas Chang dan mas Chang hanya memperlihatkan nomor pada kartu perdana yang di belinya dengan terpaksa itu. Ternyata mas Chang welcome banget dengan orang-orang yang ingin kenal dengan dia dan suka bermain-main sama anak-anak waktu di waterboom. Melihat mas Chang memberikan nomor handphonenya ke Mendy, mas Andrian langsung berbisik padaku; “Ternyata sainganmu banyak.” Sambil cengar-cengir.
Diantara kita hanya aku yang tidak bisa berenang dan duduk dipinggir kolam. Mas Chang menghampiriku meyakinkanku agar tidak takut air dan aku di tarik ketengah kolam olehnya dan di ajari bagaimana caranya berenang. Malas belajar karena sudah cukup lama aku diajarinya tapi aku belum bisa berenang juga akhirnya aku lari dan main perosotan pakai ban sama mas Andrian yang pada akhirnya mereka semua ikut-ikutan main perosotan.(@_@)
               Kita bersenang-senang di waterboom hingga lupa waktu dan tak terasa sudah jam 1 siang. Jam 2 kita siap-siap pulang dari waterboom dan mampir beli tiket Bus untuk pulang ke Solo. Sebelum pulang ke Dementori kita makan dulu dan hari itu hari Chang karena dia yang bayari semua.
Sampai di Dementori kita berpamitan kepada semua dan diantar dengan Bus itu lagi ke agen perjalanan. Saat di terminal mas Chang menginginkan agar kita tidak pulang hari itu juga, namun tiket terlanjur di beli. Dan akhirnya kita berpisah.
Didalam bus menuju Solo aku, mbak Dewi dan mas Andrian terngiang-ngiang saat-saat di Jababeka. Rasanya tidak mau pulang dan ingin balik aja. Hingga akhirnya dengan Pdnya kita bilang, ”Oke kita pulang, kita seleseikan dulu urusan kita di Solo baru kita kembali lagi kesana.”
Esok paginya kita sampai di terminal Tirtonadi dan berpisah kerumah masing-masing. Berhubung mas Andrian dan Mbak Dewi sudah tidak ada kuliah jadi selama seminggu lebih aku tidak bertemu mereka di kampus. Aku juga sibuk dengan ujian semesteranku dan permintaan susulan ujian semesteranku yang terbengkalai selama aku tidak di Solo.
Seminggu lebih tidak bertemu mbak Dewi dan mas Andrian dan hanya berhubungan dengan sesekali sms rasanya kangen banget. Suatu malam mbak Dewi sms aku katanya dia mau mencari surat keterangan kelulusan untuk melamar kerja, karena jika tidak melamar kerja dan hanya menunggu panggilan dari Jababeka dia akan menganggur. Beruntung kalau dipanggil, kalau nggak kan malah mengganggur lama. Kebetulan juga ada lowongan pustakawan di Akbid. Waktu itu rabu 30 Juni tepat liburan semesteranku di mulai. Aku kekampus menemani mbak Dewi mencari SK kelulusan dan minta tanda tangan kesana-sini, hingga akhirnya berlabuh istirahat di lobi karena kajurnya sedang mengajar suatu test sekalian minta foto-foto waktu kita di jababeka di laptopnya mas Andrian. Usai mendapat tanda tangan Kajur Prodi Perpustakaan kita ke bagian pendidikan terus keruang dekan.
Habis itu kita tidak langsung pulang kerumah namun jajan es cream dulu di belakang kampus. Sambil ngobrol-ngobrol setelah seminggu lebih tidak bertemu. Mbak Dewi yang akan melamar kerja karena gak dapet-dapet panggilan dari Jababeka. Mas Andrian yang bingung mau menerima tawaran UIN Jogja apa tidak, melanjutkan S1 Perpustakaan di Undip atau tidak karena panggilan tak kunjung-kunjung datang dia jadi bingung. Kalau daftar S1 sekarang dan ternyata dipanggil ia akan kehilangan banyak uang karena sudah daftar. Tapi kalau tidak mendaftar dan ternyata tidak mendapat panggilan keduanya malah akan melayang. Ketidakpastian ini membuat mereka sedikit resah.
         Selesai makan es cream kita kembali kekampus namun mas Andrian pergi badmintoon dan menitipkan laptopnya dititipkan aku. Saat aku dan mbak dewi berhotspotan ria di lobi aku melihat dosenku yang dulu mengantarkan kita pada Jababeka. Langsung saja aku sapa beliau dan ternyata beliau membawa kabar gembira untuk kita yang pernah magang di Jababeka. Mbak Dewi pun seketika batal melamar menjadi pustakawan di Akbid.
Malamnya waktu mas Andrian ke kostku buat mengambil laptopnya aku kasih kabar gembira yang dibawa dosen kita tadi padanya. Ia senang sekali. Jadi batal juga ia daftar S1 Perpustakaan transfer di UNDIP, hehehehee
Ia juga menanyakan bagaimana kuliahku jika aku ikut pelatihan selama 2 minggu dan langsung kerja disana. Dengan mencoba santai dan tenang aku menjawab aku akan ambil cuti akademik selama 1 th. Ya itu keputusanku. Meski urusanku di Solo masih banyak dan aku masih sedikit bingung.
Aku semakin yakin dan ingin ambil cuti akademik (selang) karena ayahku yang sudah berusia 70th lebih senang sekali jika aku kerja. Selain itu jika aku pergi se enggaknya ayahku tidak perlu membayar 100% SPPku, tidak perlu membayar kostku, dan tak perlu membiayai kostku di Solo.
I am coming Jababeka.
I will Back Solo.

01 Juli 2010

SHARE THIS

0 comments: